Kamis, 22 April 2010

tugas makalah,asbid patologi,MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGIS KELAINAN DALAM LAMANYA KEHAMILAN ,kelompok 2

MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGIS
KELAINAN DALAM LAMANYA KEHAMILAN

KELOMPOK 2
Tasliyah Noor Ningtiyas
Annisa Margareta Sari
Melawati Arsan
Riska Burhan
Kiki Indrayanti
Mardiani
Ita Susvita Sari
St.Suhurah
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PRODI KEBIDANAN
2010

Kata Pengantar

Puji Syukur senantiasa kami kirimkan ke hadirat Allah SWT,yang telah memberikan kami kesehatan ,kesempatan,dan kemauan hingga kami dapat menyelesaikan makalah ini .Sholawat dan taslim tak lupa pula kami kirimkan ke junjungan Nabi besar Muhammad SAW.Nabi yang telah membawa kita kembali ke jalan Allah SWT,hingga kita dapat menikmati indahnya Dinul Islam .
Makalah ini berisi tentang kelainan dalam lamanya kehamilan, antara lain prematur, postmatur, IUGR ,dan KJDR.
Kami mengucapkan bayak terima kasih pada semua pihak yang telah turut membantu hingga makalah ini dapat terselesaikan .Terlepas dari itu semua ,kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan .Karena itu segala kritik dan saran yang mendukung guna makalah ini menjadi lebih baik ,sangat kami harapkan.
Akhir kata ,mohon maaf bila ada kata kata dalam makalah ini yang menynggung perasaan dosen maupun kawan kawan.Karena kami tidak lepas dari kesalahan
Makassar ,15 Maret 2010
Penyusun






ii
Daftar isi
Halaman awal.................................................................................................................................i
Kata pengantar................................................................................................................................ii
Daftar isi.........................................................................................................................................iii
BAB 1 Pendahuluan........................................................................................................................1
Latar belakang masalah........................................................................................................1
Rumusan masalah................................................................................................................1
BAB II Kajian Pustaka....................................................................................................................2
A.Prematur...........................................................................................................................2
B.Postmatur.........................................................................................................................9
C IUGR..............................................................................................................................16
D.KJDK/KJDR..................................................................................................................24
BAB III Penutup............................................................................................................................28
Kesimpulan........................................................................................................................28
Kritik dan Saran.................................................................................................................29
Daftar Pustaka................................................................................................................................30





iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang Masalah
Kehidupan manusia dimulai sejak masa janin dalam rahim ibu. Sejak itu, manusia kecil telah memasuki masa perjuangan hidup yang salah satunya menghadapi kemungkinan kurangnya zat gizi yang diterima dari ibu yang mengandungnya. Jika zat gizi yang diterima dari ibunya tidak mencukupi maka janin tersebut akan mempunyai konsekuensi kurang menguntungkan dalam kehidupan berikutnya. Sejarah klasik tentang dampak kurang gizi selama kehamilan terhadap outcome kehamilan telah banyak didokumentasikan. Fenomena the Dutch Famine menunjukkan bahwa bayi-bayi yang masa kandungannya (terutama trimester 2 dan 3) jatuh pada saat-saat paceklik mempunyai rata-rata berat badan, panjang badan, lingkar kepala, dan berat placenta yang lebih rendah dibandingkan bayi-bayi yang masa kandungannya tidak terpapar masa paceklik dan hal ini terjadi karena adanya penurunan asupan kalori, protein dan zat gizi essential lainnya.
Kekurangan Nutrisi bukan saja satu satunya masalah yang dihadapi janin. Banyak bahaya lain yang mengancam ,yang beberapa diantaranya turut mepengaruhi lamanya usia kehamilan.Akibatnya ada janin yang lahir sebelum waktunya(Prematur) , lewat dari waktunya (postmatur/serotinus),Ada yang tidak mampu bertahan hidup hingga meninggal di dalam rahim (KJDR).Ada yang mampu bertahan namun mengalamigangguan pertumbuhan(Pertumbuhan janin terhambat/PJT)yang kadang juga disebut IUGR.
Ke empat masalah yang ada di atas sangat pentinguntuk di ketahui oleh para calon bidan yang nantinya mungkin akan banyak menghadapi masalah tersebut.
B.Rumusan masalah
• Apa yang dimaksud dengan prematur,postmatur,KJDR,dan IUGR?
• Apa penyebab prematur,postmatur,KJDR,dan IUGR?
• Bagaimana mendiagnosisnya?
• Bagaimana penanganannya?
1
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.PREMATUR
Defenisi
 Persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu ( antara 20 – 37 minggu ) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram ( Manuaba, 1998 : 221).
 Bayi prematur adalah Bayi baru lahir dengan umur kehamilan 37 minggu atau kurang saat kelahiran.
Walaupun kecil, bayi prematur ukurannya sesuai dengan masa kehamilan tetapi perkembangan intrauterin yang belum sempurna dapat menimbulkan komplikasi pada saat post natal. Bayi baru lahir yang mempunyai berat 2500 gram atau kurang dengan umur kehamilan lebih dari 37 minggu disebut dengan kecil masa kehamilan, ini berbeda dengan prematur, walaupun 75% dari neonatus yang mempunyai berat dibawah 2500 gram lahir prematur.

Masalah persalinan preterm/pematur
Kesulitan utama dalam persalinan preterm yaitu perawatan bayi prematur yang semakin muda usia kehamilannya semakin besar morbiditas dan mortalitas . Kekuatan / tonus otot Bayi prematur masih lemah dan ia tidak banyak bergerak. Mereka juga lebih mudah kekurangan kalsium dan zat besi, juga kadar gula darah yang lebih mudah turun. Kulitnya masih sangat merah dan keriput, kepalanya relatif lebih besar dibanding tubuhnya, tulang kepalanya teraba lunak, dan mereka lebih mudah menjadi kuning dan jika hal ini terjadi, dan Bayi menjadi malas minum, segera bawa ke dokter. Memang sedih melihat tubuhnya yang begitu ringkih Bayi prematur perlu diberi susu lebih sering disbanding bayi cukup bulan karena mereka membakar kalori lebih cepat. Makin mungil tubuhnya, makin sering nutrisi perlu diberikan. Umumnya refleks hisap dan menelan sudah cukup baik pada bayi prematur dengan masa kehamilan > 34 minggu (berat lahir > 2000 gram), sehingga bayi dapat dicoba langsung menyusu pada ibunya.
2
Telah dibuktikan bahwa bayi premature lebih cepat belajar menetek dibanding minum dari botol. Bila refleks mengisap bayi sudah muncul, ia dapat langsung menetek pada ibu. Bila belum, susu diberikan dengan sendok khusus. Bila bayi belum ada refleks menelan atau amat lemah hingga tak bisa menelan, susu diberikan langsung ke saluran cernanya lewat selang. Untuk bayi yang sangat prematur atau sakit, nutrisi bisa diberikan lewat infus langsung ke pembuluh darah. Bayi prematur disesuaikan dengan berat badannya, akan mendapatkan nutrisi secara bertahap tergantung kondisinya. Bila ia lahir amat kecil, bayi mendapat nutrisi bertahap mulai dari selang infus hingga akhirnya bisa menetek pada ibu. Agar ASI tersedia, ibu harus diajarkan cara memompa atau memerah ASI secara teratur dan yang paling penting adalah ibu tidak boleh stress, cukup istirahat dan makan. Ibu yang stress oleh karena bayi dipisahkan dari ibunya /dirawat di RS, dapat menghambat produksi ASI.
Apnea
Bayi prematur seringkali berhenti bernapas beberapa saat, disebut apnea. Apne sering ditemukan, terutama bila umur masa kehamilan di bawah 34 minggu. Oleh karena itu alat pantau sebaiknya dipasang sampai umur masa kehamilan mendekati 34 minggu.
Kebanyakan bayi bernapas kembali cukup dengan stimulasi seperti tepukan lembut di kakinya.
Sindroma Gawat Napas / Respiratory distress syndrome (RDS)
bayi bayi yang sangat kecil (lahir di bawah usia kehamilan 28 minggu) belum cukup memiliki surfaktan, suatu zat penting untuk menjaga paru-paru agar tidak menguncup. Paru-paru yang menguncup/kolaps tak bisa menangkap oksigen yang diperlukan untuk tubuh. Kondisi kekurangan surfaktan ini bisa menyebabkan penyakit membran hialin atau respiratory distress syndrome. Selama pernapasan Bayi prematur belum normal, bayi akan mendapatkan bantuan oksigen, artinya bayi akan dirawat di tempat khusus yaitu Neonatal Intensive Care Unit (NICU)
Etiologi dan faktor resiko
Mengenai penyebab belum banyak yang di ketahui :
3
1. Eastman = kausa prematur 61,9% kausa ignota (sebab yang tidak diketahui)
2. Greenhill = kausa premature 60 % kausa ignota (sebab yang tidak diketahui).
3. Holmer = sebagian besar tidak di ketahui.( Mochtar , 1998 : 219 )
Ada beberapa kondisi,medik yang mendorong untuk dilakuakan tindakan sehingga terjadi persalinan preterm.
Kondisi yang menimbulkan partus preterm.
1. Hipertensi
2. Perkembangan janin terhambat
3. Solusio Plasenta
4. Plasenta Previa
5. Kelainan Rhesus
6. Diabetes
Kondisi yang menimbulkan kontraksi
Ada beberapa kondisi ibu yang merangsang terjadinya kontraksi spontan, kemungkinan telah terjadi produksi prostaglandin :
1. Kelainan bawaan uterus
Meskipun jarang tetapi dapat dipertimbangkan hubungan kejadian partus preterm dengan kelainan uterus yang ada.
2. Ketuban pecah dini
Ketuban pecah mungkin mengawali terjadinya kontraksi atau sebaliknya. Ada beberapa kondisi yang mungkin menyertai seperti serviks inkompeten, Hidramnion, kehamilan ganda, infeksi vagina dan serviks, dan lain-lain, infeksi asenden merupakan teori yang cukup kuat dalam mendukung terjadinya amnionitis dan ketuban pecah.
3. Serviks Inkompeten
Hal ini juga mungkin menjadi penyebab abortus selain partus preterm , riwayat tindakan terhadap serviks dapat dihubungkan dapat terjadinya inkompeten. Mc Donald menemukan 59 % pasiennya pernah mengalami dilatasi kuretase dan 8 % mengalami
4
konisasi, Demikian pula Chamberlain dan Gibbings yang menemukan 60 % dari pasien serviks inkompeten pernah mengalami abortus spontan dan 49 % mengalami pengakhiran kehamilan pervaginam.
4. Kehamilan ganda.
Sebanyak 10 % pasien dengan persalinan preterm ialah kehamilan ganda dan secara umum kehamilan ganda mempuyai panjang usia gestasi yang lebih pendek.(Wiknjosastro et. al., 2002 : 313 )
Gejala
Gambaran fisik bayi prematur:
• Ukuran kecil
• Berat badan lahir rendah (kurang dari 2,5 kg)
• Kulitnya tipis, terang dan berwarna pink (tembus cahaya)
• Vena di bawah kulit terlihat (kulitnya transparan)
• Lemak bawah kulitnya sedikit sehingga kulitnya tampak keriput
• Rambut yang jarang
• Telinga tipis dan lembek
• Tangisannya lemah
• Kepala relatif besar
• Jaringan payudara belum berkembang
• Otot lemah dan aktivitas fisiknya sedikit (seorang bayi prematur cenderung belum memiliki garis tangan atau kaki seperti pada bayi cukup bulan) 5
• Refleks menghisap dan refleks menelan yang buruk
• Pernafasan yang tidak teratur
• Kantung zakar kecil dan lipatannya sedikit ( anak laki – laki )
• Labia mayora belum menutupi labia minora ( pada anak perempuan).
Penanganan Persalinan Preterm
Penanganan Umum
1. Lakukan evaluasi cepat keadaan ibu.
2.Upayakan melakukan konfirmasi umur kehamilan bayi.
Prinsip Penanganan.
1. Coba hentikan kontraksi uterus atau penundaan kehamilan atau.
2. Persalinan berjalan terus dan siapkan penanganan selanjutnya.( Saifuddin et.al., 2002 : 302 ).
Kelahiran Prematur
Kelahiran harus dilaksanakan secara hati-hati dan perlahan-lahan untuk menghindari kompresi dan dekompresi kepala secara cepat.Oksigen diberikan lewat masker kepada ibu selama kelahiran.Ketuban tidak boleh dipecahkan secara artifisial.Kantong ketuban berguna sebagai bantal bagi tengkorak prematur yang lunak dengan sutura-suturanya yang masih terpisah lebar.
Episiotomi mengurangi tekananpada cranium bayi.Forceps rendah dapat membantu dilatasi bagian lunak jalan lahir dan mengarahkan kepala bayi lewat perineum. Kami lebih menyukai kelahiran spontan kalau keadaannya memungkinkan.Ekstraksi bokong tidak boleh dilakukan. Bahaya tambahan pada kelahiran prematur adalah bahwa bokong tidak dapat menghasilkan pelebaran jalan lahir yang cukup untuk menyediakan ruang bagi kepala bayi yang relatif besar.
Kelahiran presipitatus dan yang tidak ditolong berbahaya bagi bayi-bayi prematur. 6
Seorang ahli neonatus harus hadir pada saat kelahiran.( Oxorn, 2003 : 588 ).
Pencegahan Persalinan Preterm Secara teknis kebidanan persalinan preterm dapat dicegah melalui hal – hal sebagai berikut :
1. Mencegah jarak anak terlalu rapat dengan kontrasepsi.
2.Pekerjaan sewaktu harus diistirahatkan dan jangan terlalu berat.
3. Bila dijumpai partus prematurus habitualis diperiksa WR dan VDRL bila hamil banyak istirahat atau dirawat dan melakukan pemeriksaan antenatal yang rutin selama kehamilan.
Hal – hal yang tidak dapat dicegah ;
1. Kausa ignota (sebab yang tidak diketahui).
2. Vaktor Ovum.
3. Tempat insersi plasenta.
4. Insersi tali pusat.
5. Plasenta previa.
6. Congenital anomaly.
7. Hamil ganda.
8. Suku bangsa.
9. Hidrorea / Hydrorrhoe (pengeluaran cairan dari vagina selama kehamilan) ( Mochtar, 1998 : 220 ).
Metode kangguru untuk merawat bayi prematur
Metode kanguru atau perawatan bayi lekat ditemukan sejak tahun 1983, sangat bermanfaat untuk merawat bayi yang lahir dengan berat badan rendah baik selama perawatan di rumah sakit ataupun di rumah.
Metode kanguru mampu memenuhi kebutuhan asasi bayi berat lahir rendah dengan menyediakan situasi dan kondisi yang mirip dengan rahim ibu, sehinggga memberi peluang untuk dapat beradaptasi baik dengan dunia luar. 7
Keuntungan yang di dapat dari metode kangguru untuk merawat bayi prematur
-Meningkatkan hubungan emosi ibu – anak
-Menstabilkan suhu tubuh , denyut jantung , dan pernafasan bayi
-Meningkatkan pertumbuhan dan berat badan bayi dengan lebih baik
-Mengurangi strea pada ibu dan bayi
-Mengurangi lama menangis pada bayi
-Memperbaiki keadaan emosi ibu dan bayi
-Meningkatkan produksi asi
-Menurunkan resiko terinfeksi selama perawatan di rumah sakit
-Mempersingkat masa rawat di rumah sakit
Kriteria bayi yang dapat melakukan metode kangguru:
-Bayi dengan berat badan ≤ 2000 g
-Tidak ada kelainan atau penyakit yang menyertai
-Refleks dan kordinasi isap dan menelan yang baik
-Perkembangan selama di inkubator baik
-Kesiapan dan keikut sertaan orang tua, sangat mendukung dalam keberhasilan.
Cara melakukan metode kangguru:
-Beri bayi pakaian, topi , popok dan kaus kaki yang telah dihangatkan lebih dahulu
-Letakkan bayi di dada ibu, dengan posisi tegak langsung ke kulit ibu dan pastikan kepala bayi sudah terfiksasi pada dada ibu. Posisikan bayi dengan siku dan tungkai tertekuk , kepala dan dada bayi terletak di dada ibu dengan kepala agak sedikit mendongak.
-Dapat pula memeakai baju dengan ukuran lebih besar dari badan ibu , dan bayi diletakkan 8
diantara payudara ibu, baju ditangkupkan, kemudian ibu memakai selendang yang dililitkan di perut ibu agar bayi tidak terjatuh.
-Bila baju ibu tidak dapat menyokong bayi , dapat digunakan handuk atau kain lebar yang elastik atau kantong yang dibuat sedemikian untuk menjaga tubuh bayi.

-Ibu dapat beraktivitas dengan bebas, dapat bebas bergerak walau berdiri , duduk , jalan, makan dan mengobrol. Pada waktu tidur , posisi ibu setengah duduk atau dengan jalan meletakkan beberapa bantal di belakang punggung ibu.
-Bila ibu perlu istirahat , dapat digantikan oleh ayah atau orang lain.
-Dalam pelaksanaannya perlu diperhatikan persiapan ibu, bayi, posisi bayi , pemantauan bayi , cara pamberian asi , dan kebersihan ibu dan bayi.
B.POSTMATUR/SEROTINUS
Beragam istilah digunakan untuk menggamabarkan kehamilan yang berlangsung melebihi 42 minggu, antara lain kehamilan memanjang, kehamilan lewat bulan, kehamilan postterm, dan pascamaturitas. Kehamilan lewat bulan, suatu kondisi antepartum, harus dibedakan dengan sindrom pasca maturitas, yang merupakan kondisi neonatal yang didiagnosis setelah pemerikasaan bayi baru lahir.
Defenisi
Post-maturitas adalah suatu keadaan dimana bayi lahir setelah usia kehamilan melebihi 42 minggu.
Ketika usia kehamilan memasuki 40 minggu, plasenta mulai mengecil dan fungsinya menurun. Karena kemampuan plasenta untuk menyediakan makanan semakin berkurang, maka janin menggunakan persediaan lemak dan karbohidratnya sendiri sebagai sumber energi. Akibatnya, laju pertumbuhan janin menjadi lambat.
Jika plasenta tidak dapat menyediakan oksigen yang cukup selama persalinan, bisa terjadi gawat 9
janin, sehingga janin menjadi rentan terhadap cedera otak dan organ lainnya.
Cedera tersebut merupakan resiko terbesar pada seorang bayi post-matur dan untuk mencegah terjadinya hal tersebut, banyak dokter yang melakukan induksi persalinan jika suatu kehamilan telah lebih 42 minggu
Etiologi
Etiologinya msih belum pasti. Faktor yang dikemukakan adalah hormonal yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang ( Mochtar, Rustam, 1999). Diduga adanya kadar kortisol yang rendah pada darah janin. Selain itu, kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta juga diduga berhubungan dengan kehamilan lewat waktu.
Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu, kemudian menurun setelah 42 minggu, terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen plasenta. Terjadi juga spasme arteri spiralis plasenta. Akibatnya dapat terjadi gangguan suplai oksigen dan nutrisi untuk hidup dan tumbuh kembang janin intrauterin. Sirkulasi uteroplasenta berkurang sampai 50%.Volume air ketuban juga berkurang karena mulai terjadi absorpsi. Keadaan-keadaan ini merupakan kondisi yang tidak baik untuk janin. Risiko kematian perinatal pada bayi postmatur cukup tinggi : 30% prepartum, 55% intrapartum, 15% postpartum
Tanda-Tanda Postmatur/Postterm terbagi atas 3 stadium:
1. Stadium 1
Kulit menunjukkanverniks kaseosa dan maserasiberupakulit kering,rapuh danmudah mengelupas.
2. Stadium II
Gejaladi atas disertai pewarnaan mekonium (Kehijauan ) pada kulit
3. Stadium III
Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku ,kulit dan talipusat .

10
Faktor Resiko
Peningkatan resiko terkait dengan kehamilan lewat bulan diperkirakan berkaitan dengan insufiensi uteroplasenta, yang pada akhirnya dapat menyebabkan hipoksia janin ( clausson,1999). Suatu penanda terkait dan faktor resiko untuk kehamilan lewat bulan adalah volume cairan amnion yang menurun drastis pada beberapa minggu kehamilan. Penurunan volume cairan amnion mungkin terkait pada penurunan fungsi plasenta, disebabkan oleh tekanan pada tali pusat, terutama selama periode intrapartum ( Campbell,M.K,1997). Volume cairan amnion yang rendah juga dikaitkan dengan beberapa kasus cairan bercampur mekonium kental ( karena lebih sedikit cairan untuk melarutkan mekonium yang dikeluarkan), yang pada neonatus menimbulkan masalah pneumonia akibat aspirasi mekonium. Terjadi penurunan lemak subkutan pada beberapa janin lewat bulan, sedangkan janin yang lain kemungkinan besar mengalami makrosomia. Hasil yang sangat bertolak belakang tersebut dikarenakan banyak faktor yang menyebabkan kehamilan yang melebihi 42 minggu.Pemahaman antara anatomi dan fisiologi servik akan membatu bidan dalam menimbang penatalaksanaan yang lebih aktif untuk kehamilan lewat bulan. Kematangan servik diketahui berhubungan dengan kesiapan jalan lahir setelah timbul tanda persalinan oleh karena itu merupakan tanda penting bagi bidan.
Diagnosis
1. Bila HPHT dicatat dan diketahui wanita hamil, diagnosis tidak sukar.
2. Kesulitan mendiagnosis bila wanita tidak ingat HPHTnya. Hanya dengan pemeriksaan antenatal yang teratur diikuti dengan tinggi dan naiknya fundus uteri dapat membantu penegakan diagnosis.
4. Pemeriksaan rontgenologik dapat dijumpai pusat pusat penulangan pada bagian distal femur, baguan proksimal tibia, tulang kuboid diameter biparietal 9,8 atau lebih.
5. USG : ukuran diameter biparietal, gerkan janin dan jumlah air ketuban.
6. Pemeriksaan sitologik air ketuban: air ketuban diamabiil dengan amniosenteris baik transvaginal maupun transabdominal, kulitb ketuban akan bercmapur lemak dari sel sel kulit yang dilepas janin setelah kehamilan mencapai lebih dari 36 minggu. Air ketuban yang diperoleh dipulas dengan sulfat biru Nil, maka sel – sel yang mengandung lemak akan 11
7.
8. berwarna jingga.
- Melebihi 10% = kehamilan diatas 36 minggu
- Melebihi 50% = kehamilan diatas 39 minggu
6. Amnioskopi, melihat derajat kekeruhan air ketuban, menurt warnanya karena dikeruhi mekonium.
7. Kardiotografi, mengawasi dan membaca denyut jantung janin, karena insufiensi plasenta.
8. Uji oksitosin ( stress test), yaitu dengan infus tetes oksitosin dan diawasi reaksi janin terhadap kontraksi uterus. Jika ternyata reaksi janin kurang baik, hal ini mungkin janin akan berbahaya dalam kandungan.
9. Pemeriksaan kadar estriol dalam urin
10. Pemeriksaan pH darah kepala janin
11. Pemeriksaan sitologi vagina

Pengaruh terhadap Ibu dan Janin
Terhadap Ibu
Persalinan postmatur dapat menyebabkan distosis karena (a) aksi uterus tidak terkoordinir (b). Janin besar (c) Moulding kepala kurang. Maka akan sering dijumpai : partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu dan perdarahan postpartum. Hal ini akan menaikan angka mordibitas dan mortalitas.
Terhadap janin
Jumlah kematian janin/ bayi pada kehamilan 43 minggu tiga kali lebih besar dri kehamilan 40 minggu karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin. Pengaruh postmaturitas pada janin bervariasi: berat badan janin dapat bertambah besar, tetap dan ada yang berkurang, sesudah kehamilan 42 minggu. Ada pula yang bisa terjadi kematian janin dalam kandungan.
Komplikasi
Kemungkinan komplikasi pada bayi postmatur
12
-hipoksia
-hipovolemia
- asidosis
-sindrom gawat napas
-hipoglikemia
-hipofungsi adrenal.
Penatalaksanaan
Prinsip dari tata laksana kehamilan lewat waktu ialah merencanakan pengakhiran kehamilan. Cara pengakhiran kehamilan tergantung dari hasil pemeriksaan kesejahteraan janin dan penilaian skor pelvik (pelvic score=PS).Ada beberapa cara untuk pengakhiran kehamilan, antara lain:
1.Induksi partus dengan pemasangan balon kateter Foley.
2.Induksi dengan oksitosin.
3.Bedah seksio sesaria.
Dalam mengakhiri kehamilan dengan induksi oksitosin, pasien harus memenuhi beberapa syarat, antara lain kehamilan aterm, ada kemunduran his, ukuran panggul normal, tidak ada disproporsi sefalopelvik, janin presentasi kepala, serviks sudah matang (porsio teraba lunak, mulai mendatar, dan mulai membuka). Selain itu, pengukuran pelvik juga harus dilakukan sebelumnya.
Induksi persalinan dilakukan dengan oksitosin 5 IU dalam infus Dextrose 5%. Sebelumdilakukan induksi, pasien dinilai terlebih dahulukesejahteraan janinnya dengan alat KTG, serta diukur skor pelvisnya.Jikakeadaan janin baik dan skor pelvis >5, maka induksi persalinan dapat dilakukan. Tetesan infus dimulai dengan 8 tetes/menit, lalu dinaikkan tiap 30 menit
sebanyak 4 tetes/menit hingga timbul his yang adekuat. Selama pemberian infus,
kesejahteraan janin tetap diperhatikan karena dikhawatirkan dapat timbul gawat 13

janin. Setelah timbul his adekuat, tetesan infus dipertahankan hingga persalinan.
Namun, jika infus pertama habis dan his adekuat belum muncul, dapat diberikan
infus drip oksitosin 5 IU ulangan. Jika his adekuat yang diharapkan tidak muncul,
dapat dipertimbangkan terminasi dengan seksio sesaria.
Metode non hormon Induksi persalinan
1. Pemisahan ketuban
Prosedurnya dikenal dengan pemisahan atau mengusap ketuban mengacu pada upaya memisahkan membran amnion dari bagian servik yang mudah diraih dan segmen uterus bagian bawah pada saat pemeriksaan dalam Dengan tangan terbungkus sarung tangan bidan memeriksa wanita untuk menentukan penipisan serviks, pembukaan dan posisi lazimnya. Perawatan dilakukanan untuk memastikan bahwa bagian kepala janin telah turun. Pemeriksaan mengulurkan jari telunjuk sedalam mungkin melalui os interna, melalui ujung distal jari perlahan antara segmen uterus bagian bawah dan membaran. Beberapa usapan biasanya eektif untuk menstimulasi kontaksi awal reguler dalam 72 jam. Mekanisme kerjanya memungkinkan melepaskan prostaglandin ke dalam sirkulasi ibu. Pemisahan hendaknya jangan dilakukan jika terdapat ruptur membran yang tidak disengaja dan dirasa tidak aman baik bagi ibu maupun bagi janin. Pemisahan memban servis tidak dilakukan pada kasus – kasus servisitis, plasenta letak rendah, maupun plasenta previa, posisi yang tidak diketahui, atau perdarahan pervaginam yang tidak diketahui.
2. Amniotomi
Pemecahan ketuban secara sengaja (AROM). Saat dikaukan bidan harus memeriksa dengan teliti untuk mengkaji penipisan servik, pembukaanm posisi,, dan letak bagian bawah. Presentasi selain kepala merupakan kontrainsdikasi AROM dan kontraindikasi lainnya ketika kepala belum turun, atau bayi kecil karena dapat menyebabkan prolaps talipusat. Meskipun amniotomi sering dilakukan untuk menginduksi persalinan, namun hingga kini masih belum ada studi prospektif dengan desain tepat yang secara acak menempatkan wanita pada kelompok 14
tertentu untuk mengevaluasi praktik amniotomi ini.
3. Pompa Payudara dan stimulasi puting.
Penggunaan cara ini relatif lebih aman kerna menggunakan metode yang sesuai dengan fisiologi kehamilan dan persalinan. Penangannya dengan menstimulasi selama 15 menit diselingi istirahat dengan metode kompres hangat selama 1 jam sebanyak 3 kali perhari.
4. Minyak jarak
Ingesti minyak jarak 60 mg yang dicampur dengan jus apel maupun jus jeruk dapat meningkatkan angka kejadian persalinan spontan jika diberikan pada kehamilan cukup bulan.
5. Kateter forey atau Kateter balon.
Secara umum kateter dimasukkan kedalam servik kemudian ballon di isi udara 25 hingg 50 mililiter untuk menjaga kateter tetap pada tempatnya. Beberapa uji klinis membuktikan bahwa teknik ini sangat efektif.
6. Aktifitas seksual.
Jika bidan tidak merasa bahwa penatalaksanaan aktif pada persalinan lewat bula diindikasikan, protokol dalam memuat panduan rekomendasi yang mencakup pemberian, wakru, dosis, dan langkah kewaspadaan. Sementara pada penatalaksanaan antisipasi, bidan dianjurkan mendokumentasikan secara teliti rencana penatalaksanaan yang disepakati bersama oleh wanita. Bidan maupun wanita harus memahami secara benar standar perawatan setempat untuk menangani kehamilan lewat bulan. Wanita sebaiknya diberi tahu jika terdapat status yang tidak mencakup pada penggunaan resep, dan bidan harus tetap merujuk pada literatur terkini seputar penanganan kehamilan lewat bulan.
Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kehamilanyang teratur, minimal 4 15
kali selama kehamilan, 1 kali pada trimester pertama(sebelum 12 minggu), 1 kali pada trimester ke dua (antara 13 minggu sampai 28minggu) dan 2 kali trimester ketiga (di atas 28 minggu). Bila keadaan memungkinkan, pemeriksaan kehamilan dilakukan 1 bulan sekali sampai usia 7bulan, 2 minggu sekali pada kehamilan 7 – 8 bulan dan seminggu sekali pada bulan terakhir. Hal ini akan menjamin ibu dan dokter mengetahui dengan benar usia kehamilan, dan mencegah terjadinya kehamilan serotinus yang berbahaya.Perhitungan dengan satuan minggu seperti yang digunakan para dokter kandungan merupakan perhitungan yang lebih tepat.. Untuk itu perlu diketahui dengan tepat tanggal hari pertama haid terakhir seorang (calon) ibu itu.
Perhitungannya, jumlah hari sejak hari pertama haid terakhir hingga saat itu
dibagi 7 (jumlah hari dalam seminggu). Misalnya, hari pertama haid terakhir Bu A
jatuh pada 2 Januari 1999. Saat ini tanggal 4 Maret 1999. Jumlah hari sejak hari
pertama haid terakhir adalah 61. Setelah angka itu dibagi 7 diperoleh angka 8,7.
Jadi, usia kehamilannya saat ini 9 minggu.
C.INTRA UTERINE GROWTH RETARDATION (IUGR)
Banyak istilah yang dipergunakan untuk menunjukkan janin mengalami hambatan pertumbuhan seperti pseudomature, small for date, dysmature, fetal malnutrition syndrome, chronic fetal distress, IUGR dan small for gestational age (SGA).
Defenisi IUGR
Definisi menurut WHO (1969), janin yang mengalami pertumbuhan yang terhambat adalah janin yang mengalami kegagalan dalam mencapai berat standard atau ukuran standard yang sesuai dengan usia kehamilannya.
Pertumbuhan Janin Terhambat atau Intra Uterine Growth Restriction adalah suatu keadaan dimana terjadi gangguan nutrisi dan pertumbuhan janin yang mengakibatkan berat badan lahir dibawah batasan tertentu dari usia kehamilannya.
Definisi yang sering dipakai adalah bayi-bayi yang mempunyai berat badan dibawah 10 16
persentil dari kurva berat badan bayi yang normal). Dalam 5 tahun terakhir, istilah Retardation pada Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) telah berubah menjadi Restriction oleh karena Retardasi lebih ditekankan untuk mental.
Menurut Gordon, JO (2005) pertumbuhan janin terhambat-PJT (Intrauterine growth restriction) diartikan sebagai suatu kondisi dimana janin berukuran lebih kecil dari standar ukuran biometri normal pada usia kehamilan. Kadang pula istilah PJT sering diartikan sebagai kecil untuk masa kehamilan-KMK (small for gestational age). Umumnya janin dengan PJT memiliki taksiran berat dibawah persentil ke-10. Artinya janin memiliki berat kurang dari 90 % dari keseluruhan janin dalam usia kehamilan yang sama. Janin dengan PJT pada umumnya akan lahir prematur (<37 minggu) atau dapat pula lahir cukup bulan (aterm, >37 minggu).
Ada dua bentuk PJT menurut Renfield (1975) yaitu:
1. Proportionate Fetal Growth Restriction: Janin yang menderita distress yang lama di mana gangguan pertumbuhan terjadi berminggu-minggu sampai berbulan-bulan sebelum bayi lahir sehingga berat, panjang dan lingkar kepala dalam proporsi yang seimbang akan tetapi keseluruhannya masih di bawah gestasi yang sebenarnya.
2. Disproportionate Fetal Growth Restriction: Terjadi akibat distress subakut. Gangguan terjadi beberapa minggu sampai beberapa hari sebelum janin lahir. Pada keadaan ini panjang dan lingkar kepala normal akan tetapi berat tidak sesuai dengan masa gestasi. Bayi tampak waste dengan tanda-tanda sedikitnya jaringan lemak di bawah kulit, kulit kering keriput dan mudah diangkat, bayi kelihatan kurus dan lebih panjang.
Pada bayi PJT perubahan tidak hanya terhadap ukuran panjang, berat dan lingkaran kepala akan tetapi organ-organ di dalam badan pun mengalami perubahan misalnya Drillen (1975) menemukan berat otak, jantung, paru dan ginjal bertambah sedangkan berat hati, limpa, kelenjar adrenal dan thimus berkurang dibandingkan bayi prematur dengan berat yang sama. Perkembangan dari otak, ginjal dan paru sesuai dengan masa gestasinya.

17
Manifestasi Klinis
Bayi-bayi yang dilahirkan dengan PJT biasanya tampak kurus, pucat, dan berkulit keriput. Tali pusat umumnya tampak rapuh dam layu dibanding pada bayi normal yang tampak tebal dan kuat. PJT muncul sebagai akibat dari berhentinya pertumbuhan jaringan atau sel. Hal ini terjadi saat janin tidak mendapatkan nutrisi dan oksigenasi yang cukup untuk perkembangan dan pertumbuhan organ dan jaringan, atau karena infeksi. Meski pada sejumlah janin, ukuran kecil untuk masa kehamilan bisa diakibatkan karena faktor genetik (kedua orangtua kecil), kebanyakan kasus PJT atau Kecil Masa Kehamilan (KMK) dikarenakan karena faktor-faktor lain. Beberapa diantaranya sbb:
PJT dapat terjadi kapanpun dalam kehamilan. PJT yang muncul sangat dini sering berhubungan dengan kelainan kromosom dan penyakit ibu. Sementara, PJT yang muncul terlambat (>32 minggu) biasanya berhubungan dengan problem lain. Pada kasus PJT, pertumbuhan seluruh tubuh dan organ janin menjadi terbatas. Ketika aliran darah ke plasenta tidak cukup, janin akan menerima hanya sejumlah kecil oksigen, ini dapat berakibat denyut jantung janin menjadi abnormal, dan janin berisiko tinggi mengalami kematian. Bayi-bayi yang dilahirkan dengan PJT akan mengalami keadaan berikut :
• Penurunan level oksigenasi
• Nilai APGAR rendah (suatu penilaian untuk menolong identifikasi adaptasi bayi segera setelah lahir)
• Aspirasi mekonium (tertelannya faeces/tinja bayi pertama di dalam kandungan) yang dapat berakibat sindrom gawat nafas
• Hipoglikemi (kadar gula rendah)
• Kesulitan mempertahankan suhu tubuh janin
• Polisitemia (kebanyakan sel darah merah)
Pertumbuhan normal Intrauterin
Pada masa kehamilan janin mengalami pertumbuhan tiga tahap di dalam kandungan, yaitu: 18
1. Hiperplasia, yaitu: Pada 4-20 minggu kehamilan terjadi mitosis yang sangat cepat dan peningkatan jumlah DNA.
2. Hiperplasia dan hipertrofi, yaitu: Pada 20-28 minggu aktifitas mitosis menurun, tetapi peningkatan ukuran sel bertambah.
3. Hipertrofi, yaitu: Pada 28-40 minggu pertumbuhan sel menjadi maksimal terutama pada minggu ke 33, penambahan jumlah lemak, otot dan jaringan ikat tubuh.
Perkembangan PJT Intrauterin:
Peningkatan rasio berat plasenta terhadap berat lahir ditimbulkan oleh kondisi diet rendah nutrisi terutama protein
1. Kondisi kekurangan nutrisi pada awal kehamilan
Pada kondisi awal kehamilan pertumbuhan embrio dan trofoblas dipengaruhi oleh makanan. Studi pada binatang menunjukkan bahwa kondisi kekurangan nutrisi sebelum implantasi bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan nutrisi pada awal kehamilan dapat mengakibatkan janin berat lahir rendah yang simetris. Hal sebaiknya terjadi kondisi percepatan pertumbuhan pada kondisi hiperglikemia pada kehamilan lanjut
2. Kondisi kekurangan nutrisi pada pertengahan kehamilan
Defisiensi makanan mempengaruhi pertumbuhan janin dan plasenta, tapi bisa juga terjadi peningkatan pertumbuhan plasenta sebagai kompensasi. Didapati ukuran plasenta yang luas.
3. Kondisi kekurangan nutrisi pada akhir kehamilan
Terjadi pertumbuhan janin yang lambat yang mempengaruhi interaksi antara janin dengan plasenta. Efek kekurangan makan tergantung pada lamanya kekurangan. Pada kondisi akut terjadi perlambatan pertumbuhan dan kembali meningkat jika nutrisi yang diberikan membaik. Pada kondisi kronis mungkin telah terjadi proses perlambatan 19
pertumbuhan yang irreversibel
Klasifikasi
Dikenal ada 3 macam PJT, yaitu :
• PJT tipe I atau dikenal juga sebagai tipe simetris. Terjadi pada kehamilan 0-20 minggu, terjadi gangguan potensi tubuh janin untuk memperbanyak sel (hiperplasia), umumnya disebabkan oleh kelainan kromosom atau infeksi janin. Prognosisnya buruk.
• PJT tipe II atau dikenal juga sebagai tipe asimetris. Terjadi pada kehamilan 28-40 minggu, yaitu gangguan potensi tubuh janin untuk memperbesar sel (hipertrofi), misalnya pada hipertensi dalam kehamilan disertai insufisiensi plasenta. Prognosisnya baik.
• PJT tipe III adalah kelainan di antara kedua tipe di atas. Terjadi pada kehamilan 20-28 minggu, yaitu gangguan potensi tubuh kombinasi antara gangguan hiperplasia dan hipertrofi sel, misalnya dapat terjadi pada malnutrisi ibu, kecanduan obat, atau keracunan.
SIMETRIS ASIMETRIS
Semua bagian tubuh kecil Kepala lebih besar dari perut
Ponderal index normal Meningkat
Perbandingan kepala, perut dan panjang tangan normal Meningkat
Etiologi: faktor genetik dan infeksi Insufisiensi plasenta kronik
Jumlah sel sel lebih kecil Normal


Ukuran sel normal Kecil
Bayi dengan komplikasi prognosisnya buruk Kecil

Faktor Risiko
Kecurigaan akan PJT ditegakkan berdasarkan pengamatan-pengamatan faktor risiko dan ketidaksesuaian tinggi fundus uteri dan umur kehamilannya.

20
A. Faktor-faktor risiko PJT.
a. Lingkungan sosio-ekonomi rendah.
b. Riwayat PJT dalam keluarga.
c. Riwayat obstetri yang buruk
d. Berat badan sebelum hamil dan selama kehamilan yang rendah.
e. Komplikasi obstetri dalam kehamilan.
f. Komplikasi medik dalam kehamilan.
B. Faktor-faktor risiko PJT sebelum dan selama kehamilan.
I. Faktor yang terdeteksi sebelum kehamilan
a. Riwayat PJT sebelumnya.
b. Riwayat penyakit kronis.
c. Riwayat APS (Antiphospolipid syndrome).
d. Indeks Massa tubuh yang rendah.
e. Maternal hypoxia
II. Terdeteksi selama kehamilan
a. Riwayat makan obat-obatan tertentu.
b. Perdarahan pervaginam.
c. Kelainan plasenta.
d. Partus prematurus.
e. Kehamilan ganda.
f. Kurangnya pertambahan BB(berat badan) selama kehamilan.
Etiologi
1. Faktor ibu, golongan faktor ibu merupakan penyebab yang terpentiug.
a. Penyakit hipertensi (kelainan vaskular ibu).
Pada trimester kedua terdapat kelanjutan migrasi interstitial dan endotelium trophoblas masuk jauh ke dalam arterioli miometrium sehingga aliran menjadi tanpa hambatan menuju retroplasenter sirkulasi dengan tetap. Aliran darah yang terjamin sangat penting artinya untuk tumbuh kembang janin dengan baik dalam uterus. Dikemukakan bahwa jumlah arteri-arterioli yang didestruksi oleh sel trophoblas sekitar 100-150 pada daerah seluas plasenta sehingga 21
cukup untuk menjamin aliran darah tanpa gangguan pada lumen dan arteri spiralis terbuka. Gangguan terhadap jalannya destruksi sel trophoblas ke dalam arteri spiralis dan arteriolinya dapat menimbulkan keadaan yang bersumber dari gangguan aliran darah dalam bentuk “iskemia retroplasenter”. Dengan demikian dapat terjadi bentuk hipertensi dalam kehamilan apabila gangguan iskemianya besar dan gangguan tumbuh kembang janin terjadi apabila iskemia tidak terlalu besar, tetapi aliran darah dengan nutrisinya merupakan masalah pokok.
b. Kelainan uterus.
Janin yang tumbuh di luar uterus biasanya mengalami hambatan pertumbuhan
c. Kehamilan kembar.
Kehamilan dengan dua janin atau lebih kemungkinan besar dipersulit oleh pertumbuhan kurang pada salah satu atau kedua janin dibanding dengan janin tunggal normal. Hambatan pertumbuhan dilaporkan terjadi pada 10 s/d 50 persen bayi kembar.
d. Ketinggian tempat tinggal.
Jika terpajan pada lingkungan yang hipoksik secara kronis, beberapa janin mengalami penurunan berat badan yang signifikan Janin dari wanita yang tinggal di dataran tinggi biasanya mempunyai berat badan lebih rendah daripada mereka yang dilahirkan oleh ibu yang tinggal di dataran rendah.
e. Keadaan gizi.
Wanita kurus cenderung melahirkan bayi kecil, sebaliknya wanita gemuk cenderung melahirkan bayi besar. Agar nasib bayi baru lahir menjadi baik, ibu yang kurus memerlukan kenaikan berat badan yang lebih banyak dari pada ibu-ibu yang gemuk dalam masa kehamilan. Faktor terpenting pemasukan makanan adalah lebih utama pada jumlah kalori yang dikonsumsi setiap hari dari pada komposisi dari kalori. Dalam masa hamil wanita keadaan gizinya baik perlu mengkonsumsi 300 kalori lebih banyak dari pada sebelum hamil setiap hari. Penambahan berat badan yang kurang di dalam masa hamil menyebabkan kelahiran bayi dengan berat badan yang rendah.
22
f. Perokok.
Kebiasaan merokok terlebih dalam masa kehamilan akan melahirkan bayi yang lebih kecil sebesar 200 sampai 300 gram pada waktu lahir. Kekurangan berat badan lahir ini disebabkan oleh dua faktor yaitu :
• wanita perokok, cenderung makan sedikit karena itu ibu akan kekurangan substrat di dalam darahnya yang bisa dipergunakan oleh janin,
• merokok menyebabkan pelepasan epinefrin dan norepinefrin yang menyebabkan vasokonstriksi yang berkepanjangan sehingga terjadi pengurangan jumlah pengaliran darah kedalam uterus dan yang sampai ke dalam ruang intervillus.
2. Faktor anak.
a. Kelainan kongenital.
b. Kelainan genetic
c. Infeksi janin, misalnya penyakit TORCH (toksoplasma, rubela, sitomegalovirus, dan herpes).
Infeksi intrauterin adalah penyebab lain dari hambatan pertumbuhan intrauterin. Banyak tipe seperti pada infeksi oleh TORCH (toxoplasmosis, rubella, cytomegalovirus, dan herpes simplex) yang bisa menyebabkan hambatan pertumbuhan intrauterin sampai 30% dari kejadian. Infeksi AIDS pada ibu hamil menurut laporan bisa mengurangi berat badan lahir bayi sampai 500 gram dibandingkan dengan bayi-bayi yang lahir sebelum terkena infeksi itu. Diperkirakan infeksi intrauterin meninggikan kecepatan metabolisme pada janin tanpa kompensasi peningkatan transportasi substrat oleh plasenta sehingga pertumbuhan janin menjadi subnormal atau dismatur.
3. Faktor plasenta

Penyebab faktor plasenta dikenal sebagai insufisiensi plasenta. Faktor plasenta dapat dikembalikan pada faktor ibu, walaupun begitu ada beberapa kelainan plasenta yang khas seperti tumor plasenta. Sindroma insufisiensi fungsi plasenta umumnya berkaitan erat dengan aspek morfologi dari plasenta. 23
Parameter klinik yang dapat digunakan untuk mendeteksi PJT
 ketidak sesuaian usia gestasi dengan besar uterus,
 laju pertumbuhan terhambat,
 atau pertambahan berat badan ibu yang kurang.
Kejadian yang terbukti dengan cara ini hanya 10-25%, sehingga perlu digabung dengan pemeriksaan dan USG Doppler.
Manajemen
�� Pada kasus preterm dengan pertumbuhan janin terhambat lakukan pematangan paru dan asupan nutrisi tinggi kalori mudah cerna, dan banyak istirahat.
�� Pada kehamilan 35 minggu tanpa terlihat pertumbuhan janin dapat dilakukan pengakhiran kehamilan.
�� Jika terdapat oligohidramnion berat disarankan untuk per abdominam.
�� Pada kehamilan aterm tergantung kondisi janin jika memungkinkan dapat dicoba lahir pervaginam
Prognosis
�� Ibu umumnya baik janin bergantung keadaannya

D.KEMATIAN JANIN DALAM KANDUNGAN (KKDK)/KJDR
Defenisi
Adalah keadaan tidak adanya tanda-tanda kehidupan janin dalam kandungan. Kematian janin dalam kandungan (KJDK) atau intra uterine fetal deadth (IUFD), sering dijumpai baik pada kehamilan dibawah 20 minggu maupun sesudah kehamilan 20 minggu.

• Sebelum 20 minggu :
Kematian janin dapat terjadi dan biasanya berakhir dengan abortus. Bila hasil konsepsi yang sudah mati tidak dikeluarkan dan tetap tinggal dalam rahim disebut missed abortion.

24
• Sesudah 20 minggu :
Biasanya ibu telah merasakan gerakan janin sejak kehamilan 20 minggu dan seterusnya. Apabila wanita tidak merasakan gerakan janin dapat disangka terjadi kematian dalam rahim.

Etiologi
1. Perdarahan : plasenta previa dan solusio placenta
2. Pre eklamsi dan eklamsi
3. Penyakit-penyakit kelainan darah
4. Penyakit-penyakit infeksi dan penyakit menular
5. Penyakit-penyakit saluran kencing : bakteriuria, peelonefritis, glomerulonefritis dan payah ginjal
6. Penyakit endokrin : diabetes melitus, hipertiroid
7. Malnutrisi dan sebagainya.
Diagnosis :
1. Anamnesis
Ibu tidak merasakan gerakan janin dalam beberapa hari, atau gerakan janin sangat berkurang. Ibu merasakan perutnya tidak bertambah besar, bahkan bertambah kecil atau kehamilan tidak seperti biasanya. Atau wanita belakangan ini merasakan perutnya sering menjadi keras dan merasakan sakit seperti mau melahirkan.

2. Inspeksi
Tidak terlihat gerakan-gerakan janin, yang biasanya dapat terlihat terutama pada ibu yang kurus.
3. Palpasi
• Tinggi fundus lebih rendah dari seharusnya tua kehamilan, tidak teraba gerakanan janin.
25
• Dengan palpasi yang teliti, dapat dirasakan adanya krepitasi pada tulang kepala janin.

4. Auskultasi
Baik memamakai setetoskop monoral maupun dengan Deptone akan terdengar DJJ.

5. Reaksi kehamilan

Reaksi kehamilan baru negatif setelah beberapa minggu janin mati dalam kandungan.

6. Rontgen Foto Abdomen
• Adanya akumulasi gas dalam jantung dan pembuluh darah besar janin
• Tanda Nojosk : adanya angulasi yang tajam tulang belakang janin.
• Tanda Gerhard : adanya hiperekstensi kepala tulang leher janin
• Tanda Spalding : overlaping tulang-tulang kepala (sutura) janin
• Disintegrasi tulang janin bila ibu berdiri tegak
• Kepala janin kelihatan seperti kantong berisi benda padat.
7 Ultrasonografi
Tidak terlihat djj dan nafas janin, badan dan tunkai janin tidak terliaha bergerak, ukuran biparietal janin setelah 30 minggu terlihat tidak bertambah panjang pada setiap minggu, terlihat kerangka yang bertumpuk, tidak terlihat struktur janin, terlihat penumpukan tulang tengkorak, dan reduksi cairan yang abnormal.
Manajemen pada saat IUFD terjadi :
1. Pasien di rujuk ke dokter segera setelah diketahui IUFD
2. Bila setelah terdiagnosa pasti, bidan dapat melahirkan bayinya di bawah pengawasan dokter
3. Bidan memberikan dukungan emosional kepada pasien maupun keluarga pasien
4. Sedikitnya 70% wanita akan melahirkan secara spontan dalam 2 minggu kematian bayi dan lainnya akan lahir kurang dari 2 minggu

26
Manajemen setelah persalinan
1. Setelah bayi lahir kemudian diperiksa dan ditimbang, membran dan plasenta diperiksa
bidan memberikan dukungan emosional pada pasien dan keluarganya
2. Dokter melakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebab kematian
3. Melakuakan kunjungan rumah untuk melihat KU pada masa postpartum misalnya laktasi, involusio rahim, dan perencanaan KB
Pengaruh Terhadap Ibu
Kematian janin dalam kandungan 3-4 minggu, biasanya tidak membahayakan ibu. Tetapi kemungkinan terjadinya kelainan darah (hipo fibrigenemia) akan lebih besar. Karena itu pemeriksaan pembekuan darah harus diakukan setiap minggu setelah diagnosis ditegakkan. Bila terjadi hipofibrinogenemia. Bahayanya adalah perdarahan post partum. Terapinya adalah dengan pemberian darah segar atau pemberian fibrinogen.

Komplikasi
1. Trauma emosional yang berat terjadi bila waktu antara kematian janin dan persalinan cukup bulan.
2. Dapat terjadi infeksi bila ketuban pecah.
3. Dapat terjadi koagulasi bila kematian janin berlangsung > 2 minggu.





27






BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
 Persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu ( antara 20 – 37 minggu ) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram ( Manuaba, 1998 : 221).Penyebab persalinan prematur belum diketahui,adapun Kondisi yang di duga menimbulkan partus preterm antara lain: Hipertensi,Perkembangan janin terhambat,solusio Plasenta,plasenta Previa,kelainan Rhesus,diabetes.Sedangkan kondisi yang menimbulkan kontraksi yaitu Kelainan bawaan uterus ,Ketuban pecah dini ,Serviks Inkompeten ,Kehamilan ganda. Adapun penanganan persalinan prematus: Penanganan Umum :1. Lakukan evaluasi cepat keadaan ibu.2.Upayakan melakukan konfirmasi umur kehamilan bayi.Sedangkan Prinsip Penanganannya:.1. Coba hentikan kontraksi uterus atau penundaan persalinan atau.2. Persalinan berjalan terus dan siapkan penanganan selanjutnya.( Saifuddin et.al., 2002 : 302 ).Untuk Bayi prematur dapat digunakan metode kangguru
 Post-maturitas adalah suatu keadaan dimana bayi lahir setelah usia kehamilan melebihi 42 minggu. Etiologinya masih belum pasti. Faktor yang dikemukakan adalah hormonal yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang ( Mochtar, Rustam, 1999). Diduga adanya kadar kortisol yang rendah pada darah janin. Selain itu, kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta juga diduga berhubungan dengan kehamilan lewat waktu.Tanda tanda Postmatur terbagi atas 3 stadium. Prinsip dari tata laksana kehamilan lewat waktu ialah merencanakan pengakhiran kehamilan.Ada beberapa cara untuk pengakhiran kehamilan
 Pertumbuhan Janin Terhambat atau Intra Uterine Growth Restriction adalah suatu keadaan dimana terjadi gangguan nutrisi dan pertumbuhan janin yang mengakibatkan berat badan lahir dibawah batasan tertentu dari usia kehamilannya.Di klasifikasi menjadi 3 tipe:simetris,asimetris,dan gabungan keduanya.Etiologinya terdiri artas faktor ibu,anak dan plasenta. Pada kasus preterm dengan pertumbuhan janin terhambat lakukan 28
 pematangan paru dan asupan nutrisi tinggi kalori mudah cerna, dan banyak istirahat.Adapun manajemennya: Pada kehamilan 35 minggu tanpa terlihat pertumbuhan janin dapat dilakukan pengakhiran kehamilan,Jika terdapat oligohidramnion berat disarankan untuk per abdominam,tergantung kondisi janin jika memungkinkan dapat dicoba lahir pervaginam
 KJDR adalah keadaan tidak adanya tanda-tanda kehidupan janin dalam kandungan.terjadi saat usia kehamilan lebih dari 20 minggu dimana janin sudah mencapai ukuran 500 gram atau lebih. Umumnya, kematian janin terjadi menjelang persalinan saat usia kehamilan sudah memasuki 8 bulan. Etiologinya: Perdarahan : plasenta previa dan solusio placenta,Pre eklamsi dan eklamsi ,Penyakit-penyakit kelainan darah ,Penyakit-penyakit infeksi dan penyakit menular ,Penyakit-penyakit saluran kencing,Penyakit endokrin ,Malnutrisi dan sebagainya.Diagnosisnya bisa melalui IPPA,reaksi kehamilan,Rotgen foto abdomen,USG.

B.Kritik dan Saran

• Bagi Ibu ibu yang hamil hendaknya memeriksakan dirinya secara rutin mnimal 4 kali selama kehamilan agar bisa dideteksi secara dini bila ada kelainan pada janinnya.
• Bagi petugas kesehatan agar senantiasa meningkatkan Pengetahuan dan keterampilannya untuk menurunkan angka mortalitas dan morbiditas Ibu dan anak .
• Bagi teman teman agar belajar yang rajin agar kelak bisa menangani pasien dengan profesional







29
DAFTAR PUSTAKA
Cunningham, Gary, dkk.2006. Obstetri William ed.21. Jakarta.EGC
Mochtar, Rustam.1998, Sinopsis Obstetri. Jakarta.EGC
Prawiroharjo, Sarwono.2003.IlmuKebidanan.Jakarta.Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Varney, Helen Dkk.2007, Buku Ajar Asuhan Kebidanan ed.4 vo1. Jakarta.EGC
Manuaba, Ida Bagus Gede. 1999, Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita.Jakarta. Arcan
http://botefilia.com/index.php/archives/2008/11/09/kehamilan-dengan-pertumbuhan-janin-terhambat/ diakses tanggal 14 maret 2010
http://diyoyen.blog.friendster.com/2008/11/kehamilan-lewat-bulan-serotinus/ diakses tanggal 14 maret 2010
http://korek-obgin.blogspot.com/2010/01/pertumbuhan-janin-terhambat.html diakses tanggal 12 maret 2010
http://sulistianingsih-apri.blogspot.com/2008/05/postmatur.html diakses tanggal 14 maret 2010
http://www.infoibu.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=65 diakses tanggal 14 maret 2010
http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=14640 diakses tanggal 14 maret 2010




30

PENANGANAN EFEK SAMPING ALAT KONTRASEPSI,makalah kelompoknya sari.

PENANGANAN EFEK SAMPING
ALAT KONTRASEPSI







Disusun oleh :
KELOMPOK : VI
ANGGOTA : ANISA MARGARETASARI (70400008003)
MARDIANI (70400008038)
NUR’AENI (70400008043)
SRI WAHYUNI (70400008053)
FIRDA WAHYUNI (70400008047)
ROSMAWATI (70400008051)



D3 KEBIDANAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2010

PEMBAHASAN
METODE BARIER
1. KONDOM
Kondom merupakan selubung/sarung karet yang terbuat dari berbagai bahan di antaranya lateks(karet), plastik(vinil), atau bahan alami(produksi hewani) yang dipasang pada penis saat hubungan sex.
a. Cara kerja :
Kondom menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel telur dengan cara mengemas sperma di ujung selubung karet yang dipasang pada penis sehingga sperma tersebut tidak tercurah kedalam saluran reproduksi perempuan.
b. Efek samping :
1. Kondom rusak atau diperkirakan bocor (sebelum berhubungan),
2. Kondom bocor atau dicurigai ada curahan di vagina saat berhubungan.
3. Dicurigai adanya reaksi alergi (spermisida)
4. Mengurangi kenikmatan hubungan seksual

c. Penanganan efek samping :
1. Buang dan pakai kondom baru atau pakai spermisida digabung kondom.
2. Jika dicurigai ada kebocoran, pertimbangkan pemberian Morning After Pill.
3. Reaksi alergi,meskipun jarang,dapat sangat mengganggu dan bisa berbahaya.jika keluhan menetap sesudah berhubungan dan tidak ada gejala IMS,berikan kondom alami(produk hewani:lamb skin atau gut)atau bantu klien memilih metode lain.
4. Jika penurunan kepekaan tidak bisa ditolelir biarpun dengan kondom yang lebih tipis, anjurkan pemakaian metode lain.


2 DIAFRAGMA
Diafragma adalah kap berbentuk bulat cembung, terbuat dari lateks(karet) yang diinsersikan ke dalam vagina sebelum berhubungan seksual dan menutup serviks.
a. Cara kerja :
Menahan sperma agar tidak mendapatkan akses mencapai saluran alat reproduksi bagian atas (uterus dan tuba falopii) dan sebagai alat spermisida.
b. Efek samping :
1. Infeksi saluran uretra
2. Dugaan adanya reaksi alergi diafragma atau dugaan adanya reaksi alergi spermisida
3. Rasa nyeri pada tekanan terhadap kandung kemih/rektum
4. Timbul cairan vagina dan berbau jika dibiarkan lebih dari 24 jam.

c. Penanganan efek samping :
1. Pengobatan dengan antibiotik yang sesuai,apabila diafragma menjadi pilihan utama dalam ber-KB.Sarankan untuk segera mengosongkan kandung kemih setelah melakukan hubungan seksual atau sarankan memakai metode lain.
2. Walaupun jarang terjadi, terasa kurang nyaman dan mungkin berbahaya. Jika ada gejala iritasi vagina, khususnya pasca sanggama, dan tidak mengidap IMS, berikan spermisida yang lain atau bantu untuk memilih metode lain.
3. Pastikan ketepatan letak diafragma apabila alat terlalu besar. Cobalah dengan ukuran yang lebih kecil. Tindaklanjuti untuk meyakinkan masalah telah ditangani.
4. Periksa adanya IMS atau benda asing dalam vagina (tampon dll.),jika tidak ada,sarankan klien untuk melepas diafragma setelah melakukan hubungan seksual,tapi tidak kurang dari 6 jam setelah aktivitas terakhir. setelah diangkat (difragma harus dicuci dengan hati-hati menggunakan sabun cair dan air,jangan menggunakan bedak atau talk jika akan disimpan).jika mengidap IMS, lakukan pemrosesan alat sesuai dengan pencegahan infeksi.

3 SPERMISIDA
Spermisida adalah bahan kimia (biasanya non oksinol-9) digunakan untuk menonaktifkan atau membunuh sperma. Dikemas dalam beberapa bentuk yaitu sebagai berikut :
• Aerosol (busa)
• Tablet vaginal, suppositoria, atau dissolvable film.
• Krim

a. Cara kerja :
Menyebabkan sel membran sperma terpecah, memperlambat pergerakan sperma, dan menurunkan kemampuan pembuahan sel telur.
b. Efek samping dan masalah :
1. Iritasi vagina
2. Iritasi penis dan tidak nyaman
3. Gangguan rasa panas di vagina
4. Kegagalan tablet tidak larut

c. Penanganan efek samping :
1. Periksa adanya vaginitis dan IMS. Jika penyebabnya spermisida, alihkan ke spermisida lainnya dengan komposisi kimia berbeda atau bantu klien memilih metode lain.
2. Periksa IMS, jika penyebabnya spermisida, alihkan ke spermisida lainnya dengan komposisi kimia berbeda atau bantu klien memilih metode lain.
3. Periksa reaksi alergi atau terbakar. Yakinkan bahwa rasa hangat adalah normal. Jika tidak ada perubahan, alihkan ke spermisida lainnya dengan komposisi kimia berbeda atau bantu klien memilih metode lain.
4. Pilih spermisida lain dengan komposisi kimia berbeda atau bantu klien memilih metode lain.














KONTRASEPSI KOMBINASI
(HORMON ESTROGEN DAN PROGESTERON)

1. PIL KOMBINASI
Pil kombinasi ini ada 3 jenis yaitu :
• Monofasik: Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.
• Bifasik: Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dengan dua dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif
• Trifasik: Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dengan tiga dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.

a. Cara kerja :

1. Menekan ovulasi
2. Mencegah implantasi
3. Lendir serviks mengental sehingga sulit dilalui oleh sperma.
4. Pergerakan tuba terganggu sehingga transportasi telur dengan sendirinya akan terganggu pula.

b. Efek samping :
1. Amenorea (tidak ada perdarahan, atau spotting)
2. Mual, pusing, atau muntah(akibat reaksi anafilaktik)
3. Perdarahan pervaginam/spotting

c. Penanganan efek samping :
1. Periksa Dalam atau tes kehamilan, bila tidak hamil dan klien minum pil dengan benar, tenanglah. Tidak datang haid kemungkinan besar karena kurang adekuatnya efek estrogen terhadap endometrium. Tidak perlu pengobatan khusus. Coba berikan pil dengan dosis estrogen 50 mg, atau dosis estrogen tetap, tetapi dosis progestin dikurangi. Bila klien hamil intrauterin, hentikan pil, dan yakinkan pasien, bahwa pil yang telah diminumnya tidak punya efek pada janin.

2. Tes kehamilan, atau pemeriksaan ginekologik. Bila tidak hamil, sarankan minum pil saat makan malam, atau sebelum tidur.


3. Tes kehamilan,atau pemeriksaan ginekologik.Sarankan minum pil pada waktu yang sama.jelaskan bahwa perdarahan/spotting hal yang biasa terjadi pada 3 bulan pertama,dan lambat laun akan berhenti.Bila perdarahan/spotting tetap saja terjadi,ganti pil dengan dosis estrogen lebih tinggi(50 mg) sampai perdarahan teratasi,lalu kembali ke dosis awal.Bila perdarahan/spotting timbul lagi,lanjutkan lagi dengan dosis 50 mg,atau ganti dengan metode kontrasepsiyang lain.


2 SUNTIKAN KOMBINASI
Jenis suntikan kombinasi adalah 25 mg Depo Medroksiprogesteron asetat dan 5 mg Estradiol Sipionat yang diberikan injeksi I M sebulan sekali (Cyclofem), dan 50 mg Noretindron Enantat dan 5 mg Estradiol Valerat yang diberikan injeksi I M sebulan sekali.

a. Cara kerja :
1. Menekan ovulasi
2. Membuat lendir serviks menjadi kental sehingga penetrasi sperma terganggu
3. Perubahan pada endometrium (atrofi) sehingga implantasi terganggu
4. Menghambat transportasi gamet oleh tuba

b. Efek samping :
1. Amenurea
2. Mual/pusing/Muntah
3. Perdarahan/perdarahan bercak(spotting)

c. Penangana efek samping
1. bila tidak terjadi kehamilan,dan tidak perlu diberi pengobatan khusus. Jelaskan bahwa darah haid tidak berkumpul dalam rahim. Anjurkan klien untuk kembali ke klinikbila tidak datangnya haid masih menjadi masalah.Bila klien hamil,rujuk klien.Hentikan penyuntikan,dan jelaskan bahwa hormon progestin dan estrogen sedikit sekali pengaruhnya pada janin.
2. Pastikan tidak ada kehamilan. Bila hamil, segera rujuk. Bila tidak hamil, informasikan bahwa hal ini adalah hal biasa dan akan hilang dalam waktu dekat.
3. Bila hamil, rujuk. Bila tidak hamil cari penyebab perdarahan yang lain. Jelaskan bahwa perdarahan yang terjadi merupakan hal biasa. Bila perdarahan berlanjut dan mengkhawatirkan klien, metode kontrasepsi lain perlu dicari.



















KONTRASEPSI PROGESTERON

1. KONTRASEPSI SUNTIKAN PROGESTIN
Tersedia 2 jenis kontrasepsi suntikan yang hanya mengandung progestin yaitu :
• Depo Medroksiprogesteron Asetat (Depoprovera), mengandung 150 mg DMPA, yang diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntik intramuskular (di daerah bokong)
• Depo Noretisteron Enantat (Depo Noristerat),yang mengandung 200 mg Noretindron Enantat, di berikan setiap 2 bulan dengan cara disuntik intramuskular.

a. Cara kerja :
1. Mencegah ovulasi
2. Mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma
3. Menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atrofi
4. Menghambat transportasi gamet oleh tuba

b. Efek samping :
a. Amenorea(tidak terjadi perdarahan/spotting).
b. Perdarahan/perdarahan bercak(spotting)
c. Meningkatnya/menurunnya berat badan

c. Penanganan efek samping :
1. Bila tidak hamil, pengobatan apapun tidak perlu. Jelaskan bahwa darah haid tidak terkumpul dalam rahim
Bila telah terjadi kehamilan, rujuk klien. Hentikan penyuntikan
Bila terjadi kehamilan ektopik, rujuk klien segera.
Jangan berikan terapi hormonal untuk menimbulkan perdarahan karena tidak akan berhasil. Tunggu 3-6 bulan kemudian, bila tidak terjadi perdarahan juga, rujuk ke klinik
2. Informasikan bahwa perdarahan ringan sering di jumpai, tetapi hal ini bukanlah masalah serius, dan biasanya tidak memerlukan pengobatan. Bila klien tidak dapat menerima perdarahan tersebut dan ingin melanjutkan suntikan, maka dapat disarankan 2 pilihan pengobatan
-1 siklus pil kontrasepsi kombinasi(30-35 mg etinilestradiol), ibuprofen (sampai 800mg, 3x/hari untuk 5 hari), atau obat sejenis lain.Jelaskan bahwa selesai pemberian pil kontrsepsi kombinasi dapat terjadi perdarahan. Bila terjadi perdarahan banyak selama pemberian suntikan ditangani dengan pemberian 2 tablet pil kontrasepsi kombinasi/hari selama 3-7 hari dilanjutkan dengan 1 siklus pil kontrasepsi hormonal, atau diberi 50 mg etinilestradiol atau 1,25 mg estrogen equin konjugasi untuk 14-21 hari
3. Informasikan bahwa kenaikan/penurunan berat dan sebanyak 1-2 kg dapat saja terjadi. Perhatikanlah diet klien bila perubahan berat badan terlalu mencolok. Bila berat badan berlebihan,hentikan suntikan dan anjurkan metode kontrasepsi lain.

2. KONTRASEPSI PIL PROGESTIN(MINIPIL)
• Kemasan dengan isi 35 pil: 300 mg levonorgestrel atau 350 mg noretindron.
• Kemasan dengan isi 28 pil : 75 mg desogestrel.

a. Cara kerja minipil :
1. Menekan sekresi gonadotropin dan sintesis steroid seks di ovarium (tidak begitu kuat)
2. Endometrium mengalami transformasi lebih awal sehingga implantasi lebih sulit.
3. Mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat penetrasi sperma.
4. Mengubah motilitas tuba sehingga transportasi sperma terganggu.

b. Efek samping :
1. Armenorea
2. Perdarahan tidak teratur/spotting

c. Penanganan efek samping :
1. Pastikan hamil atau tidak, bila tidak hamil, tidak perlu tindakan khusus. Cukup konseling saja. Bila amenorea berlanjut atau hal tersebut membuat klien khawatir, rujuk ke klinik.Bila hamil, hentikan pil, dan kehamilan dilanjutkan. Jelaskan kepada klien bahwa minipil sangat kecil menimbulkan kelainan pada janin.Bila diduga kehamilan ektopik, klien perlu dirujuk, jangan memberikan obat-obat hormonal untuk menimbulkan haid. Kalaupun diberikan tidak ada gunanya.
2. Bila tidak menimbulkan masalah kesehatan/tidak hamil, tidak perlu tindakan khusus. Bila klien tetap saja tidak dapat menerima kejadian tersebut, perlu dicari metode kontrasepsi lain.


3. KONTRASEPSI IMPLAN
Ada 3 jenis kontrasepsi implan yaitu:
1. Norplant
2. Implanon
3. Jadena dan Indoplant

1. Cara kerja :
1. Lendir serviks menjadi kental
2. Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi implantasi
3. Mengurangi transfortasi sperma
4. Menekan ovulasi

2. Efek samping :
1. Amenorea
2. Perdarahan bercak/spotting ringan
3. Ekspulsi
4. Infeksi pada daerah insersi
5. Berat badan naik/turun

3. Penanganan efek samping :
1. Pastikan hamil atau tidak, dan bila tidak hamil, tidak memerlukan penanganan khusus, cukup konseling saja.
Bila klien tetap saja tidak dapat menerima, angkat implan dan anjurkan menggunakan kontrasepsi lain.
Bila terjadi kehamilan dan klien ingin melanjutkan kehamilan, cabut implan dan jelaskan, bahwa progestin tidak berbahaya bagi janin. Bila diduga terjadi kehamilan ektopik, klien dirujuk. Tidak ada gunanya memberikan obat hormon untuk memancing timbulnya perdarahan.
2. Jelaskan bahwa perdarahan ringan sering ditemukan terutama pada tahun pertama. Bila klien tetap saja mengeluh masalah perdarahan dan ingin melanjutkan pemakaian implan dapat diberikan pil kombinasi satu siklus,atau ibuprofen 3 x 800 mg selama 5 hari.
3. Cabut kapsul yang ekspulsi,periksa apakah kapsul yang lain masih ditempat,dan apakah ada tanda-tanda infeksi daerah insersi.bila tidak ada infeksi dan kapsul lain masih berada dalam tempatmya,pasang kapsul baru 1 buah pada tempat yang berbeda.bila ada infeksi cabut seluruh kapsul yang ada dan pasang kapsul baru pada lengan yang lain,atau anjurkan klien menggunakan metode kontrasepsi lain.
4. Bila terdapat infeksi tanpa nanah, bersihkan dengan sabun dan air, atau antiseptik. Berikan antibiotik yang sesuai dalam 7 hari. Implan jangan dilepas dan klien diminta kembali satu minggu.Apabila tidak membaik, cabut implan dan pasang yang baru pada sisi lengan yang lain atau cari metode kontrasepai yang lain. Apabila ditemukan abses, bersihkan dengan antiseptik, insisi dan alirkan pus keluar, cabut implan, lakukan perawatan luka, dan berikan antibiotik oral 7 hari.
5. Informasikan kepada klien bahwa perubahan berat badan 1-2 kg adalah normal. Kaji ulang diet klien apabila terjadi perubahan berat badan 2 kg atau lebih. Apabila perubahan berat badan ini tidak dapat diterima, bantu klien mencari metode lain.

4. AKDR Dengan Progestin
Jenis AKDR yang mengandung hormon steroid adalah Prigestase yang mengandung Progesteron dari Mirena yang mengandung Levonorgestrel.
a. Cara kerja :
1. Endometrium mengalami transformasi yang ireguler,epitel atrofi sehingga mengganggu implantasi
2. Mencegah terjadinya pembuahan dengan mengeblok bersatunya ovum dengan sperma
3. Mengurangi jumlah sperma yang mencapai tuba falopii
4. Menginaktifkan sperma

b. Efek samping :
1. Amenorea
2. Kram
3. Perdarahan yang tidak teratur dan banyak
4. Benang hilang
5. Cairan vagina/dugaan penyakit radang panggul

c. Penanganan efek samping :

1. Pastikan hamil atau tidak. Bila klien tidak hamil, AKDR tidak perlu dicabut, cukup konseling saja. Jika terjadi kehamilan kurang dari 13 minggu dan benang AKDR terlihat, cabut AKDR. Jangan mencabut AKDR jika benangnya tidak terlihat dan kehamilannya > 13 minggu. Jika klien hamil dan ingin meneruskan kehamilannya tanpa mencabut AKDR-nya, jelaskan kepadanya tentang meningkatnya resiko keguguran, kehamilan preterm, infeksi dan kehamilannya harus diawasi ketet.

2. Pikirkan kemungkinan terjadi infeksi dan beri pengobatan yang sesuai. Jika kramnya tidak parah dan tidak ditemukan penyebabnya, cukup diberi analgetik saja. Jika penyebabnya tidakdapat ditemukan dan menderita kram berat, cabut AKDR, kemudian ganti dengan AKDR baru atau cari metode kontrasepsi lain.


3. Singkirkan infeksi panggul atau kehamilan ektopik,rujuk klien bila dianggap perlu.Bila tidak ditemukan kelainan patologik dan perdarahan masih terjadi,dapat diberin ibuprofen 3 x 800 mg untuk satu minggu ,atau pil kombinasi satu siklus saja.Bila perdarahan terus berlanjut sampai klien anemia,cabut AKDR dan bantu klien memilih metode kontrasepsi lain.

4. Periksa apakah klien hamil. Bila tidak hamil dan AKDR masih ditempat, tidak ada tindakan yang perlu dilakukan. Bila tidak yakin AKDR masih ada didalam rahim dan klien tidak hamil, maka klien dirujuk untuk dilakukan pemeriksaan rontgen/USG. Bila tidak ditemukan, pasang kembali AKDR sewaktu datang haid.


5. Bila penyebabnya kuman gonokokus atau klamidia, cabut AKDR dan berikan pengobatan yang sesuai. Bila klien dengan penyakit radang panggul dan tidak ingin memakai AKDR lagi berikan antibiotik selama 2 hari dan baru kemudian AKDR dicabut dan bantu klien memilih metode kontrasepsi lain.





ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM(AKDR)
a) Jenis :
1. AKDR CuT-380A: kecil,kerangka dari plastik yang fleksibel,berbentuk huruf T diselubungi oleh kawat yang terbuat dari tembaga(Cu).
2. NOVA T (Schering)

b) Cara kerja :
1. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii
2. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri.
3. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu
4. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus

c) Efek samping :
1. Amenorea
2. Kejang
3. Perdarahan vagina yang hebat dan tidak teratur
4. Benang yang hilang
5. Adanya pengeluaran cairan dari vagina/dicurigai adanya PRP

d) Penangana efek samping
1. Periksa apakah sedang hamil, apabila tidak, jangan lepas AKDR, lakukan konseling dan selidiki penyebab amenorea apabila dikehendaki. Apabila hamil jelaskan dan sarankan untuk melepas AKDR apabila talinya terlihat dan kehamilan < 13 minggu. 2. Pastikan dan tegaskan adanya penyakit radang panggul dan penyebab lain dari kekejangan. Beri analgetik untuk sedikit meringankan. Apabila kliem mengalami kejang yang berat, lepaskan AKDR dn bantu klien menentukan metode kontrasepsi yang lain. 3. Pastikan dan tegaskan adanya infeksi pelvik dan kehamilan ektopik. Lakukan konseling dan pemantauan. Beri ibuprofen (800 mg,3 x sehari selama satu minggu) untuk mengurangi perdarahan dan berikan tablet besi(1 tablet setiap hari selama 1-3 bulan). AKDR memungkinkan dilepas apabila klien menghendaki. 4. Pastikan adanya kehamilan atau tidak.Tanyakan apakah AKDR terlepas. Apabila tidak hamil dan AKDR tidak terlepas, berikan kondom. Periksa talinya didalam saluran endoserviks dan kavum uteri, apabila tidak ditemukan rujuklah ke dokter, lakukan X-ray atau pemeriksaan ultrasound. 5. Pastikan pemeriksaan untuk IMS. Lepaskan AKDR apabila ditemukan menderita atau sangat dicurigai menderita gonorhoe atau infeksi klamidia, lakukan pengobatan yang memadai. Bila PRP, obati dan lepas AKDR sesudah 48 jam. Apabila AKDR dikeluarkan, beri metode lain sampai masalahnya teratasi. KONTRASEPSI MANTAP 1. TUBEKTOMI Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk menghentikan fertilitas (kesuburan) seorang perempuan. a. Jenis : Minilaparatomi Laparaskopi b. Cara kerja : Dengan mengoklusi tuba falopii (mengikat dan memotong atau memasang cincin), sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan ovum. c. Efek samping : 1. Infeksi luka 2. Demam pascaoperasi (> 38 ’ c)
3. Luka pada kandung kemih,intestinal (jarang terjadi)
4. Hematoma(subkutan)
5. Emboli gas yang diakibatkan oleh laparaskopi(sangat jarang terjadi)
6. Rasa sakit pada lokasi pembedahan
7. Perdarahan superfisial

d. Penanganan :

1. Apabila terlihat infeksi luka,obati dengan antibiotik.
2. Obati infeksi berdasarkan apa yang ditemukan
3. Apabila kandung kemih atau usus luka dan diketahui sewaktu operasi,lakukan reparasi primer.Apabila ditemukan pascaoperasi,dirujuk ke rumah sakit yang tepat bila perlu.
4. Gunakan packs yang hangat dan lembab ditempat tersebut.
5. Ajukan ke tingkat asuhan yang tepat dan mulailah resusitasi intensif, termasuk cairan I.V.Resusitasi kardio pulmonar, dan tindakan penunjang kehidupan lainnya.
6. Pastikan adanya infeksi atau abses dan obati berdasarkan apa yang ditemukan.
7. Mengontrol perdarahan dan obati berdasarkan apa yang ditemukan.

2. VASEKTOMI
Vasektomi adalah prosedur klinik untuk menghintikan kapasitas reproduksi pria dengan jalan melakukan okulasi vasa diferensia sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi tidak terjadi.
a. Efek samping :

1. Infeksi kulit pada daerah operasi
2. Infeksi sistemik yang sangat mengganggu kondisi kesehatan klien.
3. Hidrokel atau varikokel yang besar
4. Hernia inguinalis
5. Filariasis
6. Undesensus testikularis
7. Massa intraskrotalis
8. Anemia berat,gangguan pembekuan darah

b. Penanganan :
1. Pertahankan band aid selama 3 hari
2. Luka yang sedang dalam penyembuhan jangan di tarik-tarik atau di garuk.
3. Boleh mandi setekah 24 jam,asal daerah luka tidak basa. Setelah 3 hari luka boleh dicuci dengan sabun dan air
4. Pakailah penunjang skrotum, usahakan daerah operasi kering
5. Jika ada nyeri, berikan 1-2 tablet analgetik seperti parasetamol atau ibuprofen setiap 4-5 jam
6. Hindari mengangkat barang berat dan kerja keras untuk 3 hari
7. Boleh bersenggama sesudah hari ke 2-3. Namun untuk mencegah kehamilan, pakailah kondom atau cara kontrasepsi lain selama 3 bulan atau sampai ejakulasi 15-20 kali
8. Periksa semen 3 bulan pascavasektomi atau sesudah 15-20 kali ejakulasi.

makalah kb,kelompok 1,kontarepsi sederhana

Tugas Makalah














Di Susun Oleh:

Kelompok 1

Rian Wahyu Lestari
Nurfaizah Alza
Riska Burhan
Mira Widyawati
Musdalifah
Aspirawati
Kiki Indrayanti



Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
2010





Puji syukur atas kehadirat Allah swt yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya dalam menyelesaikan tugas makalah yang berjudul:

“Kontrasepsi Metode Sederhana Dengan Alat dan Tanpa Alat”

Tidak lupa juga kami mengucapkan banyak terimakasih atas bimbingan yang diberikan oleh dosen mata kuliah pelayanan KB demi kesempurnaan makalah ini. makalah ini banyak menjelaskan tentang penggunaan, efektifitas, kekurangan dan kelebihan berbagai jenis alat kontrasepsi metode sederhana baik dengan alat dan tanpa alat.

Kami sebagai penyusun makalah ini sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca makalah ini sehingga menghasilkan nilai yang baik demi kesempurnaan makalah ini. Semoga setiap insan yang membaca makalah ini dapat memperoleh manfaatnya sehingga sasaran kami dapat tercapai.

Gowa , 01 Maret 2010


Penyusun



Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan semakin kompleks sebagai dampak positif kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan hasil pembangunan bangsa Indonesia.Masyarakat semakin peka terhadap pelayanan kesehatan yang bermutu dan semakin tahu haknya tentang pelayan yang seharusnya merka terima termaksuk pelayan KB yang menjadi tugas utama tim kesehatan.Sesuai dengan hasil surveipelayanan kontrasepsi nasional ternyata lebih dari 80% penduduk bertempat tinggal di desa dan 61% persalinannya ditolong oleh dukun sedangkan 32% ditolong oleh tim kesehatan.Pelayanan KB bagi ibu-ibu yang persalinannya ditolong oleh dukun,di rujuk kepada tim kesehatan.Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa 93% pelayanan KB diderah pedesaan ditangani oleh tenaga kesehatan termaksuk yang berpraktek swasta.Untuk menjawab tuntutan dan kebutuhan masyarakat dalam pelayanan KB tersebut maka tenaga kesehatan merasa bertanggung jawab untuk memenuhi harapan tersebut.

B. Tujuan umum
Untuk meningkatkan penampilan kerja tenaga kesehatan sesuai dengan standar profesi.



Bab II
Pembahasan

Kontrasepsi
Kontrasepsi ialah usaha-usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan. Usaha-usaha itu dapat bersifat sementara, dapat juga bersifat permanent. Yang bersifat permanent dinamakan pada wanita tubektomi dan pada pria vasektomi.
Sampai sekarang cara kontrasepsi yang ideal belum ada. Kontrasepsi ideal ini harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Dapat dipercaya
2. Tidak menimbulkan efek yang mengganggu kesehatan.
3. Daya kerjanya dapat diatur menurut kebutuhan
4. Tidak dapat menimbulkan gangguan sewaktu melakukan koitus.
5. Tidak memerlukan motivasi terus-menerus.
6. Mudah pelaksanaannya
7. Murah harganya sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
8. Dapat diterima penggunaannya oleh pasangan yang bersangkutan.





KONTRASEPSI DENGAN METODE SEDERHANA BAIK DENGAN ALAT MAUPUN TANPA ALAT

KONTRASEPSI TANPA MENGGUNAKAN ALAT-ALAT/OBAT-OBATAN

A. Sanggama terputus (Introitus Coitus)
Sengama terputus adalah metode keluarga berencana tradisional, di mana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum pria mencapai ejakulasi
Cara ini mungkin merupakan cara kontrasepsi yang tertua yang dikenal oleh manusia, dan mungkin masih merupakan cara yang banyak dilakukan sampai sekarang. Walaupun cara ini banyak mengalami kegagalan, namun koitus interuptus merupakan cara utama dalam penurunan angka kelahiran. Hal ini berdasarkan kenyataan, bahwa karena terjadinya ejakulasi di sadari sebelumnya oleh bagian terbesar pria, dan setelah itu masih-masih ada waktu kira-kira 1 detik sebelum ejakulasi terjadi. Waktu yang singkat ini dapat digunakan untuk menarik penis keluar dari vagina.

Cara kerja
Alat kelamin (penis) di keluarkan sebelum ejakulasi sehingga sperma tidak masuk ke dalam vagina sehingga tidak ada pertemuan antara sperma dan ovum, dan kehamilan.



Efektivitas
Efektivitas cara ini umumnya dianggap kurang, karena bahwa angka kehamilan dengan cara ini hanya sedikit lebih tiggi dari pada cara mempergunakan kontrasepsi mekanis dan kimiawi. Kegagalan dengan cara ini dapat disebabkan oleh:
Adanya pengeluaran air mani sebelum ejakulasi (Praejaculatori fluid) yang dapat mengandung sperma, apalagi pada koitus yang berulang (Repeated coitus)
Terlambatnya pengeluaran penis dari vagina
Pengeluaran semen dekat pada vulva dapat menyebabkan kehamilan, misalnya karena adanya hubungan antara vulva dan kanalis servikalis uteri oleh benang lendir serviks uteri yang ada pada masa ovulasi mempunyai spinnbarkeit yang tinggi
Keuntungannya.
Kontrasepsi
Efektif bila dilaksanakan dengan benar.
Tidak mengganggu produksi ASI
Dapat digunakan sebagai pendukung metode KB lainnya
Tidak ada efek samping
Dapat digunakan setiap waktu
Cara ini tidak membutuhkan biaya maupun peralatan.

Nonkontrasepsi
 Meningkatkan keterlibatan suami dalam keluarga berecana.
 Untuk pasangan memungkinkan hubungan lebih dekat dan pengertian yang sangat dalam

Kekurangan.
1. Untuk mensukseskan cara ini di butuhkan pengendalian diri yang besar dari pihak pria. Beberapa pria karena factor jasmani dan emosional tidak dapat mempergunakan cara ini. Selanjutnya, penggunaan cara ini dapat menimbulkan neurasteni.
2. Efektivitas sangat bergantung pada kesediaan pasangan untuk melakukan sangagama terputus setiap melaksanakannya angka Kegagalan 4-27 kehamilan per 100 perempuan per tahun)
3. Efektifitas akan jauh menurun apabila sperma dalam 24 jam sejak ejakulasi masih melekat pada penis.
4. Memutus kenikmatan dalam berhubungan seksual.

Dapat dipakai untuk:
Suami yang ingin berpatisipasi aktif dalam keluarga berencana
Pasangan yang taat beragama tau mempunyai alasan filosofi untuk tidak memakai metode-metode lain.
Pasangan yang memerlukan kontrasepsi dengan segera.
Pasangan yang memerlukan metode sementara, sambil menunggu metode yang lain.
Pasangan yang membutuhkan metode pendukung.
Pasangan yang melakukan hubungan seksual tidak teratur.

Tidak dapat di pakai untuk:
Suami dengan pengalaman ejakulasi dini
Suami yang sulit melakukan sanggama terputus
Suami yang memiliki kelaninan fisik atau psikologis
Istri yang mempnyai pasangan yang sulit bekerja sama.
Pasangan yang kurang dapat saling berkomunikasi.
Pasangan yang tidak bersedia melakukan sanggama terputus.

Intruksi Bagi Klien
Meningkatkan Kerja sama dan membangun saling pengertian sebelum melakukan hubungan seksual dan pasangan harus mendiskusikan dan menyepakati penggunaan metode senggama terputus.
Sebelum berhubungan pria terlebih dahulu mengosongkan kandung kemih dan membersihkan ujung penis untuk menghilangkan sperma dari ejakulasi sebelumnya.
Apabila merasa akan ejakulasi, pria segera mengeluarkan penisnya dari vagina pasangannya dan mengeluarkan sperma di luar vagina.
Pastikan pria tidak terlambat melaksanakannya.
Senggama tidak dianjurkan pada masa subur.

B. Pembilasan pascasanggama (Postcoital douche)
Pembilasan vagina dengan air biasa dengan air biasa dengan atau tanpa tambahan larutan obat (cuka atau obat lain) segera setelah koitus merupakan suatu cara yang telah lama sekali dilakukan untuk tujuan kontrasepsi, maksudnya ialah untuk mengeluarkan sperma secara mekanis dari vagina. Penambahan cuka ialah untuk memperoleh efek spermatisida serta menjaga asiditas vagina.

Efektivitas
Cara mengurangi kemungkinan terjadinya konsepsi hanya dalam batas-batas tertentu karena sebelum pembilasan dapat dilakukan, spermatozoa dalam jumlah besar sudah memasuki serviks uteri.

C. Metode Amenore Laktasi (MAL)
Sepanjang sejarah para wanita mengetahui bahwa kemungkinan untuk menjadi hamil menjadi kecil apabila mereka terus menyusui anaknya setelah melahirkannya. Maka, memperpanjang masa laktasi sering dilakukan untuk mencegah kehamilan. Laktasi dikaitkan dengan adanya prolaktenemi dan prolaktin menekan adanya ovulasi.
Metode amenore laktasi (MAL) aalah kontrasepsi yang mengandalakan pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif, artinya hanya di berikan ASI tanpa tambahan makanan atau minuman apapun lainnya.
MAL dapat dipakai sebagai kontrasepsi bila:
1. Menyusui secara penuh (full breast feeding); lebih efektif bila pemberian > 8 x sehari.
2. Belum haid
3. Umur bayi kurang dari 6 bulan

Efektifitas.
Menyusui anak mencegah ovulasi dan memperpanjang amenorea postpartum . akan tetapi, ovulasi pada suatu saat akan terjadi lagi, dan akan memdahului haid pertama setelah partus. Bila hal ini terjadi, maka konsepsi dapat terjadi selagi wanita tersebut masih dalam keadaan amenorea (membumbung = hamil kembali setelah melahirkan sebelum mandapat haid). Efektifnya sampai 6 bulan dan harus dilanjutkan dengan pemakaian metode kontrasepsi lainnya.

Cara kerja:
Penundaan/penekanan ovulasi.
Keuntungan kontrasepsi
 Efektifitas tinggi (keberhasilan 98% pada enam bulan pascapersalinan)
 Segera efektif
 Tidak mengganggu sanggama
 Tidak ada efek samping secara sistematik
 Tidak perlu pengawasan medis.
 Tidak perlu obat atau alat
 Tanpa biaya

Keuntungan Nonkontrasepsi
Untuk bayi.
 Mendapat kekebalan pasif (mendapatkan antibody perlindungan lewat ASI)
 Sumber asupan gizi yang terbaik dan sempurna untuk tumbuh kembang bayi yang optimal.
 Terhindar dari keterpaparan terhadap kontaminasi dari air, susu lain tau formula, atau alat minum yang di pakai.

Untuk ibu
 Mengurangi perdarahan pascapersalinan.
 Mengurangi risiko anemia
 Meningkatkan hubungan psikologi ibu dan bayi

Yang Dapat Menggunakan MAL
Ibu yang menyusui secara ekslusif, bayinya berumur kurang dari 6 bulan dan belum mendapat haid setelah melahirkan.

Yang tidak seharusnya tidak memakai MAL.
Sudah mendapat haid setelah bersalin.
Tidak menyusui secara eksklusif.
Bayinya sudah berumur lebih dari 6 bulan.
Bekerja dan terpisah dari bayi lebih lama dari 6 jam.

# Keadaan yang memerlukan perhatian #
Keadaan anjuran
Ketika mulai memberikan makanan pendamping secara teratur (menggantikan satu kali menyusui). Membantu klien memilih metode lain. Walaupun metode kontrasepsi lain dibutuhkan, klien harus di dorong untuk tetap melanjutkan pemberian ASI
Ketika haid sudah kembali Membantu klien memilih metode lain, walaupun metode kontrasepsi lain di butuhkan, klien harus di dorong untuk tetap melanjutkan pemberian ASI
Bayi menghisap susu tidak sering (on De mand) atau jika < 8 x sehari Membantu klien memilih metode lain. Walaupun metode kontrasepsi lain dibutuhkan klie harus di dorong untuk tetap melanjutkan pemberian ASI
Bayi berumur 6 bulan atau lebih Membantu klien memilih metode lain, walaupun metode kontrasepsi lain di butuhkan, klien harus di dorong untuk tetap melanjutkan pemberian ASI

D. Pantang berkala (Rhythim method)

Seorang wanita hanya dapat hamil selama beberapa hari saja dalam tiap daur haidnya. Masa subur yang disebut juga “fase Ovulasi” mulai 48 jam sebelum ovulasi dan berakhir 24 jam setelah ovulasi. Sebelum dan sesudah masa itu, wanita tersebut berada dalam masa tidak subur.
Kesulitan cara ini ialah bahwa waktu yang tepat dari ovulasi sulit untuk ditentukan; ovulasi umumnya terjadi 14  2 hari sebelum hari pertama haid yang akan datang. Dengan demikian, pada wanita dengan haid teratur, oleh salah satu sebab (misalnya karena sakit) ovulasi tidak datang pada waktu atau sudah datang sebelum saat semestinya.
Pada wanita-wanita dengan daur haid tidak teratur, akan tetapi dengan variasi yang tidak jauh berbeda, dapat diterapkan masa subur dengan suatu perhitungan, di mana daur haid terpendek dikurangi 18 hari dan daur haid terpanjang dikurangi 11 hari. Masa aman ialah sebelum daur haid terpendek yang telah dikurangi. Untuk dapat mempergunakan cara ini, wanita yang bersangkutan sekurang-kurangnya harus mempunyai catatan tentang lama daur haidnya selama 6 bulan, atau lebih baik jika wanita tersebut mempunyai catatan tentang lama daur haidnya selam satu tahun penuh.
Untuk memudahkan pemakaian cara ini, di bawah ini disajikan satu tabel untuk menentukan masa subur dan masa tidak subur.





Tabel menentukan masa subur dan masa tidak subur
Lamanya daur
Haid terpendek Hari pertama
masa subur Lamanya daur
Haid terpanjang Haid terakhir
Masa subur
21 hari
22 hari
23 hari
24 hari
25 hari
26 hari
27 hari
28 hari
29 hari
30 hari
31 hari
32 hari
33 hari
34 hari
35 hari Hari ke- 3
Hari ke- 4
Hari ke- 5
Hari ke- 6
Hari ke- 7
Hari ke- 8
Hari ke- 9
Hari ke-10
Hari ke-11
Hari ke-12
Hari ke-13
Hari ke-14
Hari ke-15
Hari ke-16
Hari ke-17 21 hari
22 hari
23 hari
24 hari
25 hari
26 hari
27 hari
28 hari
29 hari
30 hari
31 hari
32 hari
33 hari
34 hari
35 hari Hari ke- 10
Hari ke- 11
Hari ke- 12
Hari ke- 13
Hari ke- 14
Hari ke- 15
Hari ke- 16
Hari ke- 17
Hari ke- 18
Hari ke- 19
Hari ke- 20
Hari ke- 21
Hari ke- 22
Hari ke- 23
Hari ke- 24


Efektifitas.
Efektifitas dengan cara ini lebih tinggi apabila dibarengi dengan pengukuran suhu basal. Karena dengan pengukuran ini dapat ditentukan dengan tepat saat terjadinya masa ovulasi.

Manfaat
Kontrasepsi
 Dapat digunakan untuk menghindari atau mencapai kehamilan
 Tidak ada resiko kesehatan yang berhubungan dengan kontrasepsi
 Tidak ada efek samping sistemik
 Murah atau tanpa biaya.

Nonkontrasepsi
 Meningkatkan keterlibatan suami dalam keluarga berencana
 Menambah pengetahuan tentang system reproduksi pada suami dan istri
 Memungkinkan mengeratkan relasi/hubungan melalui peningkatan komunikasi antara suami-istri/pasangan.
Kekurangan
1. Sebagai kontrasepsi sedang (9-20 kehamilan per 100 perempuan selama tahun pertama pemakaian). Catatan untuk Metode Ovulasi Billings bila aturan ditaati kegagalan 0% (kegagalan metode/method failure dan 0 – 3% kegagalan pemakai user,s failure, yaitu pasangan dengan sengaja atau tanpa sengaja melanggar aturan untuk mencegah kehamilan.
2. Kefektifan tergantung dari kemauan dan disiplin pasangan untuk mengikuti intruksi.
3. Perlu ada pelatihan sebagai persyaratan untuk menggunakan jenis KBA yang paling efektif secara benar.
4. Di butuhkan pelatih/guru KBA (bukan tenaga medis)
5. Pelatih/guru KBA harus mampu membantu IBU mengenali masa suburnya, memotivasi pasangan untuk menaati aturan jika ingin menghindari kehamilan dan menyediakan alat Bantu jika diperlukan; misalnya buku catatan khusus, thermometer (oral atau suhu basal).
6. Perlu pantang selama masa subur untuk menghindari kehamilan
7. Perlu pencatatan setiap hari.
8. Infeksi vagian membuat lendir serviks sulit dinilai.
9. Thermometer basal diperlukan untuk metode tertentu.
10. Tidak terlindung dari IMS termasuk HBV (virus Hepatitis B) dan HIV/AIDS
E. Metode suhu basal.
Menjelang ovulasi suhu basal badan turun, kurang dari 24 jam sesudah ovulasi suhu badan naik lagi sampai tingkat lebih tinggi dari pada tingkat suhu sebelum ovulasi. Dan tetap tinggi sampai akan terjadinya haid. Bentuk grafik suhu basal badan dengan demikian adalah bifasis, dengan dataran pertama lebih rendah dari pada dataran kedua, dengan saat ovulasi diantaranya.
Pengukuran suhu basal badan diselenggarakan tiap hari sesudah haid berakhir sampai mulainya haid berikutnya. Usaha itu dilakukan sewaktu bangun pagi sebelum menjalankan kegiatan apa-apa, dengan memasukkan thermometer dalam rectum atau dalam mulut dibawah lidah selama 5 menit, suhu tubuh basal (BBT/basal body temperature) akan sedikit turun dan kemudian naik sebesar dan meresap sampai masa ovulasi berikutnya. Hal ini terjadi karena setelah ovulasi, hormone progesterone di sekresi oleh korpus luteum yang menyebabkan suhu tubuh basal wanita naik.
Klien disarankan mengukur suhu tubuhnya pada waktu yang sama setiap hari sebelum turun dari tempat tidur, apabila ia bekerja pada malam hari harus mengukur suhu tubuhnya, setelah tidur di sore hari. Ia harus mengukur suhu tubuhnya terlebih dahulu sebelum minum atau makan karena maka ada minum mempengaruhi suhu tubuhnya terlebih dahulu sebelum minum atau makan karena makan dan minum mempengaruhi suhu tubuh basal. Thermometer yang digunakan harus merupakan thermometer ovulasi yang di kalibrasi dalam ukuran 1/10 derajat dimana rentang dan . Thermometer digital dan elektronik dapat di gunakan yang membutuhkan waktu sekitar 45 detik baru di baca suhu dapat di ukur per oral, yang memutuhkan waktu 45 menit atau pervagina atau perrektal, yang membutuhkan waktu 3 menit. Suhu tubuh harus selalu diukur melalui rute yang sama unutk menghindari letak akuratan. Suhu tersebut di catat pada suatu gravid dimulai pada hari pertama masa menstruasinya ketika suhu tubuh telah naik dan berlangsung selama 3 hari maka pasangan tersebut dapat melakukan koitus tanpa perlindungan sampai hari pertama masa menstruasi berikutnya.
Dengan menggunakan suhu basal badan, kontrasepsi dengan jalan pantang berkala dapat ditingkatkan efektifitasnya. Akan tetapi harus diingat bahwa beberapa factor dapat menyebabkan kenaikan suhu basal badan tanpa terjadi ovulasi, misalnya infeksi, kurang tidur, minum alcohol, dan sebagainya.

Keuntungan
 Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pasangan terhadap masa subur
 Membantu wanita yang mengalami siklus tak teratur dengan cara mendeteksi ovulasi
 Dapat membantu menunjukkan perubahan tubuh lain seperti lendir serviks
 Berada dalam kendali wanita
 Dapat digunakan unutk mencegah atau meningkatkan kehamilan

Kerugian
 Membutuhkan motivasi
 Perlu diajarkan oleh spesialis keluarga berncana alami
 Suhu tubuh basal dipengaruhi oleh penyakit, gangguan tidur, stress, alcohol dan obat-obatan seperti aspirin
 Apabila suhu tubuh tidak diukur pada sekitar waktu yang sama setiap hari, ini akan menyebabkan ketidakakuratan suhu tubuh basal
 Tidak mendeteksi permulaan masa subur, sehingga, mempersulit umtuk mencapai kehamilan
 Membutuhkan masa pantang yang lama, karena ini hanya memdeteksi pascaovulasi

F. Metode lendir Serviks
Metode lendir serviks dilakukan dengan wanita mengamati lendir serviksnya setiap hari. Lendir bervariasi selama siklus setelah menstruasi ada sedikit lendir serviks dan ini sering kali disebut sebagai kering kadar hormone enstrogen dan progesterone rendah dan lendir tersebut dikenal. Sebagai lendir takkenal mungkin tak ada lendir serviks atau mungkin terlihat lengket dan jika direntangkan diantara dua jari akan terputus ketika ovum mulai matang, jumlah estrogen yang dihasilkan meningkat yang menyebabkan peningkatan lendir serviks. Hal ini menandai permulaan fase subur, kadar estrogen terus naik sebelum terjadi ovulasi dan jumlah lendir serviks meningkat dan menjadi jernih, apabila dipegang diantara dua jari, lendir dapat diregangkan dengan mudah tanpa terputus. Lendir ini digambar seperti putih telur mentah dan disebut lendir subur. Hari terakhir lendir ini disebut hari puncak lendir yang hanya dapat diidentifikasi secara retruspektif empat kali setelah hari puncak lendir, lendir tersebut menjadi kental, lengket, dan keruh, dan disebut sebagi lendir tak subur. Perubahan lendir ini, tejadi karena ovum telah dilepaskan dan kadar estrogen telah kurun.
Wanita diajar mengamati dan mencatat lendir serviksnya beberapa kali dalam sehari, baik dengan mengumpulkannya dengan kertas toilet ataupun dengan memasukkan jari tangannya kedalam vaginanya untuk memeriksa konsistensi dan tampilannya. Ia juga didorong untuk mengenali perubahan sensasi lendir serviksnya.

Kerugian
1. membutuhkan komitmen
2. perlu diajarkan oleh spesialis keluarga berencana alami
3. dapat membutuhkan 2 sampai 3 siklus untuk mempelajari metode
4. impeksi vagina dapat menyulitkan identifikasi lendir yang subur
5. beberapa obat yang digunakan mengobati flu dan sebagainya dapat menghambat produksi lendir serviks.
6. melibatkan sentuhan pada tubuh yang tidak disukai beberapa wanita
7. membutuhkan pantangan


keuntungan
1. dalam kendali wanita
2. memberi izin kepada pasangan menyentuh tubuhnya.
3. meningkatkan kesadaran terhadap perubahan pada tubuh
4. memperkirakan lendir yang subur sehingga memungkinkan kehamilan.
5. dapat digunakan menccegah kehamilan.





KONTRASEPSI DENGAN ALAT.
Kontrasepsi dengan menggunakan alat terdiri dari 2 yaitu:
 Secara mekanis
 Secara kimiawi

Kontrasepsi Secara Mekanis Untuk Pria

KONDOM.
Pemakaian kondom untuk tujuan kotrasepsi baru dimulai kira-kira pada abad ke-18 di Inggris. Pada mulanya kondom terbuat dari usus biri-biri. Pada tahun 1844 Goodyear telah berhasil membuat kondom dari karet. Kondom yang klasik terbuat dari karet (lateks) dan usus dari biri-biri. Yang kini paling umum di pakai ialah komdom dari karet; kondom ini umumnya mempunyai tebal kira-kira 0,05 mm. kini telah tersedia berbagai ukuran dengan berbagai macam warna. Dan pada waktu sekarang kondom telah dipergunakan secara luas di seluruh dunia dalam program keluarga berencana.
Prinsip kerja kondom ialah sebagai perisai dari penis sewaktu melakukan koitus, dan mencegah penggumpalam sperma dalam vagina. Bentuk kondom adalah silindris dengan pinggir yang tebal pada ujung yang terbuka sedang ujung yang buntu berfungsi sebagai penampung sperma. Diameternya biasanya kira-kira 31-36,5 mm dan panjang lebih kurang 19 mm. kondom dilapisi dengan pelicin yang mempunyai sifat spermatisid.
Efektifitas kondom ini tergantung dari mutu kondom dan dari ketelitian dalam penggunaannya.
Mengenai pemakaian kondom perlu diperhatikan hal-hal berikut.
 Jangan melakukan koitus sebelum kondom terpasang dengan baik.
 Pasanglah kondom sepanjang penis yang sedang dalam ereksi. Pada pria yang tidak bersunat, prepusium harus ditarik terlebih dahulu.
 Tinggalkan sebagian kecil dari ujung kondom untuk menampung sperma
 Pada kondom yang mempunyai kantong kecil di ujungnya. Keluarkanlah udara terlebih dahulu sebelum kondom di pasang.
 Pergunakanlah bahan pelicin secukupnya pada permukaan kondom untuk mencegah terjadinya robekan.
 Keluarkanlah penis dari vagina sewaktu masih dalam keadaan ereksi dan tahanlah kondom pada tempatnya ketika penis di keluarkan dari vagina, supaya sperma tidak tumpah.

Keuntungan
Selain untuk memberi perlindungan terhadap penyakit kelamin yaitu bisa juga di pergunakan untuk tujuan kontrasepsi.
Kekurangan.
 Ada kalanya pasangan yang mempergunakannya merasakan selaput karet tersebut sebagai penghalang dalam kenikmatan sewaktu melakukan koitus.
 Ada pula pasangan yang tidak menyukai kondom oleh karena adanya asosiasi dengan soal pelacuran.
 Kegagalan pemakaian kondom yaitu bocor atau koyaknya alat itu atau tumpahnya sperma yang di sebabkan oleh tidak dikeluarkannya penis segera setelah terjadi ejakulasi.


Efek Samping.
Efek samping kondom tidak ada, kecuali jika ada alergi terhadap bahan untuk membuat karet.

Kontrasepsi Secara Mekanis Untuk Wanita
Pessarium
Bermacam-macam pessarium telah di buat untuk tujuan kontrasepsi. Secara umum pessarium dapat di bagi atas 2 golongan, yakni;
 Diafragma vaginal
 Cervical cup

Diafragma Vaginal
Diafragma vaginal adalah kap berbentuk bulat cembung, terbuat dari lateks (karet) yang diensersikanke dalam vagina sebelum berhubungan seksual dan menutup serviks.
Dewasa ini diafragma vaginal terdiri atas kantong karet yang berbentuk mangkuk dengan per elastis pada pinggirnya. Per ini ada yang terbuat dari logam tipis yang tidak dapat berkarat, ada pula yang dari kawat halus yang tergulung sebagai spiral dan mempunyai sifat seperti per.
Ukuran diafragma vaginal yang beredar di pasaran mempunyai diameter antara 55 sampai 100 mm. tiap-tiap ukuran mempunyai perbedaan diameter masing-masing 5 mm. besarnya ukuran diafragma yang akan dipakai oleh akseptor di tentukan secara individual.
Diaframa dimasukkan ke dalam vagina sebelum koitus untuk menjaga jangan sampai sperma masuk ke dalam uterus. Untuk memperkuat khasiat diafragma, obat spermatisida dimasukkan ke dalam mangkuk dan dioleskan pada pinggirnya. Diafragma vaginal sering dianjurkan pemakaiannya dalam hal-hal seperti:
1) Keadaan dimana tidak tersedia cara yang lebih baik;
2) Jika frekuensi koitus tidak seberapa tinggi, sehingga tidak di butuhkan perlindungan yang terus-menerus;
3) Jika pemakaian pil, AKDR, atau cara lain harus dihentikan untuk sementara waktu oleh karena sesuatu sebab.
Pada keadaan-keadaan tertentu pemakaian difragma tidak dapat di benarkan misalnya pada:
 Sistokel yang berat
 Prolapsus uteri
 Fistula vagina
 Hiperantefleksio atau hiperretrofleksio uterus.
Diafragma paling cocok untuk di pakai pada wanita dengan dasar panggul yang tidak longgar dan dengan tonus dinding vagina yang baik.
Jenis-jenis:
1. Flat spring (flat metal band)
2. Coil Spring (coiled wire)
3. Arching Spring(kombinasimetal spring)
Cara kerja:
Menahan sperma agar tidak mendapatkan akses mencapai saluran alat reproduksi bagian atas(uterus dan tuba Fallopi) dan sebagai alat tempat spermisida.



Cara Pemakaian Diafragma Vaginal
Jika akseptor telah setuju mempergunakan cara ini, terlebih dahulu ditentukan ukuran difragma yang akan di pakai. Dengan mengukur jarak antara simfisis bagian bawah dan forniks vaginae posterior dengan menggunakan jari telunjuk dari jari tengah tangan dokter, yang dimasukkan ke dalam vagina akseptor. Kemudian kepadanya di terangkan anatomi alat-alat genital bagian dalam dari wanita, dan di jelaskan serta didemonstrasikan cara memasang diafragma vaginal. Pinggir mangkuk dijepit antara ibu jari telunjuk, dan difragma di masukkan ke dalam vagina sesuai dengan sumbunya.
Setelah selesai pemasangannya, akseptor harus meraba dengan jarinya bahwa porsio servisis uteri terletak di atas mangkuk, pinggir atas difragma di forniks vagina posterior, dan pinggir bawah dibawah simfisis, kemudian, akseptor di suruh sendiri memasang diafragma, mengontrol apakah letaknya sudah benar, dan akhirnya mengeluarkannya. Akseptor harus melatih diri untuk menggunakan diafragma. Jika perlu, pemasukan diafragma ke dalam vagina dapat dilakukan dengan menggunakan introducer. Difragma harus dimasukkan sebelum coitus; pemasukannya dapat dilakukan dalam posisi tidur terlentang, dengan kaki di bengkokkan dalam lutut dan kaki terbuka sedikit, dalam posisi berjongkok, atau dalam posisi berdiri dengan satu kaki di tinggikan.
Sebelum dimasukkan, obat spermatisida diletakkan dalam mangkuk diafragma serta di oleskan pada pinggirnya. Setelah coitus, diafragma tidak boleh segera di keluarkan, akan tetapi harus di tunggu 6 samapi 8 jam. Dalam waktu itu sperma dalam vagina di kirakan sudah mati.


Cara penyimpanan diafragma vaginal.
Setelah di pakai, diafragma vaginal di cuci dengan air dan sabun dingin sampai bersih, lalu di keringkan dengan kain halus, dan kemudian di beri bedak. Diafragma vaginal harus disimpan di tempat yang tidak boleh kena panas. Sekali-sekali diafragma harus diperiksa, apakah tidak bocor atau apakah cincin mangkuk tidak rusak. Jika di jaga dengan baik, diafragma dapat di pergunakan untuk selama kira-kira 1-1½ tahun.

Efek Samping.
Umumnya diafragma vaginal tidak menimbulkan banyak efek sampingan. Efek sampingan mungkin disebabkan oleh reaksi alergik terhadap obat-obat spermatisida yang dipergunakan, atau oleh karena terjadi perkembangbiakan bakteri yang berlebihan dalam vagina jika diafragma di biarkan terlalu lama terpasang di situ.

Kekurangan
Kekurangan khasiat diafragma vaginal ialah:
1. Di perlukan motivasi yang cukup kuat
2. Umumnya hanya cocok untuk wanita yang terpelajar dan tidak untuk dipergunakan secara massal.
3. Pemakaian yang tidak teratur dapat menimbulkan kegagalan
4. Tingkat kegagalan lebih tinggi dari pada pil atau AKDR
5. pada beberapa pengguna menjadi penyebab infeksi saluran urethra
6. pada 6 jam pasca hubungan seksual, alat masih harus berda di posisinya.
7. efektifitas sedang (bila digynakan dengan spermisida angka kegagalan 6-16 kehmilan per 100 perempuan pertahun pertama)


Keuntungan
a. Hampir tidak ada efek sampingan
b. Dengan motivasi yang baik dan pemakaian yang betul, hasilnya cukup memuaskan
c. Dapat dipakai sebagai pengganti pil AKDR pada wanita-wanita yang tidak boleh mempergunakan pil atau AKDR oleh karena suatu sebab.
d. Tidak mengganggu produksi ASI pada saat menyusui
e. Tidak mengganggu hubungan seksual karena terpasang sampai 6 jam sebelumnya.
f. Tidak mengganggu kesehatan klien
g. Salah stu perlindungan terhadap IMS/HIV/AIDS, khususnya apabila digunakan dengan spermisida
h. Bila digunakan pada saat haid, dapat menampung darah menstruasi


Cervical Cup
Cervical cap di buat dari karet atau plastic, dan mempunyai bentuk mangkuk yang dalam dengan pinggirnya terbuat dari karet yang tebal. Ukurannya ialah dari diameter 22 mm sampai 33 mm; jadi lebih kecil dari pada diafragma vaginal. Cap ini dipasang pada portio servisis uteri seperti memasang topi dan dirancang untuk terpasang pas di serviks dan adanya isapan bukan karena tegangan pegas seperti pada diafragma.

Variasi
Preventif cavity-rim cap, yang terbuat dari karet merah muda padat dengan tepi menebal yang membentuk lekuk kecil adalah tipe yang paling sering digunakan, lkuk ini di maksudkan untuk meningkatkan penghisapan kesisi serviks. Ukuran yang diukur dari garis tengah internal tepi, berkisar dari 21 sampai 31 mm sekarang sudah tersedia topi karet atau silicon satu ukuran yang lain.

Cara kerja
Dengan menutupi serviks topi berfungsi sebagai barier fisik terhadap masuknya sperma ke dalam kanalis servikalis.

Efektifivitas
Studi terakhir mendapati angka kehamilan bervariasi dari 8 sampai 20 per 100 tahun. Wanita sekitar separuh dari kehamilan tersebut disebabkan oleh kegagalan pemakai, dan penyebab utama lainnya adalh terlepasnya topi secara tidak sengaja sewaktu berhubungan intim.

Indikasi
Apabila ada permintaan untuk pessarium oklusif oleh seorang wanita yang tidak cocok menggunakan diaphragm, asalkan serviks normal dan sehat mengarah ke bawah sesuai sumbu vagina dan tidak menekik ke belakang.
Kontraindikasi
1. Serviks yang pendek atau rusak
2. Raba serviks purulen yang memberi kesan infeksi
3. Ketidakmampuan meraih serviks dengan jari tangan

Keuntungan
1. Cocok bagi wanita yang tonus ototnya lemah dan beberpa kasus prolaps uterovagina.
2. Tidak dirasakan oleh pasangan pria
3. Tidak ada pengurangan sensasi vagina
4. Pasnya topi di serviks tidak dipengaruhi oleh perubahan ukuran vagina, baik sewaktu berhubungan intim atau akibat perubahan berat tubuh
5. Tidak seperti diafragma, topi serviks dapat di pasang selama beberapa hari sebagian mengatakan bahwa topi dapat dipasang selam intervalantara menstruasi, walaupun hal ini tidak di anjurkan, praktik standar di Inggris menganjurkan pasien untuk tidak memakainya selama lebih dari 24 jam.kecil kemungkinannya menyebabkan gejala saluran kemih.

Kekurangan
1. Memerlukan pemilihan ukuran dan kecockan tapi yang akurat agar topi tidak terlepas sewaktu berhubungan intim
2. Pemasangan dan pengeluaran sendiri topi serviks lebih sulit dari pada diafragma
3. Dapat timbul bau tidak sedap apabila topi di pasang lebih dari satu atau dua hari.
Kondom Wanita
Kondom wanita adalah suatu sarung poliuretan dengan panjang 15 cm dan garis tengah 7 cm yang ujung terbukanya melekat kesuatu cincin poliuretan lentur, sebuah cincin poliuretan (yang dapat dilepas) di dalam kondom berfungsi sebagai alat untuk memasang dan melekatkan kondom ini divagina.
Kondom ini memiliki satu ukuran dengan pelumas berbahan dasar silicon dan tidak memerlukan pelumas spermisida serta hanya sekali pakai, alat ini dapat dibeli tanpa resep dengan nama dagang femidom (reality di Amerika utara dan femy di Spanyol) apabila pasangan telah terbiasa memakainya maka respon merugikan yang terjadi pada awal pemakaian kondom wanita jelas akan berkurang.

Cara kerja.
Seperti metode barier lainnya, kondom wanita mencegah spermatozoa mencapai saluran genital wanita.

Efektivitas
studi mengenai efektivitas kondom wanita menunjukkan bahwa kondom ini sama efektifnya dengan diafragma, angka kegagalan berkisar dari 5 sampai per 100 tahun wanita, wanita yang memliki motivasi kuat dan menggunakannya dengan benar dan konsistensi dapat diharapkan memiliki angka kegagalan yang rendah.


Indikasi
Apabila pasangan menghendaki pihak wanita yang menggunakan metode barier reversible sebagi kontrasepsi
Untuk perlindungan maksimum terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS)

Kontraindikasi
Beberapa pasangan secara psikologis tidak dapat menerima pemakaian kondom wanita.

Keunggulan
1. Suatu metode kontrasepsi efektif yang dikendalikan oleh wanita
2. Dapat di beli tanpa resep di sebagian besar apotik dan dapat diperoleh secara gratis dari beberapa klinik keluarga berencana
3. Memberikan perlindungan sangat tinggi terhadap IMS dengan cara melindungi vulva dan uretra Study in vitro menunjukkan bahwa tidak ada kebocoran HIV atau sitomegalovirus melalui kondom wanita.
4. Lebih kuat dari pada kndom pria yang terbuat dari lateks dengan resiko robek lebih kecil serta tidak melemah oleh preparat-preparat vagina berbahan dasar minyak
5. Bagi pasangan pria, penurunan kenikmatan lebih kecil di bandigkan dengan kondom lateks.
6. Dapat di pasang jauh sebelum hubungan intim (yi; beberapa jam)dan juga di biarkan beberapa waktu setelah ejakulasi sehingga proses hubungan intim tidak terganggu.


Kekurangan
Penampilan kurang menarik
1. Kenikmatan terganggu dan timbul suara “gemerisik” sewaktu berhubungan intim.
2. Proses pemasangan awal mungkin sulit tetapi dengan pemakaian berulang hal ini biasanya cepat diatasi
3. Kadang-kadang dapat terdorong seluruhnya masuk kedalam vagina atau penetrasi dapat terjadi keluar kondom tersebut
4. Mahal sedang dilakukan riset untuk mengembangkan kondom wanita yang dapat dicuci yang dapat digunkan kembali.

Petunjuk pemakaian
1. Masukkan kondom wanita dengan posisi berjongkok, dengan 1 kaki diatas kursi atau berbaring
2. Tekan cincin bagian dalam, yang ditutupi oleh sarung, diantara jempol dan jari lain maukkan akondom kedalam vagina seperti memasukkan tampon
3. Setelah kondom berada pada vagina dorong cincin dalam setinggi sehingga cincin tersebut akan tetap pada posisi tersebut sewaktu berhubungan intim
4. Cincin luar harus melekat erat ke vulva
5. Segera setelah hubungan intim, pegang cincin luar dan tarik keluar kondom secara hati-hati
6. Buang di tempat sampah dan jangan dimasukkan ke dalam toilet.






Kontrasepsi secara kimiawi/obat-obatan

Spermisida (spermatisida)
Penggunaan obat-obat spermatisida untuk tujuan kontrasepsi telah di kenal sejak zaman dahulu. Berbagai bahan telah digunakan dalam berbagai bentuk untuk dimasukkan ke dalam vagina.
Obat spermatisida yang dipakai terdiri dari atas 2 komponen, yaitu zat kimiawi yang mampu mematikan spermatozoon. Dan vehikulum yang non aktif dan yang diperlukan untuk membuat tablet atau cream/jelly. Makin erat hubungan antara zat kimia dan sperma, makin tinngi efektifitas obat. Oleh sebab itu, obat yang paling baik adalah yang dapat membuat busa setelah di masukkan ke dalam vagina, sehingga kelak busanya dapat mengelilingi serviks uteri dan menutup ostium uteri eksternum. Cara kontrasepsi dengan obat spermatisida umumnya di gunakan bersama-sama dengan cara lain . efek sampingan jarang terjadi dan umumnya berupa reaksi alergik.
Spermisida adalah bahan kimia (biasanya non oksinol-9) digunakan untuk menonaktifkan atau membunuh sperma. Dikemas dalam bentuk :
Aerosol (busa)
Tablet vaginal, suppositoria atau dissolvable film.
Krim.

Cara kerja
Menyababkan sel membran sperma terpecah, memperlambat pergerakan sperma, dan menurunkan kemampuan pembuahan sel telur.

Pilihan
 Busa (aerosol) efektif segera setelah insersi
 Busa spermisida dianjurkan apabila digunakan hanya sebagai metode kontrasepsi
 Tablet vagina, suppositoria dan film penggunaanya disarankan menunggu 10-15 menit sesudah dimasukkan sebelum hubungan seksual.
 Jenis spermisida jelli biasanya hanya digunakan dengan diagfragma.

Manfaat
Kontrasepsi
1. efektif seketika (busa dan krim).
2. tidak menggangu produksi ASI.
3. bisa digunakan sebagai metode lain.
4. tidak mengganggu kesehatan klien.
5. tidak mempunyai pengaruh sistemik.
6. mudah digunakan.
7. meningkatkan lubrikasi selama hubungan seksual.
8. tidak perlu resep dokter atau pemerikasaan khusus.

Nonkontrasepsi
Merupakan salah satu perlindungan terhadap IMS termasuk HBV dan HIV/AIDS.

Keterbatasan
 Efektifitas kurang (18-29 kehamilan per 100 perempuan per tahun pertama).
 Efektifitas sebagai kontrasepsi bergantung pada kepatuhan mengikuti cara penggunaan.
 Ketergantungan pengguna dari motifasi berkelanjutan dengan memakai setiap melakukan hubungan seksual.
 Pengguna harus menunggu 10-15 menit setelah aplikasi sebelum melakukan hubungan seksual (tablet busa vagina, suppositoria dan film).
 Efektifitas aplikasi hanya 1-2 jam.

Seleksi klien pengguna spermisida
S P E R M I S I D A
Sesuai untuk klien yang Tidak sesuai untuk klien yang
 Tidak dianjurkan metode kontrasepsi hormonal, seperti perokok atau diatas usia 35 thn
 Tidak menyukai penggunaan AKDR
 Menyusui dan perlu kontrasepsi


 Memerlukan proteksi terhadap IMS
 Emerlukan metode sederhana sambil menunggu metode yang lain  Berdasarkan umur dan paritas seta masalah kesehatan menyebabkan kehamilan resiko tinggi
 Terinfeksi saluran uretra
 Tidak stabil psikis atau tidak suka menyetuh alat kelaminnya (vulva dan vagina)
 Mempunyai riwayat sindrom syok karena keracunan
 Ingin metode KB efektif





Penanganan Efek Samping Dan Masalah Lain :
Efek Samping dan Masalah Penanganan
Iritasi vagina Periksa adanya vaginitis dan IMS. Jika penyebabnya spermisida, alihkan ke spermisida lainnya dengan komposisi kimia berbeda atau Bantu klien memilih metode lain.
Iritasi penis dan tidak nyaman Periksa IMS, jika penyebabnya spermisida, alihkan ke spermisida lainnya dengan komposisi kimia berbeda atau bantu klien memilih metode lain.
Gangguan rasa panas di vagina Periksa reaksi alergi atau terbakar. Yakinkan bahwa rasa hangat adalah normal. Jika tidak ada perubahan, alihkan ke spermisida lainnya dengan komposisi kimia berbada atau Bantu klien memilih metode lain.
Kegagalan tablet tidak larut Pilih spermisida lain dengan komposisi kimi berbeda atau Bantu klien memilih metode lain.




Cara penggunaan/instruksi bagi klien
 Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum mengisi aplikator(busa atau krim)dan insersi spermisida.
 Penting untuk menggunakan spermisida setiap melakukan aktivitas hubungan seksual.
 Jarak tunggu sesudah memasukkan tablet vagina atau suppositoriaadalah 10-15 menit.
aerosol(busa)
Kocok tempat aerosol 20-30 menit sebelum digunakan.
Tempatkan kontainer dengan posisi ke atas,letakkan aplikator pada mulut container,dan tekan aplikator untuk mengisi busa.
Sambil berbaring lakukan insersi aplikator kedalam vagina mendekati serviks.Dorong sampai busa keluar.
Aplikator segera dicuci pakai sabun dan air,tiriskan,dan keringkan.Jangan berbagi aplikator dengan orang lain.

tablet vagina atau suppositoria atau film/tissue
 Cuci tangan sebelum membuka paket.
 Lepaskan tablet atau suppositoria dari paket.
 Sambil berbaring masukkan tablet vagina atau suppositoria jauh kedalam vagina.
 Tunggu 10-15 menit sebelum mulai berhubungan seksual.
 Sediakan selalu ekstra pengadaan tablet vagina atau suppositoria di tempat.
Catatan: Beberapa busa dari tablet vagina menyebabkan rasa hangat di vagina.Itu normal-normal saja.




Krim
 Insersi kontrasepsi krim setelah dikemas di dalam aplikator sampai penuh,masukkan ke dalam vagina sampai mendekati serviks.
 Tekan alat pendorong sampai krim keluar.idak perlu menunggu kerja krim.
 Aplikator harus dicuci dengan sabun dan air sesuai dengan pencegahan infeksi untuk alat-alat,tiriskan dan keringkan.
 Untuk memudahkan pembersihan alat,pisahkan bagian-bagiannya.jangan berbagi aplikator dengan orang lain.
 Sediakan selalu ekstra pengadaan krim terutama apabila ternyata container kosong.

Kini dipasaran terdapat banyak obat-obat spermatisida, antara lain dalam bentuk:
Suppositorium: Lorofin Suppositoria, rendel pessaries. Soppositurium di masukkan sejauh mungkin ke dalam vagiana sebelum coitus. Obat ini baru mulai aktif setelah 5 menit. Lama kerjanya kurang lebih 20 menit sampai 1 jam.
Jelly atau creme: 1)Perseptin vaginal jelly,orthogynol vaginal jelly, 2)Delven vaginal creme.jelly lebih encer dari pada creme.obat ini disemprotkan ke dalam vagina dengan menggunakan suatu alat.lama kerjanya kurang lebih 20 sampai 1 jam.
Tablet busa:Sampoon,volpar,Syn-A-Gen.Sebelum digunakan,tablet terlebih dahulu dicelupkanke dalam air,kemudian dimasukkan kedalam vagina sejauh mungkin.Lama kerjanya 30 sampai 60 menit.
C-film,yang merupakan benda yang tipis ,dapat lipat,dan larut dalam air.Dalam vagina obat ini merupakan gel dengan tingkat disperse yang tinggi dan menyebar pada porsio uteri dan vagina.Obat mulai efektif setelah 30 menit.