Jumat, 05 Maret 2010

makalah kb

STERELISASI PADA WANITA DAN PRIA (TUBEKTOMI DAN VASEKTOMI)

KELOMPOK 3
Tasliyah Noor Ningtiyas
Ratnah Natsir
Srianti Natsir
Jusriani
Zaidah Z
Israwati Rajuddin
Irmawati

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
FAKULTAS ILMU ILMU KESEHATAN
PRODI KEBIDANAN
2009
STERELISASI PADA WANITA DAN PRIA (TUBEKTOMI DAN VASEKTOMI)
A. DEFENISI STERELISASI
Sterilisasi termasuk membuat seseorang tidak mampu bereproduksi.
• Menghalangi saluran yang membawa sperma atau sel telur mengakhiri kemampuan untuk reproduksi.
• Vasektomi adalah prosedur cepat untuk pria, dilakukan di ruang dokter.
• Tubal ligation. Prosedur untuk wanita, lebih rumit, memerlukan sayatan perut dan bius.
Di Amerika Serikat, sekitar sepertiga pasangan menikah yang menggunakan metode perencanaan keluarga memilih sterilisasi (vasektomi atau tubal ligation). Sterilisasi harus selalu dipertimbangkan permanen. Meskipun begitu, jika pasangan merubah pikiran mereka, operasi yang menghubungkan kembali pipa yang tepat (reanastomosis) bisa dilakukan untuk berusaha mengembalikan kesuburan, atau konsepsi menjadi mungkin dengan pembuahan vitro. Reanastomosis tidak mungkin efektif pada pria dibandingkan wanita. Untuk pasangan, tingkat kehamilan adalah 45 sampai 60% setelah reanastomosis pada pria dan 50% sampai 80% setelah reanastomosis pada wanita.
B. VASEKTOMI
PELAKSANAAN PELAYANAN
Tempat Pelayanan
Vasektomi dapat dilakukan di fasilitas kesehatan umum yang mempunyai ruang tindakan untuk bedah minor,ruangan tersebut sebaiknya:
• Mendapat penerangan yang cukup
• Lantainya terbuat dari semen atau keramik agar mudah dibersihkan,bebas debu dan serangga
• Sedapat mungkin dilengkapi dengan alat pengatur suhu ruangan/air condition.Bila tidak memungkinkan ,ventilasi ruangan harus sebaikmungkin dan apabila jendela dibuka ,tirai harus terpasang baik dan kuat.
Persiapan Klien
1. Klien sebaiknya mandi serta menggunakan pakaian yang bersih dan longgar sebelum mengunjungi klinik.bila klien tidak cukup waktu untuk mandi,klien dianjurkan untuk membersihkan daerah skrotum dan inguinal/lipat paha sebelum masuk ke ruang tindakan.
2. Klien dianjurkan untuk membawa celana khusus untuk menyangga skrotum.
3. Rambut pubis cukup digunting pendek bila menutupi daerah operasi.
4. Cuci/bersihkan daerah operasi dengan sabun dan air kemudian ulangi sekali lagi dengan larutan antiseptic atau langsung diberi antiseptic (povidon iodin).
5. Bila dipergunakan larutan povidon Iodin seperti Betadin,tunggu 1 atau 2 menit hingga yodium bebas yang terlepas dapat membunuh mikroorganisme.
Kelengkapan untuk Klien dan Petugas
Karena vesektomi merupakan tindakan bedah minor dan kadang memerlukan insisi yang kecil/tanpa insisi sehingga hanya meliputi daerah superficial,maka:
• Klien dapat menggunakan pakaian sendiri asal terjamin kebersihannya.
• Operator dan petugas tidak harus menggunakan topi bedah,masker,atau baju operasi.
Pencegahan Infeksi
1.Sebelum tindakan
• Cuci dan gosok skrotum,penis dan daerah pubis dengan sabun dan bilas dengan air yang bersih.setelah itu,oleskan cairan antiseptic pada daerah operasi.
• Operator mencuci tangan dengan larutan antiseptic dan membilasnya dengan air yang bersih.
2.Selama tindakan
• Gunakan instrument yang telah disterilisasikan atau disinfeksi tingkat tinggi,termasuk sarung tangan dan kain penutup.
• Lakukan dengan tingkat keterampilan yang tinggi sehingga akan sangat mengurangi risiko perdarahan dan infeksi.
3.Setelah tindakan
• Sementara masih menggunakan sarung tangan operator,membuang bahan-bahan yang terkontaminasi (kapas,kain kasa atau bahan lainnya) ke dalam wadah atau kantong plastic yang tertutup rapat.
• Lakukan tindakan dekontaminasi dengan larutan klorin 0,5 % pada instrument atau alat yang masih akan digunakan lagi,baik sementara dalam ruangan tindakan maupun sebelum dilakukan pencucian.
• Lakukan dekontaminasi pada meja operasi,meja instrument,lampu dan benda/perlengkapan lain yang mungkin terkontaminasi selama tindakan berlangsung.
• Cuci tangan setelah melepas sarung tangan
TEKNIK VASEKTOMI STANDAR
Ada beberapa langkah yaitu sebagai berikut:
• Celana dibuka dan baringkan pasien terlentang.
• Daerah kulit skrotum ,penis,supra pubis dan bagian dalam pangkal paha kiri kanan dibersihkan dengan cairan yang tidak merangsang seperti larutan iodofor (Betadine) 0,75% atau larutan klorheksidin (Hibiscrub) 4%.
• Tutuplah daerah yang telah dibersihkan tersebut dengan kain steril berlubang pada tempat skrotum ditonjolkan keluar.
• Tepat di alinea mediana di atas vas deferens,kulit skrotum diberi anastesi local (Prokain atau Xilokain 1%) 0,5ml,lalu jarum diteruskan masuk dan didaerah distal proksimal vas deferens dideponir lagi masing-masing 0,5ml.
• Kulit skrotum diiris longitudinal 1 sampai 2 cm,tepat diatas vas deferens yang telah ditonjolkan kepermukaan kulit.
• Setelah kulit dibuka ,vas deferens dipegang dengan klem,disiangi tampak vas deferens mengkilat seperti mutiara,perdarahan dirawat dengan cermat.sebaiknya ditambah lagi obat anastesi kedalam fasia disayat longitudinal sepanjang 0,5 cm.
• Jepitlah vas deferens dengan klem pada dua tempat dengan jarak 1-2 cm dan ikat dengan benang kedua ujungnya. Setelah diikat jangan dipotong dulu. Tariklah benang yang mengikat kedua ujung vas deferens tersebut untuk melihat kalau ada perdarahan yang tersembunyi. Jepitan hanya pada titik perdarahan, jangan terlalu banyak, karena dapat menjepit pembuluh darah lain seperti arteri testikularis atau deferensialis yang berakibat kematian testis itu sendiri.
• Potonglah diantara dua iktan tersebut sepanjang 1 cm. Gunakan benang sutera no.00,0, atau 1 untuk mengikat vas tersebut. Ikatan tidak boleh terlalu longgar tetapi juga jangn terlalu keras karena dapat memotong vas deferens
• Untuk mencegah rekanalisasi spontan yang dianjurkan adalah dengan melakukan interposisi fasia vas deferens, yakni menjahit kembali fasia yang terluka sedemikian rupa, vas deferens bagian distal(sebelah ureteral dibenangkan dalam fasia dan vas deferens bagian proksimal sebelah testis) terletak diluar fasia.
• Lakukanlah tindakan diatas (langkah 6-9) untuk vas deferens kanan dan kiri yang setelah selesai, tutuplah kulit dengan 1-2 jahitan plain catgut No.000 kemudian rawat luka operasi sebagaimana mestinya, tutup dengan kasa steril dan diplester.


TEKNIK VASEKTOMI TANPA PISAU
Langkah 1. Celana dibuka dan baringkan pasien dalam posisi terlentang.
Langkah 2. Rambut di daerah skrotum dicukur sampai bersih.
Langkah 3. Penis diplester ke dinding perut.
Langkah 4. Daerah kulit skrotum ,penis,supra pubis dan bagian dalam pangkal paha kiri kanan
dibersihkan dengan cairan yang tidak merangsang seperti larutan iodofor (Betadine) atau larutan klorheksidin (Hibis crub)4%.
Langkah 5. Tutuplah daerah yang telah dibersihkan tersebut dengan kain steril berlubang pada tempat skrotum yang ditonjolkan keluar.
Langkah 6. Tepat di linea mediana di atas vas deferens,kulit skrotum diberi anastesi local (Prokain atau Novokain atau Xilokain 1%) 0,5 ml,lalu jarum diteruskan masuk sejajar vas deferens ke arah distal,kemudian dideponir lagi masing-masing 3-4 ml,prosedur ini dilakukan sebelah kanan dan kiri.
Langkah 7. Vas deferens dengan kulit skrotum yang ditegangkan difiksasi dalam lingkaran klem fiksasi pada garis tengah skrotum. Kemudian klem direbahkan kebawah sehingga vas deferens mengarah kebawah kulit.
Langkah 8. Kemudian tusuk bagian yang paling menonjol dari vas deferens, tepat di sebelah distal lingkaran klem dengan sebelah ujung klem diseksi dengan membentuk sudut ±45 derajat. Sewaktu memasukkan vas deferens sebaiknya sampai kena vas deferens; kemudian klem diseksi kemudian ditarik, tutupkan ujung – ujung klem dimasukkan kembali dalam lobang tusukan, searah jalannya vas deferens.
Langkah 9. Renggangkan ujung klem pelan – pelan. Semua lapisan jaringan dari kulit sampai dinding vas deferens akan dapat dipisahkan dalam satu gerakan. Setelah itu dinding vas deferens yang telah telanjang dapat terlihat.
Langkah 10. Dengan ujung klem yang diseksi menghadap ke bawah, tusukkan salah satu ujung klem ke dinding vas deferens; dan ujung klem diputar menuju arah jarum jam, sehingga ujung klem menghadap ke atas. Ujung klem pelan – pelan dirapatkan dan pegang dinding anterior vas deferens. Lepaskan klem fiksasi dari kulit dan pindahkan untuk memegang vas deferens telah terbuka. Pegang dan fiksasi vas deferens yang sudah telanjang dengan klem fiksasi lepaskan klem yang diseksi.
Langkah 11. Pada tempat vas deferens yang melengkung, jaringan sekitarnya dipisahkan pelan – pelan bawah dengan klem diseksi. Kalau lobang telah cukup luas, lalu klem diseksi dimasukkan ke lobang tersebut. Kemudian buka ujung – ujung klem pelan – pelan parallel dengan arah vas deferens yang diangkat. Diperlukan kira – kira 2 cm vas deferens yang bebas. Vas deferens di-crush secara lunak dengan klem seksi, sebelum dilakukan ligasi dengan benang sutera 3 – 0.
Langkah 12. Diantara dua ligasi kira – kira 1 – 1,5 cm vas deferens dipotong dan diangkat. Benang pada putung distal sementara tidak dipotong. Control perdarahan dan kembalikan putung – putung vas deferens dalam skrotum.
Langkah 13. Tarik pelan – pelan benang pada putung yang distal. Pegang secara halus fasia vas deferens dengan klem diseksi dan tutup lobang fasia dengan mengikat sedemikian rupa sehingga putung bagian epididimis tertutup dan putung distal ada diluar fasia.
Apabila tidak ada perdarahan pada keadaan vas deferens tidak tegang, maka benang yang terakhir dapat dipotong dan vas deferens dikembalikan dalam skrotum.
Langkah 14. Lakukanlah tindakan diatas untuk vas deferens sebelah yang lain, melalui luka di garis tengah yang sama. Kalau tidak ada perdarahan, luka kulit tidak perlu dijahit hanya diaproksimasikan dengan Band aid atau tensoplas.
KEMUNGKINAN PENYULIT DAN CARA MENGATASINYA
• Perdarahan
Apabila perdarahan sedikit, cukup dengan pengamatan saja, bila banyak, hendaknya dirujuk segera ke fasilitas kesehatan lain yang lebih lengkap. Di sini akan dilakukan operasi kembali dengan anastesi umum, membuka luka, mengeluarkan bekuan-bekuan darah dan kemudian mencari sumber perdarahan serta menjepit dan mengikatnya. Setiap keluhan pembengkakan isi skrotum pascavasektomi hendaknya dicurigai sebagai perdarahan dan lakukan pemeriksaan yang seksama. Bekuan darah didalam skrotum yang tidak dikeluarkan akan mengundang kuman – kuman dan menimbulkan infeksi.

• Hematoma
Biasanya terjadi bila daerah skrotum diberi beban yang berlebihan, missal naik sepeda. Duduk terlalu lama dalam kendaraan dengan jalanan yang rusak dan sebagainya.

• Infeksi
Infeksi pada kulit skrotum cukup dengan mengobati menurut prinsip pengobatan luka kulit. Apabila basah, dengan kompres (dengan zat yang tidak merangsang). Apabila kering dengan menggunakan salep antibiotika. Apabila terjadi infiltrat di dalam kulitskrotum di tempat vasektomi sebaiknya segera dirujuk ke rumah sakit. Di sini pasien akan diistirahatkan dengan berbaring, kompres es, pemberian antibiotika, dan pengamatan apabila infiltrate menjadi abses. Mungkin juga terjadi epididimtis, orkitis atau epididimiorkitis. Dalam keadaan seperti ini segera dirujuk, di sini akan dilakukan istirahat baring, kompres es, pemberian antibiotika, dan analgetik.
• Granuloma Sperma
Dapat terjadi pada ujung proksimal vas atau pada epididimis. Gejalanya merupakan benjolan kenyal dan kadang – kadang keluhan nyeri. Granuloma sperma dapat terjadi 1-2 minggu sete;lah vasektomi. Pada keadaan ini dilakukan eksisi granuloma dan mengikat kembali vas deferens. Terjadi pada 0,1-30% kasus
• Antibodi Sperma
Separuh sampai dua pertiga akseptor vasektomi akan membentuk antibody terhadap sperma. Sampai kini tidak pernah terbukti ada penyulit yang disebabkan adanya antibodi tersebut.
• Kegagalan Sperma
Walaupun vasektomi dinilai paling efektif untuk mengontrol kesuburan pria, namun masih mungkin dijumpai suatu kegagalan.
Vasektomi dianggap gagal bila :
• Pada analisis sperma setelah tiga bulan pascavasektomi atau setelah 15-20 kali ejakulasi masih dijumpai spermatozoa.
• Dijumpai spermatozoa setelah sebelumnya azoosperma
• Istri (pasangan) hamil
PERAWATAN DAN PEMERIKSAAN PASCABEDAH VASEKTOMI
Setiap pascatindak pembedahan betapapun kecilnya memerlukan perawatan dan pemeriksaan lanjutan. Pada pascatindak bedah vasektomi dianjurkan dilakukan hal – hal sebagai berikut:
• Dipersilahkan berbaring selama 15 menit.
• Amati rasa nyeri dan perdarahan pada luka.
• Pasien dapat dipulangkan bila keadaan pasien dan luka operasi baik.
Sebelum pulang berikan nasehat sebagai berikut :
• Perawatan luka, diusahakan agar tetap kering dan jangan sampai sebelum sembuh, karena dapat mengakibatkan infeksi. Pakailah celana dalam yang bersih.
• Segera kembali ke rumah sakit apabila terjadi perdarahan, badan panas, nyeri yang hebat, pusing, muntah atau sesak napas.
• Memakan obat yang diberikan yaitu antibiotika profilaktik dan analgetika seperlunya. Jangan bekerja berat/naik sepeda.
• Setelah divasektomi tetap diperbolehkan, bahkan dianjurkan untuk melakukan hubungan seksual dengan istri, namun harus diingat bahwa di dalam saluran mani (pipa - pipa) vas deferens masih terdapat sisa – sisa sperma (bibit), sehingga selam masih ada sisa sperma, sebaiknya suami dan istri tetap menggunakan alat pencegah kehamilan.
Untuk itu kepadansuami diberikan 15 kondom, guna menghindari kehamilan , petugas akan memberi contoh cara pemakaiannya. Setelah air mani keluar 15 kali atau setelah jangka waktu 3 bulan, maka suami diminta memeriksa air maninya dengan maksud meyakinkan bahwa air mani tersebut tidak mengandung bibit-bibit (spermatozoa) lagi.
Untuk keperluan ini, suami diminta menyediakan air mani di dalam botol bersih atau air mani yang ada di dalam kondom dan memeriksanya di laboratorium. Bila sudah pernyataan dari laboratorium bahwa air mani suami tidak mengandung bibit lagi, barulah ia boleh bersenggama tanpa alat pencegah apapun lebih baik bila ia memeriksakan air mani untuk kedua kalinya.
KUNJUNGAN ULANG
Kunjungan ulang dilakukan dengan jadwal sebagai berikut :
• Seminggu sampai dua minggu setelah pembedahan.
Lakukan anamnesis dan pemeriksaan sebagai berikut :
- Anamnesis meliputi keadaan kesehatan umum, adanya demam, rasa nyeri, perdarahan dari bekas operasi, atau alat kelamin.
- Pemeriksaan fisik dengan melakukan pemeriksaan umum dan alat genetalia.
• Sebulan setelah operasi
Lakukan anamnesis dan pemeriksaan sebagai berikut:
- Anamnesis meliputi keadaan kesehatan umum, dan sanggama.
- Pemeriksaan fisik dengan melakukan pemeriksaan fisik umum dan alat genitalia.
• Tiga bulan dan setahun setelah operasi
• Lakukanlah anamnesis dan pemeriksaan sebagai berikut :
- Anamnesis meliputi keadaan kesehatan umum, sanggama, sikap terhadap kontrasepsi mantap, dan keadaan kejiwaan si akseptor.
- Pemeriksaan fisik dengan melakukan pemeriksaan kesehatan umum.
- Lakukan analisa sperma setelah 3 bulan pascavasektomi atau 10 – 12 kali ejakulasi untuk menilai hasil pembedahan.
C. TUBEKTOMI
Tubektomi pada wanita adalah setiap tindakan pada saluran telur wanita yang mengakibatkan orang tersebut tidak akan mendapat keturunan lagi.
Ruang operasi
Ruang operasi harus tertutup dengan pintu yang dapat dikunci dan harus jauh dari daerah sibuk .Untuk itu diperlukan :
• Penerangan yang cukup
• Lantai semen atau keramik yang mudah dibersihkan
• Bebas debu dan serangga
• Alat pengatur suhu ruangan (sedapat mungkin )Apabila sarana tersebut tidak tersedia ,sebaiknya ruangan tersebut memiliki ventilasi yang baik .
Terdapat pelayanan harus mempunyai /ada air bersih yang mengalir ,tempat cuci tangan dekat ruang operasi dan ruang ganti pakaian sehingga petugas ruang bedah tidak melalui ruangan lain (yang sibuk)untuk mencapai ruangan operasi .
Tersedia pula tempat atau kantong plastik yang dapat ditutup rapat dan bebas dari kebocoran untuk pembuangan limbah.
Suasana Ruang Operasi
Jumlah mikroorganisme akan cenderung meningkat pada tempat/ruang operasi dengan bertambahnya jumlah petugas dan kegiatan yang di lakukannya di dalamruang tersebut.Untuk mengurangi kejadian tersebut maka:
• Minimalkan jumlah petugas dan kegiatan selama operasi berlangsung.
• Kunci ruang bedah agar petugas yang tidak berkepentingan tidak keluar masuk ruangan dan suhu ruangan bedah tetap terjaga.
• Pisahkan peralatan yang tercemar dengan yang masih steril.
• Klien diatur agar tidak menyentuh instrumen steril yang tersedia atau tersimpan pada saat masuk dan keluar ruang bedah.
Persiapan Klien
Walaupun kulit sekitar vagina dan vagina tidak dapat di sterilkan pencucian dengan larutan antiseptik pada daerah yang akan dilakukan sayatan (termasuk vagina dan serviks) sudah jauh mengurangi kandungan mikroorganisme sehingga risiko infeksi dapat di kurangi.
• Klien di anjurkan mandi sebelum mengunjungi tempat pelayanann .Bila tidak sempat ,minta klien untuk membersihkan bagian abdomen /perut bawah ,pubis,dan vagina dengan sabun dan air.
• Bila menutupi daerah operasi,rambut pubis cukup digunting (bukan /tidak dicukur).Pencukuran hanya dilakukan apabila sangat menutupi daerah operasi dan waktu pencukuran adalah sesaat sebelum operasi dilaksanakan .
• Bila menggunakan elevator atau manipulator rahim, sebaiknya digunakan pengusapan larutan antiseptik (misalnya povidon iodin) pada serviks dan vagina (terutama klien masa interval).
• Setelah pengollesan betadin /Povidon Iodin pada kulit,tunggu 1-2 menit agar iodium bebas yang dilepaskan dapat membunuh mikroorganisme dengan baik .
Kelengkapan untuk Klien dan Petugas Ruang Operasi
Karena ruang bedah dirancang bebas dari pencemaran ,klien dan petugas ruang bedah harus dipersiapkan sebaik mungkin.
• Klien menggunakan pakaian operasi.Bilatidaktersedia,kain penutupyang bersih dapat dipergunakan untuk klien .
• Operator dan petugas kamar operasi harus dalam keadaan siap( mencuci tangan berpakaian operasi,memakai sarung tangan ,topi dan masker ) saat berada di ruang operasi.
• Masker harus menutupi mulut dan hidung,bila basah /lembab harus di ganti .
• Topi harus menutupi rambut.
• Sepatu luar harus dilepas,ganti dengan sepatu atau sandal yang tertutup yang khusus di pergunakan untuk ruang operasi.
Pencegahan Infeksi
Sebelum pembedahan
Operator dan petugas mencuci tangan dengan menggunakan larutan anti setik,serta mengenakan pakaian operasi dan sarung tangan steril.
• Gunakan larutan antiseptik untukmembersihkan vagina dan serviks.
• Usapkan larutan antiseptikpadadaerah operasi,mulai dari tengah kemudian meluas ke daerah luar dengan gerakan memutar hingga bagian tepi dinding perut .Untuk klien pascapersalinan bersihkan daerah pusat /umbilikus dengan baik .Tunggu 1-2 menit agar iodium bebas yang dilepaskan dapat mbunuh mikroorganisme dengan baik.
Selama pembedahan
• Batasi jumlah kegiatan dan petugas di ruang operasi .
• Pergunakan instrumen ,sarung tangan dan kain penutup yang steril/DTT.
• Kerjakan dengan keterampilan dan teknik yang tinggi untuk menghindarkan trauma dan komplikasi (perdarahan )
• Gunakan teknik “pass”yang aman untuk menghindari luka tusuk instrumen.
Setelah Pembedahan
• Sementara menggunakan sarung tangan operator dan atau petugas ruang operasi harus membuang limbah kedalam wadah atau kantong yang tertutup rapat dan bebas dari kebocoran .
• Lakukan tindakan dekontaminasi pada instrumen atau peralatan yang akan di pergunakan sebelum dilakukan pencucian ,dekontaminasi dengan larutan klorin 0,5%.
• Lakukan dekontaminasi pada meja operasi ,lampu ,meja instrumen atau benda yang mungkin terkontaminasi/tercemar selama operasi dengan mengusapkan larutan klorin 0,5 %.
• Lakukan pencucian dan penatalaksanaan instrumen dan penatalaksanaan instrumen/peralatan seperti biasa .
• Cuci tangan setelah melepas sarung tangan .
Premedikasi dan Anestesi
Pada umumnya pemberian premedikasi untuk tubektomi tidak dibutuhkan malahan sedapat mungkin dihindarkan .Bila klien tampak cemas ,cari penyebab kecemasan tersebut ,dan lakukan konseling tambahan agar klien menjadi tenang .Bila tak dapat ditemukan penyebabnya ,berikan 5-10 mg Diazepan secara oral ,30-45 menit sebelum operasi dilakukan .
Tujuan Anastesi pada Tubektomi
• Menghindarkan nyeri dan tidak nyaman
• Mengurangi kecemasan dan ketegangan .
Bila teknik pemberian anastesi tepat, sudah memadai bagi operator untuk melakukan tindakan bedah ,baik minilaparotomi maupun laparoskopi.Karena tubektomi diarahkan untuk rawat jalan anastesi yang di butuhkan bergantung pada pengalaman operator ,apakah cukup lokal atau perlu tambahan analgesia.
Anastesi lokal yang menggunakan lidokain 1% dianggap lebih aman dibandingkan dengan anastesi umum atau konduksi(spiral/epidural) terutama bila dilaksanakan /diperlakukan sebagai klien rawat jalan .Penggunaan anastesi umum mungkin akan meningkatkan komplikasi respiratory depression (misalnya aspirasi atau henti jantung ) akibat kesalahan pemberian anastesi ,teknik yang tidak tepat ,pemantauan yang kurang baik,gagal melakukan intubasi.Juga fasilitas mungkin tidak lengkap untuk menangani komplikasi akibat anastesi umum.
Pada penggunaan anastesi lokal atau anastesi lokal yang dimodifikasi ,dianjurkan:
• Agar pemberian anastesi sebaiknya dilakukan oleh operator atau asistennya .
• Klien dan penanganan efek samping perlu mendapat pemantauan .
• Dosis sebaiknya di berikan dalam unit /Kg untuk menghindari pemberian yang berlebihan dan klien ditangani secara individual.
• Peralatan dan obat darurat harus tersedia .
Semua pemberian intravena sebaiknya menggunakan set infus dan cairan seperti dekstrose ,garam fisiologik atau ringer laktat .Obat sebaiknya diberikan perlahan lahan (di atas 2 menit).Harus diingat bahwa midazolam empat kali lebih kuat daripada diazepam.
Perhatikan kondisi berikut pada pemberian anastesi lokal .
• Semua petugas yang terlibat dalam kegiatan tubektomi harus mengetahui dan menguasai penggunaan obat obat anastesi.
• Obat dalam keadaan darurat ,demikian pula peralatan lainnya ,harus sudah tersedia sebelum meakukan tindakan bedah dan petugas yang ada harus mengetahui cara penggunaannya .
• Sebaiknya tersedia dokter spesialis anastesi atau perawat/penata anastesi ketika menggunakan anastesi umum.
Teknik Operasi
Dikenal 2 tipe yang sering di gunakan dalam pelayanan tubektomi yaitu minilaparatomi dan laparoskopi. Teknik ini menggunakan anastesi lokal dan bila dilakukan secara benar ,kedua teknik tersebut tidak banyak menimbulkan komplikasi.
Minilaparatomi:
Metode ini merupakan penyederhanaan laparatomi terdahulu ,hanya diperlukan sayatan kecil (sekitar 3 cm) baik pada daerah perut bawah (suprapubik) meupun pada subumbilikal (padalingkar talipusat bawah).Tindakan ini dapat dilakukan terhadap banyak klien ,relatif murah ,dan dapat dilakukan oleh dokter yang diberi latihan khusus.Operasi ini aman dan efektif.
Baik untuk masa interval maupun pascapersalinan ,pengambilan tuba dilakukan melalui sayatan kecil.Setelah tuba di dapat ,kemudian dikeluarkan ,diikat dan dipotong sebagian .Setelah itu ,dinding perut ditutup kembali, luka sayatan ditutup dengan kasa yang kering dan steril dan apabila tidak ditemukan masalah yang berarti, klien dapat dipulangkan setelah 2-4 jam.
Laparoskopi
Prosedur ini memerlukan tenaga Spesialis kebidanan dan penyakit kandungan yang telah dilatih secara khsus agar pelaksanaanya aman dan efektif.Teknik ini dapat dilakukan pada 6-8 minggu pascapersalinan atau setelah abotus (tanpa komplikasi ) .Laparoskopi sebaiknya dipergunakan pada jumlah klien yang cukup banyak karena peralatan laparoskopi dan biaya pemeliharaannya cukup mahal .
Seperti halnya minilaparotomi,laparoskopi dapat digunakan dengan anastesi lokal dan di perlakukan sebagai klien rawat jalan setelah pelayanan .Laparoskopi juga ccok untuk klien yang krtis karena tidak banyak menimbulkan rasa tidak enak serta parut lukanya minimal .Peralatan ini memerlukan perawatan yang cukup rumit dan sebaiknya ada tenaga ahli anastesi pada saat tindakan laparoskopi berlangsung.
Instumen untuk minilaparotomi dan laparoskopi
Kit minilaparotomi juga dipergunakan untuk laparoskopi ,sedangkan laparoskopi sendiri terdiri dari laparoskop,sistem pencahayaan ,gas insuflasi ,jarum khusus,dan trokar.Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk laparoskopi adalah :
• Persediaan suku cadang harus ada setiap saat .
• Terdapat tenaga khusus untuk perbaikan dan pemeliharaan .
• Larutan Cidex atau formaldehid 8% untukDDT atau sterelisasi.
• DTT memerlukan waktu 20 menit untuk membuat laparoskop menjadi layak pakai.
Peralatan Resusitasi dan Tindakan darurat
Sedapat mungkin harus tersedia
• Ambu Bag
• Tangki oksigen dengan pengatiran aliran ,selang oksigen dan masker oksigen
• Mesin penghisap lendir dengan selang dan tabung penampung. Pipa udara untuk hidung(dua ukuran)
• Infus set dan cairan infus
• Pealatan untuk tindakan bedah akut.
Semua peralatandi atas harus dalam keadaan siap pakai ,masih berfungsi baik ,dan dalam keadaan steril.Petugas harus mahir mempergunakannya serta meneliti kelengkapan peralatan tersebut sebelum tindakan berlangsung (laringoskopi dan pipa endotrakeal harus diaplikasikan oleh tenaga yang terlatih.
Bila memang perlu dilakukan anastesi umum ,hal itu harus dilakukan oleh spesialis anastesiologi ,gunakan pipa endotrakeal ,tersedianya alat alat anastesi ,ventilator,dan perlengkapan untuk tindakan gawat darurat (termasuk obat obatannya).
Perawatanpasca bedah dan pengamatan lanjut
Setiap 15 menit dilakukan pemeriksaan darah .Bila telah diperbolehkan minum,sebaiknya klien diberi cairan yang mengandung gula(fanta atau coca cola,saribuah atau gula gula)untuk membantu meningkatkan kadar glukosa darah. Lakukan romberg sign (klien disuruh berdiri dengan mata tertutup),bila penderita tampak stabil,suruh mengenakan pakaian dan tentukan pemulihan kesadaran .Apabila semua berjalan baik ,klien dapat dipulangkan.
Pesan kepada klien sebelum pulang
• Istirahat dan jaga tempat sayatan operasi agar tidak basah minimal selama2 hari.Lakukan pekerjaan secara bertahap (sesuai dengan perkembangan pemulihan ).Umumnya Klien akan merasa baik setelah 7 hari.
• Dianjurkan untukmelakukan aktivitas seksual selama 1 minggu dan apabila setelah itu merasa kurang nyaman ,tunda kegiatan tersebut .
• Jangan mengangkat benda yang berat atau menekan daerah operasi sekurang kurangnya selama 1 minggu .
• Bila terdapat gejala gejala tesebut di bawah ini ,segera memeriksakan diri ke klinik:
- Panas /demam di atas 38˚C.
- Pusing dan rasa berputar /bergoyang
-Nyeri perut menetapatau meningkat.
- Keluar cairan atau darah dari /melalui luka sayatan .
• Untuk mengurangi nyeri ,pergunakan analgesik (ibuprofen) setiap 4-6 jam.Jangan pergunakan aspirin karena dapat meningkatkan perdarahan .
• Segera kunjungi klinik bila klien merasakan tanda – tanda kehamilan .Hamil setelah tubektomi ,sangat jarang ,tetapi bila terjadi,hal ini merupakan hal yang serius karena kemungkinan besar kehamilan tersebut terjadi pada tuba .Lebih baik dibuatkan catatan untuk klien dan pasangannya tentang hal hal apa yang harus diperhatikannya setelah tubektomi.
Kontrolulang dilakukan setelah seminggu pasca tubektomi dan kontrol lanjutan dilakukan seminggu kemudian .Pemeriksaan meliputi daerah operasi ,tanda tanda komplikasi atau hal hal lain yang dikeluhkan oleh klien .Bila digunakan benang sutra ,pada saat kontrol pertama benang tersebut dicabut.
Kegagalan
Tubektomi sangat efektif tetapi kemungknan terjadinya kehamilan tetap ada ,baik di dalam rahim maupun di luar rahim/ektopik sehingga petugas klinik terdekat harus mengetahui gejala gejala kehamilan tersebut ,baik yang di dalam maupun yang di luar rahim.Selanjutnya membawa klien tersebut ke klinik /dokter untuk membuat diagnosis pasti ,bila ternyata terjadi kehamilan ektopik ,harus dilakukan tindakan segera,untuk mengatasinya .
Penatalaksanaan kompliksi Pascabedah
Kejadian fatalyang berkiyan dengan tubektomi sangat jarag terutama bila komplikasi dikenali sejak dini .Komplikasi tersebut dapat berupa:
• Perdarahandari dini dari dinding perut atau mesosalping.
• Cedera dalam rongga perut:
- Perforasi rahim
- Usus tersayat
- Kandung kemih tersayat
• Infeksi luka atau jaringan panggul.
Pada laparoskopi juga dapat terjdi komplikasi yang sama dengan minilaparotomi.Komplikasi lain yang bersifat khusus ( akibat prosedur laparoskopi ) adalah emfisema subkutan ,emboli gas,dan henti janung atau paru .Perdarahan dari pembuluh darah besar,mungkin saja terjadi akibat tusuka jarum insuflasi ,malahan dapat juga mengenai organ lainnya dalam perut.
Langkah Langkah (prosedur ) tubektomi
Minilaparotomi interval
Konseling Prabedah
• Kenalkan diri anda dan sapa klien jumlah anak dan riwayat obstetrinya .
• Tanya pada klien jumlah anak dan riwayat obstetrinya.
• Telaah catatan medik untuk kemingkinan kontraindikasi .
• Jelaskan tetang teknikoperasi ,anastesi lokaldan kemungkinan rasa sakit tidak enak selama operasi.
• Jelaskan bahwa operasi akan berjalan singkat.
Persiapan Bedah
Langkah 1. Periksa kelengkapan peralatan bedah dan obat anastesi.
Langkah 2. Pasang tensimeter ,periksa dan catat tensi ,nadi,pernapasan setiap 15 menit .
Langkah 3. Pasang wing Needle
Langkah 4. Jika klien memerlukan tambahan sedasi setelah mendapat Diazepam per oral ,berikan Pethidin 1 g/kgBB intramuskulerdan tunggu 30-45 menit.
(langkah 2,3,dan 4 dilakukan oleh perawat)
Asepsis dan Antisepsis
Langkah 1. Pakai pakaian “kamar operasi “,topi dan masker.
Langkah 2. Cuci dan sikat tangan dengan larutan antiseptik selam 3 menit.
Langkah 3. Pakai sarung tangan sterildengan DTT.

Pemeriksaan Pelvik dan Fiksasi terus
Langkah 1. Usap genitalia eksterna dan perineumdengan kasa berantiseptik dan lakukan kateterisasi.
Langkah 2. Lakukan pemeriksan pelviksecara bimanual ,nilai posisi dan besar uterus serta kelainan dalam pelvik.
Langkah 3. Pasang spekulumdan nilai serviks dan vagina kemudian lakukan tindakan asepsis pada portio dan vagina
Langkah 4. Pasang tenakulum pada jam12 dan lakukan sondase.
Langkah 5. Pasang elevator uterus.
Langkah 6. Ikatkan gagang elevator pada gagang tenakulum untuk mempertahankan posisi uterus.
Langkah 7. Lepas sarung tangan, pakai ”gaun operasi” dan sarung tangan steril.
Persiapan lapangan Operasi dan Penentuan Tempat Insisi
Langkah 1. Instruksikan kepada perawat untuk menyuntik diazepam 0,1 mg/kg BB intra vena dan tunggu 3 menit kemudian suntikkan Ketalar 0,5 mg/kg BB intra vena dan tunggu 3 menit.
Langkah 2. Tentukan tempat insisi pada dinding perut dengan jalan menggerakan Elevator Uterus kebawa sehingga fundus Uteri menyentuh dinding perut ± 2-3 Cm di atas sinfisis kupis.
Langkah 3. Lakukang tindakan asepsis (Betadin atau iodium alcohol) pada tempat insisi dengan gerakan melingkar dari tengah kearah luar, tutup dengan kain steril berlubang ditengah
Membuka Dinding Abdomen
Langkah 1. Suntikkan secara infiltrasi 3-4 Cc Anestesi local (Lignokain 2%) di bawa kulit pada tempat insis (aspirasi sebelumnya), tunggu 2 menit dan nilai Anestesis dengan menjepit kulit pakai pinset sirurgis.
Langjah 2. Lakukan insisis melintang pada kulit dan jaringan subkutan sepanjang 3 Cm pada tempat yang telah ditentukan ( Gunakan perut pisan/ posisi pisan, horizontal).
Langkah 3. Pisahkan jaringan subkutan secara tompul (dengan retractor) sampai terlihat fasiah.
Langkah 4. Suntikkan jarum ke fasiah dan lakukan inpiltrasi Anestesi local 3 Cc sambil menarik jarum.
Langkah 5. Jepit fasih (dengan kocher) pada dua tempat dalalm arah ventrikal dengan jarak 2 Cm, laukan insisi dalam arah horizontal, perlebar ke kiri dan ke kekanan.
Langkah 6. Pisahkan jaringan otot secara tumpul pada garis tengah dengan jari telunjuk atau klem arteri sehingga tampak peritoneum dan lakukan infiltrasi anestesi local 3 cc sambil menarik jarum.
Langkah 7. Jepit peritoneum dengan 2 klem, transimulasi untuk identifikasi, sisihkan omentum dan usus dari peritoneum dengan menggunakan sisi luar gunting (bagian tumpul).
Langkah 8. Gunting peritoneum arah vertical 2 cm ke atas dan 1 cm ke bawah (sampai batas peritoneum-vesika urinaria).
Langkah 9. Masukkan 2 buah bak (retractor) pada tempat insisi peritoneum dan regangkan untuk menampakkan uterus pada lapangan operasi.
Langkah 10. Bila omentum atau usus menghalangi lapang pandang, gunakan kasa gulung, jepit ujung kasa dengan klem.
Mencapai Tuba
Langkah 1. Gerakkan elevator uterus sampai fundus uteritanpak pada lapangan operasi (bila perlu ubah posisi klien ke posisi Trendelenberg).
Langkah 2. Tampakkan salah satu kornu uteri dan ligament rotundum pada lapangan operasi dengan menggerakkan elevator dan identifikasi tuba.
Langkah 3. Jepit tuba dengan pinset atau klem Babcock dan tarik pelan-pelan keluar melalui insisi sampai terlhat fimbria.
Memotong Tuba (Cara Pomeroy)
Langkah 1. Jepit tuba 1/3 proksimal dengan klem Babcock, angkat sampai tuba melengkung, tentukan daerah mesosalping tanpa pembuluh darah.
Langkah 2. Tusukkan jarum bulat dengan benang catgut nomor 0 pada jarak 2 cm dari puncak lingkungan dan ikat salah satu pangkal lingkungan tuba.
Langkah 3. Ikat kedua pangkal lengkungan tuba secara bersama-sama dengan menggunakan benang yang sama.
Langkah 4. Potong tuba tepat di atas ikatan benang.
Langkah 5. Periksa perdarahan pada tunggul tuba dan periksa lumen tuba untuk meyakinkan tuba telah terpotong.
Langkah 6. Potong benang catgut 1 cm dari tuba dan masukkan kenbali kedalam rongga abdomen.
Langkah 7. Lakukan tindakan yang sama pada tuba sisi yang lain.
Menutup Dinding Abdomen

Langkah 1. Periksa rongga abdomen (kemungkinan perdarahan atau laserasi usus) dan keluarkan kasa gulung.
Langkah 2. Jahit fasia dengan jahitan simpul atau angka 8 memakai benang chromic catgut nomor 1.
Langkah 3. Jahit subkutis dengan jahitan simpul memakai benang plain catgut nomor 0.
Langkah 4. Jahit kulit dengan jahitan simpul memakai benang sutera nomor 0.
Tindakan Pascabedah
langkah 1. Bersihkan luka insisi dan dinding abdomen sekitarnya dengan alcohol atau betadin, tutup luka dengan kain steril dan plester.
Langkah 2. Bersihkan luka insisi dan dinding abdomen sekitarnya dengan alcohol atau betadin, tutup luka dengan kain steril dan plester.
Langkah 3. Lepaskan tenakulum dan elevator uterus.
Langkah 4. Periksa tekanan darah, nadi dan pernapasan.
Langkah 5. Tanyakan pada klien tentang keluhan subjektif.
Langkah 6. Pindahkan klien dari meja operasi ke ruang pulih untuk pengamatan selama 1 jam.
Langjah 7. Instruksi kepada perawat untuk memeriksa dan mengamati tensi, nadi, pernapasan dan perdarahan melalui luka operasi dan vagina.
Dekontaminasi
Langkah 1. Bersihkan sarung tangan dalam larutan Klorin 0,5% lepaskan dan biarkan terendam dalam larutan tersebut selama 10 menit.
Langkah 2. Lepaskan gaung operasi,topi serta masker dan taruh pada tempat yang tersedia.
Langkah 3. Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun.
Langkah 4. Periksa seluruh peralatan operasi yang telah dipakai, rendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
Langkah 5. Periksa tabung dan jarum suntik yang telah dipakai direndam dalam larutan klorin 0,5% ditempat terpisah dari peralatan.
Langkah 6. Periksa kasa, sisa benang dan lain-lain yang telah terkontaminasi dengan darah atau cairan tubuh telah dimasukkan dalam plastic tertutup untuk dibuang.
Konseling dan Instruksi pascabedah
• Tanyakan pada klien bila masih ada hal-hal yang ingin diketahuinya tentang tubektomi.
• Jelaskan pada klien untuk menjaga agar daerah luka operasi tetap kering.
• Jelaskan pada klien untuk tidak bersenggama selama 1 minggu.
• Jelaskan pada klien bahwa bila ada keluhan (rasa sakit atau terjadi perdarahan dari luka operasi atau kemaluan) segera kembali ke klinik untuk mendapat pertolongan.
• Beritahu klien bila tidak ada keluhan, periksa ulang 1 minggu lagi.
• Klien dipulangkan bila keadaan stabil setelah 4-6 jam.

MINILAPAROTOMI PASCAPERSALINAN
Konseling prabedah
 Kenalkan diri anda dan sapa klien dengan hangat.
 Tanyakan klien tentang jumlah anak dan riwayat obstetrinya.
 Telaah catatan medic untuk kemungkinan kontraindikasi.
 Jelaskan tentang teknik operasi, anestesi local dan kemungkinan rasa sakit/tidak enak selama operasi.
 Jelaskan bahwa operasi akan berjalan singkat.

Persiapan Prabedah
 Periksa kelengkapan peralatan bedah dan obat anesstesi.
 Instruksikan kepada perawat untuk:
 Memasang tensimeter, memeriksa dan catat tensi, nadi, pernapasan setiap 15 menit.
 Memasang wing needle.
 Jika klien memerlukan tambahan sedasi setelah mendapat Diazepam per oral. Berikan Pethidin 1mg/kg BB intramuskuler dan tunggu 35-45 menit.

Asepsis dan Antisepsis
Langkah 1. Pakai pakaian “kamar operasi” topi dan masker.
Langkah 2. Cuci dan sikat tangan dengan larutan antiseptic selama 3 menit.
Langkah 3. Pakai sarung tangan steril atau disenfeksi tingkat tinggi (DTT).
Membuka dinding Abdomen
Langkah 1. Lakukan tindakan asepsis pada lapangan operasi yakni sekitar pusat dengan betadin atau yodium alcohol kemudian tutup dengan kain steril berlubang di tengah.
Langkah 2. Suntikkan secara infiltrasi 3-4 cc anastesi local (lignokain 1 %) pada tempat insisi, lapis demi lapis sampai fasia, tunggu 2 menit dan nilai efek anestesi dengan menjepit kulit pakai pinset chirurgis.
Langkah 3. Lakukan insisi melintang pada kulit dan jaringan subkutan sepanjang 2-3 cm tepat di bawah pusat.
Langkah 4. Insisi lapis demi lapis sampai hamper menembus peritoneum kemudian peritoneum dijepit dengan 2 klem, trasiluminasi untuk identifikasi dandigunting selebar jari sehingga bisa dimasuki jari telunjuk dan sebuah tampon tang.
Bila fundus uteri di bawah pusar, insisi membujur setinggi 2 jari di bawah fundus uteri sepanjang 2-3 cm sampai mencapai fasia. Setelah fasia diinsisi kemudian muskulus rektus abdominis dikuatkkan dengan jari telunjuk atau klem arteri sehingga tampak peritoneum. Jepit peritoneum dengan 2 buah klem, transiluminasi untuk identifikasi dan gunting peritoneum secara membujur.
Mencapai Tuba
Llangkah 5. Masukkan retractor ke dalam rongga abdomen, tarik retractor kea rah tuba yang akan dicapai.
Langkah 6. Jepit tubs dengan pinset atau klem Babcock dan tarik pelan-pelan keluar melalui lubang insisi sampai terlihat fimbria.
Langkah 7. Bila tuba tertutup omentum atau usus, sisihkan dengan memakai kasa bulat yang dijepit klem arteri dan posisi klien Trendelenberg.
Oklusi Tuba (Cara Pomeroy)
Langkah 8. Jepit tuba pada 1/3 proksimal dengan klem Babcock, angkat sampai tuba melengkung, tentukan daerah mesosalping tanpa penbuluh darah.
Langkah 9. Tusukkan jarum bulat dengan benang catgut nomor 0 pada jarak 2 cm dari spuncak lengkungan dan ikat salah satu pangkal lengkungan tuba.
Langkah 10. Ikat kedua pangkal lengkungan tuba secara bersama-sama dengan menggunakan benang yang sama.
Langkah 11. Potong tuba tepat di atas ikatan benang.
Langkah 12. Periksa pendarahan pada tunggul tuba dan periksa lumen tuba untuk meyakinkan tuba telah terpotong.
Langkah 13. Potong benang catgut 1cm dari tuba dan masukkan kembali tuba ke dalam rongga perut.
Langkah 14. Lakukan tindakan yang sama pada tuba sisi lain.
Menutup Dinding Abdomen
Langkah 15. Periksa otot abdomen (kemungkinan perdarahan atau laserasi usus).
Langkah 16. Jahit fasia dengan jahitan simpul atau angkah 8 memakai benang kromik catgut nomor 1.
Langkah 17. Jahit subkutis dengan jahitan simpul memakai benang plain catgut nomor 0.
Langkah 18. Jahit kulit dengan jahitan simpul memakai benang sutera nomor 0.
Tindakan pascabedah
Langkah 19. Bersihkan luka insisi dan dinding perut sekitarnya dengan alkohol atau betadin,tutup luka dengan kain steril dan plester.
Langkah 20. Periksa tekanan darah,nadi dan pernapasan dan tanyakan pada klien tentang keluhan subjektif.
Langkah 21. Pindahkan klien dari meja operasi ke ruang pulih untuk pengamanan selama 1 jam.
Langkah 22. Instruksikan kepaada perawat memeriksa dan mengamati tensi,nadi,pernapasan dan perdarahan melalui luka operasi.
Dokumentasi
Langkah 23. Bersihkan sarung tangan dalam larutan klorin 0,5% lepaskan dan biarkan dalam terendam larutan tersebut selama 10 menit.
Langkah 24. Lepaaskan gaun operasi,topi serta masker dan taruh pada tempat yang tersedia.
Langkah 25. Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun.
Langkah 26. Periksa seluruh peralatan operasi yang telah dipakai direndam dalam larutan klorin 0,5%selama 10 menit.
Langkah 27. periksa tabung dan jarum suntik yang telah di pakai,direndam dalam larutan klorin 0,5% di tempat tepisah dari peralatan.
Langkah 28. Periksa kasa,sisa benang dan lain-lain yang telah terkontaminasi dengan darah atau cairan tubuh telah dimasukkan dalam plastik tertutup untuk dibuang.
Konseling dan instruksi pascabedah
• Tanyakan pada klien bila masih ada hal-hal yang ingin diketahuinya tentang tubektomi.
• Jelaskan kepada klien untuk menjaga agar daaerah luka operasi tetap kering.
• Yakinkan pda klien bahwa bila ada keluhan segara kembali ke klinik untuk mendapat pertolongan.
• Beri tahu klien bila tidak ada keluhan,periksa ulang 1 minggu lagi.

PROSEDUR TUBEKTOMI LAPARASKOPI
Pneumoperitoneum
Langkah 1. Instruksikan teknisi untuk menempatkan klien dalam posis kepala ke bawah (trendelemberg)dengan sudut 60˚
Langkah 2. Dengan hati-hati,ambil bagian pinggir umbilikal inferior dengan menggunakan ibu jari dan terlunjuk tangan anda yang tidak dominan dan angkat dinding abdomen menjauhi usus.
Langkah 3. Dengan menggunakan ujung mata pisau bedah (skalpel),baut sayataan kecil,sekitar 1,5 cm.pada kulit di sepanjang pinggiran margin umbilikal inferior.
Langkah 4. Ambil batang jarum verres dan insersikan melalui sayatan tersebut pada sudat 45˚ menuju pelvis.dua bagian merupakan bagian lepas yang berbedah akan terasa pada saat fasia terpenetrasi dan peritonium dengan gas C02 dialirkan.
Langkah 5. Hubungkan selang insuflator pada stop cock jarum verres.minta teknisi untuk menyambungkan ujung yang lain ke unit insuflator.
Langkah 6. Periksa apakah abdomen telah di masuki dengan benar dengan menggunakan alat ukur tekanan pada unit insuflator untuk memeriksa tekanan nigatif intrabbdomen (cara lain,tempatkan setetes obat anastesi pada bukaan luer-lok jarum verres dan perhatikan perembesannya ketika dinding abdomen di angkat secara manual).
Langkah 7. Gunakan tombol aliran tinggi dari unit insuflator untuk memmasukkan gas Co2 pada kecepatan 1 liter per menit.
Langkah 8. Mulailah insuflasi pada abdomen.
Langkah 9. Ketuk-ketuk abdoomoen bagian bawah dan dengarkan apakah terdapat suara seperti drum yang mengindikasikan terbentuknya pneumoperitoneum dengan sempurna.
Langkah 10. lepas jarum verrs setelah memsukkan 1,5-20 liter Co2 atau setelah abdomen bagian bawah mencapai ukuran seperti hamil 20 minggu.
Langkah 11. Minta perawat untuk mengisi cincin falloppi (falope ring).

Akses abdomen
Langkah 1. Perika katup terompet (trumpet valve) dan seal karet dari lengan trokar unatuk memastikan bahwa alat tersebut hampa udara.
Langkah 2. Perluas sayatan awal hingga mencapai lebar sekitar 2 cm.
Langkah 3. Rakit unit trokar dengan memasukkan trokar ke dalam lengan trokar.
Langkah 4. Ambil dinding abdomen anterior yang langung berada di bawah umbilikus dan angkat.
Langkah 5. Tahan trokar yang telah dirakit pada tangan yang dominan,pastikan bahwaa thenar eminence beradadi ujung trokar.
Langkah 6. Miringkan pegangan trokar menuju kepala dengan sudut 60-70*dengan mengarahkan ujung trokar ke sebuah titik khayalan di terpat kantung douglasberada. Aplikasikan gaya ke bawah memelintir untuk membalik fasia dan peritoneum. Hentikan setelah peritoneum terasa lepas.
Langakah 7. Tarik trokar sedikit dan majukan lengan trokar 1-2 cm ke dalam rongga abdomen.lepas trokar tanpa melepas lengan trokar.
Langkah 8. Hubungkan selang insuflator ke stop cock trokar dan buka.masukkan udara sesuai dengan kebutuhan.
Langkah 9. Hubungkan kabel cahaya fiber opticke laprokator dan minta teknisi untuk menyalahkan sumber cahaya.
Langkah 10. Tahan mekanisme katup terompet (trumpet) trokar di antara jari tengah dan thenar eminence dari tangan yang tidak dominan dengan posisi telapak tangan menghadap ke bawah.
Langkah 11. Tahan bagian hand grip laprokator dengan menggunakan ibu jari ,jari tengah,dan jari manis dari tangan yang dominan.biarkan jari telunjuk bebas.
Langkah 12. Masukkan ujung laprokator ke dalam lengan trokar.buka katup terompet dan masukkan laprokator perlahan-lahan secara di lihat langsung.lajjkukan manuver unit laprokator –trokar menuju rongga pelvis.
Langkah 13. Periksa dan ientifikasi struktur rongga pelvis.angkat uterus dengan menekan handel kanula ribin kebawah.putar handel dengan gerakan “lock and key”untuk membuka tuba dan ovarium.
Oklusi tuba
Langkah 1. Pastikan lokasi dan lakukan konfirmasi saluran tuba fallopidengan melacak saluran tuba dari kornu sampai ujung fimbria.
Langkah 2. Buka ujung-ujung forsep secara penuh dengan menekan trigger operating slide (pemicu/pelatuk)menjauhi hand grip.
Langkah 3. Tempatkan ujung posterior di bawah aspek inferior tuba sekitar 3 cm dari kornu.perlahan-lahan tarik ujung forsep dengan menarik trigger operating slide (pemicu/pelatuk)menuju hand grip. Gerakan laprokator ke depan selama penarikan ujung forsep untuk mengurangi risiko laserasi atau cedera pada tuba.lanjutkan penarikan sampai tegangan pegas terasa.
Langkah 4. Dengan menggunakan telunjuk,periksa bahwa adaptor cincin (ring)berada dalam posisi #1 tanpa melepas pandangan dari teropong laprokator.berikan tekanan tambahan operating slide untuk mengatasi tegangan pegas dan untuk melepas cincin fallopi (falopi ring).perlahan-lahan,dorong operating slide untuk membuka uujjung-ujung forsep dan lepas saluran tuba fallopi yang telah ditutup tersebut.
Langkah 5. Periksa pakah penyumbatan tuba telah memadai atau tidak, yaitu terdapat sebuah loop berukuran 2 cm di atas cincin fallopi / falope ring dan periksa apakah terdapat perdarahan aktif atau tidak. Tarik ujung-ujung forsep seluruh nya sebelum pemeriksaan dilakukan.
Langkah 6. Tentukan lokasi dan konfirmasi keadaansaluran tuba berikutnya.manipulasi kanula rubin jika di perlukan.
Langkah 7. Tempatkan dua adaptor cincin (ring adaptor)di posisi #2. Ulangi langkah 2-5 untuk menyumbat saluran tuba.
Langkah 8. Eriksa rongga pelvis untuk melihat adanya perdarahan dan cedera organ lain.
Langkah 9. Lepas laprokarto dari rongga perut dan matikan sumber cahaya eksternal.biarkan katup terompet(trumpet valve)trokar terbuka untuk mengempiskan abdomen.lepas trokar,goyangkan sesuai dengan kebutuhan untuk membantu omentum jatuh. Kembalikan posisi meja operasi dari posisi trendelenberg ke posisi horisontal.


Sumber:http://medicastore.com/penyakit/3261/Sterilisasi.html
Dan dari berbagai sumber lainnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar