Senin, 10 Mei 2010

makalah psikologi kebidanan2

A. KEHAMILAN
1. KEMANDULAN
Pada umumnya dapat dinyatakan bahwa sebab utama dari sterilitas atau kemandulan wanita adalah ketakutan-ketakutan yang tidak disadari atau yang ada di bawah sadar dan yang infantil kekanak-kanakan sifatnya.
Ketakutan tersebut tidak hanya berkaitan dengan fungsi reproduksi saja, akan tetapi berhubungan dengan segala aspek kegiatan seksual. Peristiwa semacam inilah biasanya mengeliminasi atau meniadakan kemungkinan-kemungkinan untuk menjadi seorang ibu atau menghapus kemungkinan jadi hamil.
Adapun sebab-sebab dari ketakutan tersebut bervariasi. Bisanya pengalaman-pengalaman semasa pubertas memainkn peranan besar. Misalnya :
• Keengganan dan ketakutan pada menstruasi hingga ia merasakan simpton kesakitan pada waktu mendapatkan menstruasi.
• Ketakutan oleh fantasi-fantasi kehamilan, antara lain berupa gejala dan perut menjadi gembung.
• Rasa-rasa sakit di seluruh tubuh, dari ujung kepala sampai ke kaki, sakit-sakit dalam rongga tubuh sampai pada kulit atau bagian luar tubuh ( psikosomatisme )
• Ketakutan untuk mengalami pembedahan ( operasi sesar )
• Macam-macam gangguan pada alat pencernaan
Selain itu, elemen pokok dari ketakutaan-ketakutan yang menyebabkan kemandulan wanita tersebut adalah rasa bersalah yang biasanya berasal dari dan bersarang pada kehidupan psikis yang tidak disadari dan sifatnya tidak riil atau tidak logis.
Beberapa tipe wanita yang dapat mengalami kemandulan :
 Wanita dengan sifat keibuan ekstrim
Ada tipe wanita yang memiliki sifat-sifat keibuan cukup baik, namun tetap mandul. Hal ini disebabkan oloeh komponen psikis tertentu. Relasi seksualnya cukup sehat dan ia bisa menikmati orgasme serta mampu memberikan kehangatan dan kemesraan kepada pasangannya ( suaminya ). Tipe wanita tersebut tidak diganggu oleh ketakutan dan rasa bersalah. Sebaliknya, sikapnya hangat serta menaruh kepercayaan penuh kepada suaminya.

Oleh cintanya yang meluap-luap kepada suaminya, wanita tersebut mempunyai anggapan yang keliru bahwa suaminya tidak mau memberikan kepadanya seorang anak atau tidak menghendaki seorang anak. Sang istri cuma untuk suami itu sendiri, yakni untuk memenuhi segala kebutuhan suami. Eksistensi dirinya hanya bermanfaat bagi pribadi suaminya. Ringkasnya istri menjadi hak milik ( monopoli ) dari suminya sendiri. Dengan demikian, kedua-duanya menolak kehadiran anak / bayi.
Disamping itu, terkadang sang suami juga belum matang atau belum siap sepenuhnya untuk menjadi seorang ayah seklipun fungsi keibuan istrinya sudah cukup matang. Saang suami selalu merasa membutuhkan seorang ibu ( istrinya berfungsi sebagai ibu ) agar ia benar-benar menjadi kuat dan jantan. Dengan keadaan seperti ini, sang istri biasanya menyadri kelemahan suaminya dan menyadari bahaya-bahaya atau resiko yang akan timbul jika mempunyai anak yakni cinta kasih sang istri harus dibagi antara si bayi dan pribadi suaminya.
Kehadiran seorang bayi / anak diduga akan mengakibatkan terlantartarnya suami. Lagipula instink kewanitannya memperingatkan bahwa tidak baiklah mendapatkan anak dari seorang ayah yang tidak cukup matang fungsi keayahannya. Lebih ekstrimnya lagi, wanita tersebut beranggapan bahwa harmoni erotik dalam perkawinannya dapat terancam oleh kehamilannya. Wanita ini bukannya takut kalau dirinya menjadi jelek bentuk karena kehamilannya akan tetapi ia memiliki pra-anggapan bahwa mental dan kapasitas erotik suaminya itu munkin tidak mampu menghadapi keadaan istrinya sebagai seorang ibu. Karena itu lebih baik kalau mereka tidak punya anak.
Pada beberapa kasus, ada laki-laki dari tipe ini yang minggat dari rumah dan meninggalkan istrinya untuk beberapa waktu atau bahkan selamanya ketika mengetahui bahwa istrinya telah menjadi hamil. Ada pula suami dengan tipe tersebut yang ingin melupakan dan menghilangkan kepanikannya dengan jalan melarikan diri pada minuman-minuman keras atau bahan-bahan narkotik, memilih pola hidup gelandangan serta menyibukkan diri pada kegiatan-kegiatan intelektual secara berlebihan sehingga dorongan seksualnya menjadi semakin melemah dan rasa kebapakan ( fatherhood ) semakin berkurang.
Dari kasus di atas, jelaslah bahwa wanita yang memiliki sifat keibuan ekstrim itu selalu ingin melindungi suaminya terhadap bahaya-bahaya yang tidak riil. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa justru dengan kehadiran bayi / anak, maka sifat keayahan dari sang suami akan semakin matang ( a mature fatherhood ).
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor psikis berwujud kecemasan,yakni selalu mencemaskan keadaan suaminya dan tidak mempercaayai kapasitas suaminya itu atau tidak mempercayai sifat keayahan suaminya malah akan mendorong suaminya justru menjadi semakin tidak matang untuk mengemban fungsi seorang ayah. Peristiwa inilah menjadi sebab utama dari kemandulan wanita tadi. Karena dengan sadar dan sengaja ia memang tidak mau jadi hamil dan tidak mau mempunyai anak.
 Wanita dengan gangguan-gangguan emosional yang kronis
Gangguan-gangguan emosional yang kronis dapat pula menyebabkan kemandulan. Mereka merasa sangat takut akan bertambahnya beban-beban jika hamil dan melahirkan. Oleh karena itu, mereka lebih suka ( sering tidak sadar ) jadi mandul. Ketakutan terhadap kehamilan dan persalinan biasanya dipengaruhi oleh peristiwa / pengalaman yang telah dilihat atau didengar. Misalnya seseorang yang berprofesi bidan. Mungkin saja orang atau wanita tersebut memiliki sifat keibuan yang tinggi. Dengan kasih sayang dan kesabaran ia memelihara pasien dan bayi yang dilahirkan, namun ia sendiri tidak mau memiliki anak karena ketakutannya untuk menjadi seorang ibu yang akan melahirkan anaknya melalui berbagai macam siksa derita jasmani dan rohani seperti yang dilihatnya pada partus-partus yng ditangani meskipun sebenarnya ia mengetahui teori atau menyadari fisiologi dari kehamilan dan persalinan. Oleh karena itu, kasih sayangnya yang besar terhadap bayi yang ditolongnya mungkin saja sebagai kompensasi dari ketakutannya sendiri serta sebagai penyaluran sifat keibuannya yang tinggi.
Disamping itu, gangguan-gangguan lainnya bisa pula karena mereka merasa tidak mampu untuk memelihara anaknya di kemudian hari, seperti membiayai hidupnya dikemudian hari. Hal ini terutama terjadi pada pasangan suami istri yang hidupnya pas-pasan atau kurang mampu.
 Wanita dengan tipe agresif-maskulin
Tipe wanita yang sangat agresif-maskulin ( agresif dan kejantan-jantanan ) yang dengan kesadaran penuh menolak sama sekali feminitasnya. Bukannya mereka takut untuk hamil / melahirkan, namun mereka tidak percaya diri untuk bersifat feminim sebagaimana kebutuhan untuk menjadi seorang ibu yang sejati.
Selain tipe-tipe di atas, terdapat pula tipe wanita yang memiliki sifat keibuaan sejati, namun lebih suka mengabdikan diripada suatu ideologi atau satu interest emosional tertentu. Tipe-tipe wanita ini umumnya mempunyai sumbangan amat besar pada gerakan-gerakan revolusioner dan revolusi-revolusio sosial budaya.
 Wanita dengan tipe erotik feminin
Pada wanit dengan tipe tersebut akan menjadi takut kalau relasi erotiknya yang hangat menjadi pudar jika ia sampai menjadi hamil dan mempunyai anak. Maka semua sifat kewanitaan dan keibuannya secara total dipusatkan pada kegiatan erotik ( cinta ) dan kegiatan seksual.
Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sebab dari kemandulan pada umumnya bukan satu faktor saja, akan tetapi multifaktor yakni bukan hanya disebabkan oleh disfungsi atau dipengaruhi oleh faktor hormonal sebab sering juga dipengaruhi oleh faktor psikis.

2. HAMIL DI LUAR NIKAH
Norma-norma ketimuran masih tetap menganggap kehamilan diluar nikah sebagai aib bagi keluarga ataupun masyarakat, apapun sebab dari kehamilan itu. Orang yang hamil diluar nikah dinilai sebagai keburukan, yang kalaupun terjadi harus di sembunyikan. Masyarakat patriarkal sekarang ini, cenderung mempersalahkan wanita dalam kehamilan diluar nikah. Padahal wanita yang hamil bisa saja merupakan korban perkosaan atau korban keadaan (dipaksa lewat bujukan untuk melakukan hubungan seksual oleh pacarnya, atau temannya, atau keluarganya).
Sampai saat ini masalah seksualitas selalu menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Hal ini dimungkinkan karena permasalahan seksual telah menjadi suatu hal yang sangat melekat pada diri manusia. Seksualitas tidak bisa dihindari oleh makhluk hidup, karena dengan seks makhluk hidup dapat terus bertahan menjaga kelestarian keturunannya.
Pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis. Padahal pada masa remaja informasi tentang masalah seksual sudah seharusnya mulai diberikan, agar remaja tidak mencari informasi dari orang lain atau dari sumber-sumber yang tidak jelas atau bahkan keliru sama sekali. Pemberian informasi masalah seksual menjadi penting terlebih lagi mengingat remaja berada dalam potensi seksual yang aktif, karena berkaitan dengan dorongan seksual yang dipengaruhi hormon dan sering tidak memiliki informasi yang cukup mengenai aktivitas seksual mereka sendiri (Handbook of Adolecent psychology, 1980). Tentu saja hal tersebut akan sangat berbahaya bagi perkembangan jiwa remaja bila ia tidak memiliki pengetahuan dan informasi yang tepat. Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar remaja kita tidak mengetahui dampak dari perilaku seksual yang mereka lakukan, seringkali remaja sangat tidak matang untuk melakukan hubungan seksual terlebih lagi jika harus menanggung resiko dari hubungan seksual tersebut.
Karena meningkatnya minat remaja pada masalah seksual dan sedang berada dalam potensi seksual yang aktif, maka remaja berusaha mencari berbagai informasi mengenai hal tersebut. Dari sumber informasi yang berhasil mereka dapatkan, pada umumnya hanya sedikit remaja yang mendapatkan seluk beluk seksual dari orang tuanya.
Oleh karena itu remaja mencari atau mendapatkan dari berbagai sumber informasi yang mungkin dapat diperoleh, misalnya seperti di sekolah atau perguruan tinggi, membahas dengan teman-teman, buku-buku tentang seks, media massa atau internet.
Perlunya asistensi pada gadis-gadis yang hamil
Tipe ibu-ibu hamil di luar ikatan marital yang sering kita jupai ditengah masyarakat kota dan modern itu jelas membutuhkan sekali asistensi social.pada umumnya mereka adalah wanita-wanita muda pada usia puber atau adolesens. Permainan seksual yang belum matang, dan merupakan perbuatan iseng serta eksperimen coba-coba yang dilakukan oleh gadis remaja, hamper selalu menumbuhkan peristiwa-peristiwa yang tragis.
Juga, konflik –konflik kronis pada anak-anak gadis pubertas dengan orang tuanya, sering kali berakibatkan kejadian sebagai berikut :
1) Anak gadis tadi berusaha elarikan diri dari kesulitannya.
2) Ia menerjunkan dri dalam relasi-relasi seksual yang intensif denga seorang pria atau dengan banyak pria sekaligus.
3) Maka akibat jauh dari relasi seksual tersebut gadis yang bersangkutan ( yang belum matang secara psikis ) terpaksa harus melakukan tugas tugas keibuan, yang tidak perna dibayangkan sebelumnya ; tanpa kesiapan mental sedikitpun juga harus melahirkan kemudian merawat bayinya.

Perasaan-perasaan kesepian dan emosi pedih karena tidak dimengerti oleh orang lain, yang berubah menjadi perasan depresif dan rasa vakum kosong melompong yang acap kali dialami oleh anak gadis, sering mendorong dia melarikan diridari kesulitannya, untuk mencari keseimbangan atau kompensasi dalam bentuk : kesenangan-kesenangan yang terlarang.
Khususnya anak-anak gadis yang sedikit sekali ataupun sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang dari ibunya sendiri dan lngkungan keluarganya, cenderung akan mencari kompensasi dengan melakukan relasi seksual intensif, yang tidak tekendali dan tanpa control dengan satu atau beberapa orang pria. Pad umumnya kebiasaan tersebut mengakibaatkan : kehamilannya.
Nafsu birahi kaum laki-laki yang menggaulinya diinterprestasikan secara salah, yaitu sebagai bentuk kemesraan, seperti yang selalu dirindukannya. Maka kebutuhan untuk mendapatkan kasih saying dan kemesraan --- yang tidak diperolehnya dari ibunya atau lingkungan keluarga sendiri --- , inilah yang stimuli kesediaannya untuk menjadi hamil. Biasanya, ibu-ibu muda yang tidak kawin dan memiliki sifat keibuan yang besar itu dengan sukarela menyerah pada sergapan seksual yang pertama ( menyerah laki-laki yang sudah berpengalaman).
• Sebagai akibat dari kebutuhan untuk mendapatkan cinta kasih dan kemesraan yang tidak diperoleh dari ibu bapaknya.
Ibu-ibu muda yang belum matang secara psikis dan tidak kawin itu hamper semuanya memiliki ego yang sangat lemah, sehingga mereka tidak mampu menolak bahaya-bahaya dari luaryang bakal manimpa dirinya. Relasi-relasi seksual yang intensif ini dengan sendirinya membawa konsekuensi kelahiran bayinya “tanpa ayah” atau anak-anak jadah.
Biasanya, sikap ibu-ibu muda terhadap byinya itu sangat infantile sifatnya. Secara instinktif memang akan tumbuh rasa kasih saying pada bayinya. Tapi tidak jarang rasa positif ini dibarengi dibarengi emosi-emosii malu dan rasa penolakan hebat terhadap bayinya, sehingga tindakan ibu muda tadi tidak bertanggung jawab dan kekanak-kanakan sekali. Kerinduan yang idak disadari pada ibu-ibu muda ( yang tidak dewasa ) akan seorang bayi itu merupakan pengganti bagi kerinduan dan tuntutannya pada ibunya sendiri; yaitu rindu akan kasih sayang ibu sendiri, yang kurang atau tidak pernah dirasakannya.


Kelapangan emosional yang sering diderita oleh anak-anak gadis puber itu biasanya disebabkan oleh konflik-konflik hebat dengan ibunya; atau disebabkan oleh meninggalnya ayah dan ibu. Maka peristiwa semacam ini tidak jarang mendorong gadis tersebut lemah menyerah pada pria pertama yang dijumpainya.
Dan dia menjadi objek seksual yang pasif pada pria tersebut, tanpa bisa menolak setiap ajakan bersenggama. Sebab dia mengangggap nafsu-nafsu birahi dan gelora seksual pria tadi sebagai kemesraan “ sejati “. Sampai akhirnya dia menyadari, bahwa dirinya menjadi hamil diluar kemauannya sendiri.
Ciri karakteristik dari kebanyakan ibu-ibu muda yang tidak kawin itu ialah:
• Sangat pasif dan masokhistik
• Mudah menyerah, dan tidak mempunyai daya tahan untuk menolak cumbu rayu serta bujukan pria
• Diliputi rasa kerinduan akan kasih sayang serta kemesraan dari orang tuanya.
Tingkah laku orang tua ( ayah-ibu ) yang binal dan tidak terkendali, terutama dibidang seks, sering kali mendorong anak-anak gadisnya ikut-ikutan melakukan perbuatan-perbuatanpromiscuous ( melakjukan seks bebas dengan siapapun juga ), menjadi pelacur, atau menjadi ibu muda tanpa suami. Namun tidak jarang tingkah laku ayah ibu yang sangat fanatk saleh dan religious malahan justru membangunkan rasa-rasa pemberontakan pada anak-anak gadis mereka, yaitu:
• Membangunkan rasa rebeli/memberontak untuk beremansipasi; dan timbul.
• Hasrat menunjukkan “ kedewasaannya” dengan jalan: melakukan relasi seksual intensif dengan banyak laki-laki sebelum perkawinan.
• Relasi ini biasanya mengakibatkan kehamilannya diluar ikatan perkawinan.
Pada peristiwa terakhir, gadis tersebut menjadi seorang IBU PEMBERONTAK, yang jjustru akan menentang larangan-larangan menjalani kesenangan seksual premarital, untuk menunjukkan keberanian dan “kedewasaannya”. Dan apabila dia kemudian sadar bahwa ia sudah menjadi hamil, serta merasa sangat berdosa sekali, maka untuk melupakan semua dosa-nodanya, ia lalu melakukan relasi seksual yang semakin intensif tanpa emosi dengan macam-macam lelaki ( melakukan promiskuitas).

Banyak wanita muda yang hamil diluar perkawinan itu bertingkah laku bagaikan seorang criminal yang dikjar-kejar dia, maka semakin tersesat menyasar tingkah laku promiscuousnya yang tidak terkendali. Oleh karna itu kehamilan diluar perkawinan itu benar-benar merupakan satu komplikasi-sosial, yang dipenuhi rasa-rasa berdosa dan bersalah. Semakin besar rasa-rasa bersalah dan berdosa, semakin menyasarlah tingkah lakunya. Dan pada akhirnya, setelah bayinya lahir, dan meninggalkan rasa tanggung jawab sebagai ibu.
3. Pseudocyesis
Kehamilan palsu (pseudocyesis) adalah suatu keadaan dimana seorang wanita menunjukkan tanda-tanda dan gejala kehamilan seperti tidak mendapatkan menstruasi, adanya mual-muntah, pembesaran perut, peningkatan berat badan bahkan kadang kala hasil test urin dapat menjadi positif palsu (false positif), dan gejala kehamilan lainnya tetapi sesungguhnya tidak benar-benar hamil.
Penyebab yang pasti dari hamil palsu belum diketahui. Menurut Whelan dan Stewart ( 1990 ), penyebab kehamilan semu adalah :
Kehilangan kehamilan sebelumnya ( abortus )
Kemandulan sebelumnya
Secara psikologis dan medis dibuat-buat ( emosinya tidak stabil )
Menderita isolasi sosial
Wanita merasa kelahiran berperan penting secara keseluruhan
Selain dari faktor di atas, terjadinya kehamilan semu dapat pula disebabkan karena wanita yang belum dapat anak pada usia akhir 30 atau awal 40 tahun atau adanya kematian janin sebelumnya dan yang terutama atau umumnya adalah disebabkan factor psikologis / emosional dimana karena keinginan yang besar dari wanita untuk memiliki anak untuk hamil, sehingga kelenjar pituitary terpengaruh dan akhirnya menyebabkan kegagalan system endokrin dalam mengontrol hormone yang menimbulkan keadaan seperti hamil atau dengan kata lain kelenjar pituitary menterjemahkan perubahan-perubahan kecil pada dirinya sebagai suatu kehamilan atau bisa juga karena ingin menghindari kehamilan
Pengobatan tergantung sejauh mana kepercayaan pasien terhadap delusi/khayalannya, perlunya dukungan dari pasangan hidup dan juga keluarga untuk mengatasinya.Untuk suatu keadaan yang berat dimana penderita benar-benar merasa yakin kalau dia hamil dan keadaan ini sampai menimbulkan depresi maka konseling psikologis atau psikiater mungkin diperlukan.
Namun adanya keadaan / kondisi tersebut pada akhir decade ini menurun karena alasan sosial dan budaya, seperti factor medis dan adanya uji yang nyata dan akurat.
Contoh peristiwa kehamilan palsu atau pseudocyesis;
Seorang wanita yang telah kawin beberapa tahun lamanya, akan tatapi tatap saja ia belum juga bisa melahirkan seorang anak. Adapun sebab sterilitasnya adalah gangguan pada kelenjar endokrin. Kemudian wanita tersebut mengembangkan mekanisme jadi hamil. Jelasnya ia mulai mengidap gejala pseudocyesis.
Sebab dari kehamilan palsu tersebut adalah peristiwa dimasa gadisnya, sewaktu menjadi mahasiswi wanita tersebut merupakan jagoan nomor satu dalam kelompoknya yang terdiri dari 11 orang. Selalu saja ia menang dalam setiap rivalitas dan kompetisi intelektual ini. Kelompok ini mula-mula menetapkan waktu-waktu yang tetap untuk melakukan studi bersama, agar masing-masing anggota bisa mendapatkan angka tertinggi pada setiap tentamen dan ujian. Lambat laun berkembanglah rasa iri hati diantara para mahasiswa tersebut sehingga kelompok itu menjadi gelisah oleh karena muncul iklim kompetitif penuh persaingan. Kemudian hai, berkkembang pula revalitas erotik diantara anggota kelompok tersebut. Pada akhirnya mereka sesumbar dan saling menantang, siapa diantara mereka kelak yang akan kawin paling duluan, dan paling pertama melahirkan atau mendapatkan seorang anak.
Setelah mereka lulus ujian sarjana, 6 orang pria dan 5 orang wanita itu lalu bersumpah akan tetap loyal satu sama lain sepanjang hidup dan akan berkumpul setiap tahunnya di suatu tempat yang akan ditentukan di kemudian hari untuk mengadakan reuni bersama.
Wanita yang mengidap gejala pseudoceysis atau kehamilan palsu yang disebutkan tadi yang dahulunya selalu menang dalam setiap kompetisi melawan kawan-kawannya, pada akhirnya harus mengalami kenyataan sangat pahit, bahwa dirinya kini sangat ketinggalan dengan kawan-kawan lainnya.Terutama ketinggalan dalam pemenuhan fungsinya sebagai seorang ibu dan ternyata ia mandul. Adapun sebab dari ketidakmampuan menjadi hamil karena ia mengalami kerusakan pada system kelenjar-kelenjar endokrin, dan tidak bisa jadi hamil. Olek peristiwa inilah ia mengembangkan mekanisme kehamilan palsu. Harapannya ialah agar di bisa menyatakan pada kawan-kawannya bahwa dirinya adalah wanita yang “subur” dan benar-benar bisa jadi “hamil” sesuai dengan harapan yang sangat besar pada setiap saat.

Wanita tersebut tidak pernah mau memeriksakan dirinya ke dokter, setiap waktu ia yakin seyakin-yakinnya bahwa dirinya telah jadi hamil. Akan tatapi pada saat yang sama dia pun menyadari bahwa kehamilannya itu adalah semu belaka dan tidak betul-betul hamil. Jelaslah bahwa wanita tersebut dapat kontradiksi pikiran dan perasan dan pertentangan antara dua macam harapan yang sangat intens dan kontradiktif. Dengan kehamilan palsunya ia berharap agar ia bisa membela diri yaitu setiap kali memberikan dalih bahwa dia mengandung, namun kemudian mengalami keguguran kandungan. Dan ini menampilkan gambaran seorang wanita yang normal dan subur. Dia selalu berusaha dengan segala macam akal tipu berusaha mengelabui kawan-kawannya, dengan maksud untuk mendapatkan atribut “pemenang” dalam kelompoknya yang yang berkumpul setiap setiap tahun itu. Maka peristiwa pseudocyesis ini jelas menampilkan gejala-gajala yang menjuras pada gejala neusosis.

Dari kasus pseudocyesis di atas dapat diambil kesimpulan bahwa mekanisme psikologis yang dikembangkan oleh wanita tersebut adalah;
1. Ada sikap yang ambivalen terhadap kehamilannya, yaitu ingin sekali menjadi hamil.
2. Keinginan untuk jadi hamil itu terutama sekali tidak timbul dari dorongan keibuan, akan tetapi khusus dipacu oleh motif-motif agresivitas dendam dan sikap bermusuh, yang semuanya berssumber pada harga diri yang belebih-lebihan atau narsisme ekstrim.
3. Seringkali keinginan-keinginan tersebut dibarengi rasa-rasa bersalah dan dorongan untuk menghukum diri sendiri, yang kemudian dikompensasikan dalam bentuk agresivitas.
4. Secara simultan berbareng muncul kesediaan untuk menyadari, sekaligus kesediaan untuk tidak mau menyadari bahwa kehamilannya adalah ilusi belaka. Oleh komponen-komponen yang kontradiktif ini wanita yang bersangkutan tidak mau ke dokter untuk memeriksakan dirinya.

Peristiwa pseudocyesis tersebut mengingatkan kita pada peritiwa pseudology.
Pseudology adalah fantasi-fantasi kebohongan yang selalu ditampilkan ke depan, biasanya banyak dilakukanoleh anak-anak kecil untuk mengingkari dan menghindari realitas yang tidak menyenangkan. Ciri utama fantasi-fantasi kebohongan tersebut ialah dambaan-dambaan atau keinginanyang sangat kuat intens, diselingi dengan kebimbangan antara “ya, bisa terjadi” dan “tidak, tidakk bisa, tidak mungkin terjadi”.
Seorang pseudologis dan wanita yang hamil semu itu kedua-duanya ingin sekali menonjolkan EGO-nya dengan jalan membungkus rapi segala kekurangan sendiri. Pada satu pihak ia bisa berbangga hati, karena bisa mengibuli orang lain dengan jalan menceriterakan fantassi-fantasi kebohongan untuk menuttupi kelemahan sendiri. Namun di pihak lai ia merasa betul-betul berdosa dan bersalah, karena ia menceriterakan fantasi-fantasi kebohongan. Yang jelas komponen-komponen psikologis itu memainkan peranan besar dalam proses organis pada peristiwa pseudocyesis.

4.ABORTUS DAN KEENGGANAN UNTUK HAMIL
Masalah kemandulan ini mau tidak mau mengantarkan kita juga pada masalah:abortus yang disengaja atau pengguguran janin. Sebab pengguguran tersebut sering kali menyebabkan peristiwa sterilitas pada diri wanita yang bersangkutan.berkaitan dengan masalah abortus tersebut,tradisi dan hukum-hukum agama tertentu memberikan pengaruh yang imperatif (mengharuskan ,memerintah) terhadap relasi seksual dan kehamilan.
Disebabkan oleh kepatuhan pada aturan agama,atau takut terhadap saksi tradisi dan norma-norma religius tertentu,ada kalanya wanita secara sengaja melakukan abortus.hukum-hukum sekuler / keduniawian dan hukum-hukum agama kuat mempengaruhi sikap wanita terhadap kehamilannya;yaitu bersikap menerima,atau menolak kehamilannya dengan jalan melakukan pengguguran janin.
Penulis beranggapan bahwa setiap wanita berhak melaksanakan fungsi keibuannya kalau ia menghendakinya,dan berhak pula menolak keibuannya kalau ia menghendakinya.hal ini sesuai dengan hak asasi kebebasan setiap manusia untuk menentukan nasib dan arah hidupnya sendiri,baik dengan jalan legal maupun tidak legal.

Yang perlu kita pahami dalam peristiwa abotus ini ialah:motif-motif apakah yang mendorong seorang wanita menginginkan seorang anak.dan motifasi-motifasi apa yang mendorong seorang wanita janin yanag tengah dikandungannya,baik pada peristiwa kehamilan dalam ikatan perkawinan yang sah,maupun dalam ikatan yang illegal. Juga pada peristiwa kehamilan pertama maupun pada kehamilan yang sudah berulang-ulang.
Di mata masyarakat pada umumnya,status keibuan ekstramarital itu merupakan satu keaiban;dan hukuman harus di berikan kepada para wanita yang melakukan intercourse atau sanggama “terlarang“ di luar relasi perkawinan.
Khususnya hal tersebut di atas terjadi dalam masyarakat yang mempunyai norma-norma susila yang sangat kuat,keras-ketat,serta keharusan menganut hukum-hukum agama dengan patuh.Mengaruh yang inhibitif (menghambat,mengerem,melarang)dari norma-norma moral dan hukum religius itu tidak boleh dicampakkan atau dikecilkan artinya. memang benar bahwa dalam masyarakat modren sekarang ini terhadap tendensi untuk mengizinkan dan mentolerir kebebasan seks yang lebih besar bagi kaum wanita.namun demikian kedudukan anak haram atau ekstramarital sekalipun di dalam negara yang sudah amat maju dan sangat demokratis tetap masi merupakan :
- Beban- moral dan beban sosial yang cukup berat ;
- Baik bagi ibu yang bersangkutan, bagi sanak keluarga,lembaga sosial,maupun bagi negara.
Penolakan atau penerimaan oleh masyarakat luar terhadap fungsi keibuan dan kehamilan wanita itu pasti menumbuhkan reaksi-reaksi emosional yang individual pada setiap wanita.sehubungan dengan hal ini acap kali wanita yang bersangkutan berusaha memisahkan kehidupan seksualnya dari fungsi keibuannya ;yaitu pemisahan antara kenikmatan relasi seks dengan fungsi sebagai ibu.oleh sebab itu pula maka:
• Abortus adalah ungkapan penolakan terhadap keibuan ekstramarital.
• Dan penolakan terhadap kehamilan di luar ikatan perkawinan itu pada umumnya di sebabkan oleh tekanan-tekanan sosial atau sanksi-sanksi sosial;bukan disebabkan oleh tidak adanya keinginan untuk menjadi ibu pada wanita-wanita yang bersangkutan.
Pada banyak wanita peristiwa abortus ini sangat memedihkan hati dan jiwanya,di samping itu menyebabkan kesakitan jasmaniah.selanjutnya mengenai ibu-ibu atau wanita-wanita yang melakukan abortus dapat kita kategorikan dalam tiga tipe,yaitu :
a) Wanita-wanita yang bersifat aktif-agresif dan “revolusioner”.pada umumnya tipe ini berusaha menentang norma-norma sosial dan sanksi tradisional.mereka sangat marah dan mendendam pada suami atau kekasihnya,dan mereka sanggup menanggung segala konsekuensi dari tindakannya. ide-idenya mengenai janin yang di kandungnya itu negatif,sedang calon bayinya dirasakan sebagai beban dan kesusahan bagi dirinya.
Maka tanpa ragu-ragu sedikitpun juga,dan dengan hati dingin waita tersebut akan melakukan abortus;baik melalui usaha sendiri dengan otot-otot peluntur maupun dengan bantuan orang lain (dokter,dukun,bidan,tukang pijat,dan lain-lain )untuk memusnahkan janinnya.
Jika idenya terdapat sang janin positif, maka bayi tersebut dianggap sebagai perstasi kebanggaan.dia akan memelihara janin dan bayinya kelak,tanpa menghiraukan segala cemooh masyarakat sekitar.dengan berani dan tabah di tentangnya semua norma-norma konvensionaldan norma tradisional.salah atau benar,baik atau buruk,anak tersebut adalah anaknya,bagian dari EGO-nya yang akan dipertahankan mati-matian terhadap semua bertuk serangan,cemoohan,hinaan,dan usaha pemusnahan.
b) Tipe kedua ialah wanita-wanita yang bersifat pasif lemah.ia tidak menghendaki berfungsinya keibuan,dan menolak janinya.kehamilanya dianggap sebagai satu “kecelakaan”,dan sebagai nasib buruk.selanjutnya dia tidak manpu berbuat sesuatu pun juga,kecuali melakukan abortus.
Sekalipun pada hakekatnya ia adalah seorang ibu sejati yang tidak akan menolak anaknya sendiri,namun oleh kelemahan hati dan kepasifannya,ia merasa “dipaksa” oleh konvensi-konvensi sosial dan tekanan masyarakat lingkungannya untuk menggugurkan kandungannya.
c) Tipe ketiga ialah wanita yang dengan sadar dan pertimbangan –pertimbangan intelektual dingin menghayati keadaan diri dan kehamilannya sebagai sesuatu yang “belum di harapkan “.dan dengan hati pasrah ia menanggung konsekuensi dari perbuatnya dengan melakukan abortus.benar-benar ia berusaha melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial serta moralitas sosial,dan terhadap hati nurani sendiri.
Moralitas sosial itu tidak berpengaruh banyak terhadap wanita-wanita hamil yang sudah kawin.sebaliknya,moralitas dan sanksi-sanksi sosial tersebut berat menekan dan mengancam status wanita-wanita hamil yang tidak kawin.
Asosiasi dengan hal tersebut di atas,bagibwanita-wanita yang sudah kawin,abortus yang di lakukan itu mempunyai latar belakang penyebab atau motivasi-motivasi yang berbeda:pada umunya bukan disebabkan oleh tekanan.moralitas dan sanksi sosial.misalnya saja disebabkan oleh:
1) Pertimbangan ekonomis,
2) Gangguan terhadap rencana-rencana tertentu,
3) Hambatan bagi karier pekerjaannya.
4) Keinginan untuk menikmati hidup berduaan saja dengan suaminya dalam waktu tertentu,
5) Punya perasaan belum sanggup menjadi seorang ibu yang bertanggung jawab.
6) Tidak mau memperbanyak jumlah anaknya,dan lain-lain.
Sebab-sebab yang mendorong seseorang melakukan abortus dengan sengaja adalah macam-macam,antara lain:
1) Kemiskinan dan ketidak-mampuan ekonomis.
2) Moralitas sosial,
3) Ketakutan terhadap orang tua
4) Rasa malu dan aib terhadap tetangga serta handai tauladan,
5) Relasi cinta yang tidak harmonis
6) Ketidak-sengajaan yang mengakibatkan “kecelakaan” dan terpaksa hamil,
7) Pihak pria melarikan diri dan tidak mau bertanggung jawab,sehingga menyababkan status keibuan ekstramarital (unmarried mother atau ibu-ibu yang tidak kawin ),dan lain-lain.


SEBAB-SEBAB KEGUGURAN KANDUNGAN
Ilmu pengetahuan modern tidak atau belum menemukan bukti adanya tipe-tipe wanita tertentu yang mempunyai perdisposisi besar untuk mengalami abortus.namun banyak fakta memberikan petunjuk,bahwa wanita yang sering mengalami keguguran kandungan secara berulang-ulang itu pada umumnya memiliki tendensi yang destruktif terhadap Ego sendiri atau orang lain.semua peristiwa itu sangat dipengaruhi oleh sikap-hidup wanita tersebut.umumnya saja:
1) Sikap yang diwarnai dendam dan agresi terhadap suami.
2) Punya interest-interest profesionalyang sangat kuat,dan tidak ingin diganggu oleh kehadiran bayinya;
3) Punya ambisi-ambisi tertentu;
4) Ada dorongan menampilkan diri pada “high society”atau dikalangan atasan (jet-set);
5) Kehidupan seksual bebas dan menganut paham cinta bebas,dan lain-lain.
Semua komponen yang disebutkan di atas bisa disebutkan sebagai gejala maskulinitas;dan bisa menjadi begitu kuatnya,sehingga konflik dengan fungsi keibuannya,serta bertentangan dengan feminitasnya.jelasnya:
Komponen maskulinitas tersebut sangat merugikan sifat-sifat keibuan dan kewanitaannya.
Termasuk pada kategori wanita “maskulin”jantan ini ialah :wanita-wanita yang dihinggapi ketakutan kalau-kalau ia tidak mampu mengandung dan melahirkan anak.pada umumnya mereka itu lalu berusaha menghindari kehamilan,atau melakukan abortus jika mereka sudah menjadi hamil.
Memang tidak mudah mengkonstatir sebab-sebab dari terjadinya abortus.faktor penyababnya pun biasanya tidak tunggal,akan tetapi multiple atau majemuk.sebab-sebab emosional yang sangat acute dan mendalam,shcok-shcok mental,sebab-sebab psikogenis,dan disposisi psikis tertentu,jika semua ini bergabung menjadi satu,akan menimbulkan:
Kecemasan,ketidak-mampuan dan keengganan yang tidak disadari untuk menjadi hamil,serta bisa mengalahkan EGO yang sadar yang ingin mendatangkan anak.
Pada akhirnya,AKU-SADAR yang berkenginan untuk mendapatkan anak itu tidak mampu mengalahkan unsur-unsur ketidaksadaran yang sangat kuat untuk membuang janinnya.

REAKSI WANITA TERHADAP KEGUGURAN KANDUNGANNYA.
Reaksi wanita terhadap keguguran kandungannya itu sangat bergantung pada konstitusi psikisnya sendiri.maka tak bisa di pungkiri,bahwa janin atau bayi yang dikandungnya itu di rasakan sebagai dari jasad rokhaniahnya sendiri.oleh karena itu mati atau gugurnya embrio tidak hanya mengangkut substansi “endoparasit”itu sendiri,akan tetapi sangat berkepentingan pula dengan Ego wanita yang mengandung embrio tersebut.
Anak-anak gadis yang melakukan relasi seksual bebas di luar ikatan perkawinan,biasanya mereaksi secara stereotipis terhadap kehamilannya.mula-mula mereka menjadi lebih rasional,dan menganggap kehamilan tadi sebagai “kecelakaan” dari intercourse-nya dengan sang pacar.peristiwa tersebut kemudian harus “dihukum”serta di beri sanksi oleh hati nurani sendiri.dengan begitu sang janin benar-benar merupakan bentuk parasit yang sangat merugikan dirinya,dan harus dimusnahkan melalui abortus,gadis-gadis tersebut kemudian menyesali semua relasi-relasi seksualnya;juga menyesali janinnya, karena menimbulkan keaiban dan devaluasi pada dirinya.
Pada umumnya,sekalipun pada awalnya terdapat banyak unsur kasih sayang dan saling pengertian di antara kedua partner yang berintaan itu,namun setelah terjadi abortus tadi muncullah kemudian banyak perubahan pada diri anak gadis atau wanita yang bersangkutan.keguguran itu memberikan shocl mental pada anak gadis,sehingga dia banyak melakukan introspeksi terhadap pengalaman-pengalaman sendiri.
Pendeknya,sikap hidup wanita atau gadis tersebut tiba-tiba saja menjadi sangat berubah.ia kini merasakan “satu vacuum”atau kekosongan jiwa ketika menghadapi kekesihnya.benar-benar persaannya terhadap pacarnya telah berubah secara total.ia lalu menyadari,bahwa:
1) Sejak semula seharusnya dia tidak boleh terlalu lemah menyerah;dan tidak boleh terlampau banyak memberikan pengorbanan yang kurang perlu pada kekasihnya.
2) Disadarinya pula,secara fisik dan spiritual atau psikis,wanita memang tidak sama dengan laki-laki;yaitu bahwa wanita secara biologis adalah lebih “inferior”dari pria.
3) Karena sesudah melakukan sanggama-sanggama yang berulang kali,di pihak pria tidak terdapat bekas sedikitpun juga.sedangkan wanita harus memikul beban konsekuensinya,yaitu menjadi hamil.
Kebanyakan peristiwa abortus sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor psikogenik.keterangannya sebagai berikut:
1) Faktor-penyebabnya terletak pada psike atau jiwa.
2) Wanita hamil yang bersangkutan,yang mencari “balabantuan “pada faktor penyebab tersebut,melakukan abortus secara tidak sadar.semua peristiwa berlangsung di luar kemauan sendiri,didorong oleh harapan yang tidak disadari,harapan yang ada di bawah-sadar,
3) Adalah mengherankan,bahwa komponen-komponen ketidak sadaran yang menolak kehamilan itu justru sangat berlawanan sekali dengan keinginan yang sangat kuat dari wanita yaang bersangkutan untuk menjadi hamil.yang menjadi masalah bagi studi sistematis mengenai peristiwa abortus ini ialah:berapa besarnya masing-masing pengaruh dari faktor-faktor psikogenik dan faktor-faktor organik ;dan bagaimana akibat dari “pertempuran”antara kedua faktor yang saling berlawanan dan saling berebut pengaruh itu.
Jelaslah, bahwa abortus sebagai satu proses organik pada umumnya secara simultan juga menampilkan proses psikis;dan dipengaruhi oleh komponen-komponen ketidak sadaran (tidak dipengaruhi oleh faktor kesadaran ).di tambah pula,abortus habitual yang berulang-ulang terjadi biasanya disebabkan oleh:kerusakan pada gamet-gamet atau sel-sel kelamin.
Sebaliknya,abortus disengaja itu sedikit atau banyak merupakan aktivitas volunter,yang dikehendaki sendiri secara sadar,biasanya abirtus ini merupakan satu mekanisme penyesuaian diri yang efisien terhadap tuntunan realitas.artinya :abortus itu di anggap sebagai alat yang paling baik untuk membuang janin sebagai parasit yang merugikan wanita yang bersangkutan,rena peristiwa kehamilannya menimbulkan rasa malu dan aib pada diri sendiri dan keluarganya.

5. KEHAMILAN TIDAK DIINGINKAN ( KTD )
Kehamilan merupakan suatu anugrah yang diberikan oleh Allah SWT bagi kaum wanita. Namun, sebagian besar menganggap bahwa kehamilan adalah suatu masalah. Hal ini biasanya terjadi pada remaja yang hamil akibat pergaulan bebas dan pada pasangan suami istri yang memang tidak menghendaki adanya kehamilan.


Hamil yang tidak dikehendaki pada remaja
Remaja bisa mengatakan bahwa kalau seks bebas atau seks pranikah itu aman untuk dilakukan. Namun, bila remaja melihat, memahami atau pun merasakan akibat dari perilaku itu, ternyata hasilnya lebih banyak mendatangkan kerugian yakni akibat yang terjadi bisa jauh lebih besar daripada pasangan suami istri.
Kehamilan usia dini, selain berakibat kurang baik bagi tubuh, juga bisa merampas ” kenikmaatan ” masa remaja yang seharusnya dinikmati oleh setiap remaja laki-laki maupun perempuan serta berakibat hilangnya kesempatan untuk mendapat pendidikan formal. Padahal, pendidikan formal yang baik merupakan salah satu syarat (meskipun tidak harus) agar dapat bersaing di masa depan. Selain itu, akan mengalami konflik internal, semisal ketidaksiapan, tapi juga mesti menghadapi tekanan dari lingkungan sosial, semisal celaan.
. Sebab kehamilan diluar nikah pada remaja dikategorikan dalam dua dimensi, yakni dimensi pasif (wanita hamil sebagai korban perkosaan dan pemaksaan sejenis), dan dimensi aktif (wanita memang berkeinginan melakukan hubungan seksual).
Kedua dimensi dimuka, dipicu oleh sebab-sebab yang luas. Beberapa diantaranya adalah maraknya pornografi di tengah masyarakat, kemudahan memperoleh akses ke sumber-sumber pemuasan seksual, kebebasan dalam pergaulan, dan pergeseran nilai-nilai moral. Sebab-sebab itu tidak akan melahirkan hubungan seksual pranikah bila remaja memiliki kendali internal (Internal Locus of Control) yang kuat. Lemahnya kendali internal disebabkan kegagalan pendidikan seks baik dalam keluarga, sekolah atau masyarakat. Akibat dari lemahnya kendali internal, remaja mudah terpengaruh oleh hal-hal yang berasal dari luar dirinya seperti provokasi media, dan pengaruh teman-teman peernya. Fokus pada penguatan kendali internal remaja, adalah pencegahan yang paling mungkin berhasil, apalagi jika yang dilakukan dalam skala kecil. Misalnya dengan pemberian informasi yang benar, sebab salah satu indikator kuatnya kendali internal adalah adanya informasi benar yang diyakini. Akan tetapi upaya pencegahan dengan penguatan kendali internal pada remaja kurang bisa berjalan efektif bila lingkungan sekitar tidak mendukung. Karenanya, mestinya pencegahan dilakukan secara bersama-sama antara keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah.
Hamil yang tidak dikehendaki pada pasangan suami istri
Kenyataan menunjukkan bahwa kadang kehamilan tak ubahnya mimpi buruk yang menjadi kenyataan, berujung pada fakta yang dirasakan bagai sebuah tragedi. Suatu realitas kehidupan yang tidak hanya menyangkut diri wanita, tetapi juga keluarga bahkan masyarakat sekitarnya.
Pasangan suami istri tak luput dari masalah jika kehamilan sang istri tidak dikehendaki.. Kehamilan tak diinginkan merupakan terminologi yang biasa dipakai di kalangan medis untuk memberi istilah adanya kehamilan yang tidak dikehendaki oleh wanita bersangkutan maupun lingkungannya.
Ada beberapa kejadian yang biasanya mendahului KTD, meskipun kehamilan didapatkan dalam pernikahan. Misalnya masalah ketidaksiapan, jumlah anak sudah cukup banyak, merasa umur terlalu tua untuk hamil, riwayat kehamilan atau persalinan sebelumnya yang penuh penyulit dan komplikasi, alasan ekonomi, merasa telanjur mengonsumsi obat atau menderita kelainan yang dikhawatirkan membuat cacat pada anak, riwayat melahirkan anak cacat (mungkin lebih dari satu kali), pasangan suami-istri di ambang perpecahan, dan kegagalan penggunaan alat KB atau kontrasepsi.
Hal ini bisa menimbulkan depresi ringan sampai berat pada ibu, yang bisa sangat berpengaruh pada janin, bahkan berakibat keguguran atau terlahir cacat
Hal lain yang lebih menyedihkan adalah kehamilan hasil perkosaan atau kehamilan pada ibu cacat mental. Hasil hubungan sesama anggota keluarga sedarah (incest) kadang juga dijumpai.
Masih sederet lagi alasan yang dianggap sebagai penyebab KTD bisa kita dapatkan di klinik sehari-hari, malahan kadang latar belakangnya sederhana, seperti malu dilihat tetangga karena anak bungsunya masih kecil kok sudah hamil lagi.
Berbagai Sikap Penerimaan.
Sikap wanita yang mengalami kehamilan tak diinginkan ( KTD ) dikategorikan dalam tiga sikap penerimaan, yaitu (1) segera menerima dan meneruskan kehamilan sampai melahirkan dengan wajar saja, (2) mulanya menolak, tetapi kemudian menerimanya dengan beban psikologis yang mengganggu kehamilan dan proses persalinan, dan (3) tetap menolak dan berupaya untuk tidakmeneruskankehamilan.
Penyelesaian pertama adalah yang terbaik, tidak ada risiko menyalahi etika atau melanggar norma yang ada. Pasangan yang segera bisa menerima kehamilannya, tak akan banyak menghadapi masalah. Agar bisa menerima kehamilan segera, dituntut konsep pemikiran yang dewasa dan bijaksana, sedangkan dari pihak tenaga kesehatan dibutuhkan kemampuan melakukankonselingsecarabaik.
Pengaruh Faktor Psikis
Bagi yang menerima dengan berat hati harus diperhitungkan dampak psikologis yang timbul, agar dapat dicarikan penyelesaian dan upaya mengantisipasi selama berlangsungnya kehamilandanprosespersalinan.
Selain upaya medis, harus tetap diusahakan pendekatan yang bersifat memperbaiki goncangan psikologis karena sangat berarti dalam penanganan kasus seperti ini. Tentu diharapkan wanita yang hamil tersebut dapat menerima dengan baik, dan menjalani kehamilannyasecarawajar.
Pada wanita hamil dengan beban psikologis, gejala-gejala tidak mengenakkan yang sering didapatkan di masa kehamilan akan dirasakan lebih berat. Contohnya, muntah-muntah di kehamilan awal bisa dialami sangat berlebihan sampai menimbulkan komplikasi yang mengganggukesehataumum.
Motivasi untuk mengonsumsi nutrisi yang baik pun bisa terganggu. Kadang perhatian yang kurang terhadap kehamilan dan janin dimanifestasikan sebagai keengganan kontrol secara teratur, bahkan malas minum suplemen yang diberikan. Kualitas kesehatan janin bisa jadi tidak akansebaikyangdiharapkan.


6. HAMIL DENGAN JANIN MATI

Adanya kematian janin ketika masih dalam kandungan ( abortus ) ataupun setelah melalui persalinan adalah suatu peristiwa yang sangat menyedihkan hati dan jiwa bagi para ibu maupun orang-orang disekitarnya yang menanti.
Bagi pasangan suami istri yang sah dan benar-benar menginginkan seorang anak, biasanya terjadi kematian janin dalam masa hamil karma adanya gangguan-gangguan dalam tubuh. Misalnya, adanya kelainan atau penyakit yang diderita oleh seorang ibu ataupun kelainan itu sendiri terjadi pada janin sehingga dapat dikatakan bahwa hal ini adalah abortus psovokatus, artinya abortus yang tidak dikehendaki.
Sehingga bila al ini dialami oleh seorang ibu, maka tentunya ibu itu akan mengalami kesedihan yang mendalam, kekecewaan bahkan sampai stress. Mereka telah menanti kehadiran seorang bayi, tapi ternyata hanya menjadi impian. Ibu tersebut telah susah payah mengandungnya.
Berbagai sikap atau reaksi yang akan trjadi pada seorang ibu/wanita jika mengalami hal tersebut, yakni diantaranya :
 Wanita hamil / si ibu tersebut akan mengalami kesedihan / atau kekecewaan yang tidak berlangsung lama. Hal ini biasanya terjadi pada ibu-ibu yang telah memiliki anak sebelumnya dan juga memiliki kesadaran bahwa kejadian ini adalah takdir dari Sang Khalik. Dengan itu, dia yakin akan mendapat hikmah dari kejadian itu.
 Wanita hamil / si ibu akan mengalami kesedihan yang berlarut-larut sampai mengalami stress dan trauma. Hal ini terutama terjadi pada wanita yang menanti kelahiran anak pertamanya atau wanita yang telah bertahun-tahun sudah menikah tapi baru hamil. Dengan kejadian ini, biasanya mereka beranggapan bahwa Allah tidak saying pada dirinya, Allah tidak percaya padanya padahal mereka beranggapan bahwa mereka mampu memelihara anak itu dengan segala kemampuan dan sifat keibuan yang ada pada dirinya. Apabila anggapan ini terus melekat dipikirannya, maka amat berbahaya karena bias saja menimbulkan stress atau trauma, seperti tidak lagi ingin hamil atau punya anak untuk selamanya.
 Akan timbul perasaan bersalah dan berdosa. Kemungkinan timbulnya perasaan ini karena berdasarkan pengalaman / sikapnya. Misaknya, semasa anak-anak atau masa remaja dia sering melakukan dosa terhadap orang tuanya atau terhadap anak kecil sehingga dia menganggap kematian anaknya sebagai resiko / hukuman yang diberikan Allah pada dirinya.
Berbeda halnya dengan ibu / wanita yang pada dasarnya memang tidak menginginkan kehamilan atau kelahiran seorang anak. Biasanya dijumpai pada wanita yang hamil diluar nikah wanita-wanita yang bersifat pasif lemah, wanita yang merasa tidak mampu memelihara anaknya, dan sebagainya.
Wanita-wanita dengan tipe seperti ini malahan akan merasa sangat senang jika anaknya meninggal. Bahkan banyak diantara mereka dengan sengaja melakukan abortus untuk mengakhiri kehamilannya. Tindakan inilah yang disebut abortus kriminalis, artinya abortus yang dilakukan secara sengaja yang biasa dilakukan dengan mengkonsumsi obat-obatan atau dengan bantuan dukun serta tenaga medis lainnya.

7. HAMIL DENGAN KETERGANTUNGAN OBAT
Ketagihan adalah perbuatan kompulsif (yang terpaksa dilakukan) dan keterlibatan yang berlebihan terhadap suatu kegiatan tertentu.Kegiatan ini bisa berupa pertaruhan (judi) atau berupa penggunaan berbagai zat, seperti obat-obatan.Obat-obatan dapat menyebabkan ketergantungan psikis saja atau ketergantungan psikis dan fisik.
Ketergantungan psikis merupakan suatu keinginan untuk terus meminum suatu obat untuk menimbulkan rasa senang atau untuk mengurangi ketegangan dan menghindari ketidaknyamanan.
Obat-obatan yang menyebabkan ketergantungan psikis biasanya bekerja di otak dan memiliki satu atau lebih dari efek berikut ini :
- mengurangi kecemasan dan ketegangan
- menyebabkan kegembiraan, euforia (perasaan senang yang berlebihan) atau perubahan emosi yang menyenangkan lainnya
- menyebabkan perasaan meningkatnya kemampuan jiwa dan fisik
- merubah persepsi fisik.
Ketergantungan psikis dapat menjadi sangat kuat dan sulit untuk diatasi.
Hal ini terjadi terutama pada obat-obatan yang merubah emosi dan sensasi, yang mempengaruhi sistim saraf pusat.
Untuk para pecandu, aktivitas yang berhubungan dengan obat menjadi bagian yang penting dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga suatu bentuk ketagihan biasanya mempengaruhi kemampuan bekerjanya, proses belajarnya atau mempengaruhi hubungannya dengan keluarga dan teman.
Pada ketergantungan yang berat, sebagian besar fikiran dan aktivitas pecandu, tertuju pada bagaimana memperoleh dan menggunakan obat.Seorang pecandu dapat menipu, berbohong dan mencuri untuk bisa memuaskan ketagihannya.
Pecandu memiliki kesulitan untuk berhenti menggunakan obat dan seringkali kembali kepada kebiasaannya setelah beberapa saat berhenti.
Beberapa obat-obatan menyebabkan ketergantungan fisik, namun ketergantungan fisik tidak selalu menyertai ketergantungan psikis.Pada obat-obat yang menyebabkan ketergantungan fisik, tubuh menyesuaikan diri terhadap obat yang dipakai secara terus menerus dan menyebabkan timbulnya toleransi; sedangkan jika pemakaiannya dihentikan, akan timbul gejala putus obat.
Toleransi adalah kebutuhan untuk meningkatkan secara progresif dosis obat untuk menghasilkan efek yang biasanya dapat dicapai dengan dosis yang lebih kecil.Gejala putus obat terjadi jika pemakaian obat dihentikan atau jika efek obat dihalangi oleh suatu antagonis.Seseorang yang mengalami gejala putus obat, merasa sakit dan dapat menunjukkan banyak gejala, seperti sakit kepala, diare atau gemetar (tremor).Gejala putus obat dapat merupakan masalah yang seirus dan bahkan bisa berakibat fatal.
Penyalahgunaan obat adalah lebih dari sekedar efek fisiologisnya.Sebagai contoh, penderita kanker yang sakitnya diobati selama beberapa bulan atau beberapa tahun dengan opioid (misalnya morfin), hampir tidak pernah menjadi pecandu narkotik, meskipun mereka bisa menjadi tergantung secara fisik.Penyalahgunaan obat adalah suatu konsep yang terutama diartikan sebagai gangguan fungsi perilaku dan penolakan oleh masyarakat/lingkungan.
Di Amerika Serikat, istilah medis drug abuse (penyalahgunaan obat) diartikan sebagai penyelewengan fungsi dan maladaptasi, bukan ketergantungan yang disebabkan oleh penggunaan obat.
Dalam bahasa sehari-hari, penyalahgunaan obat (drug abuse) sering diartikan sebagai:
- penggunaan obat ilegal untuk coba-coba dan untuk kesenangan
- penggunaan obat-obatan resmi untuk mengatasi masalah atau gejala tanpa resep dari dokter, dan
- penggunaan obat yang berakibat ketergantungan.
Penyalahgunaan obat terjadi pada semua kelompok sosial-ekonomi dan meliputi golongan pendidikan tinggi dan orang-orang profesional maupun mereka yang tidak berpendidikan dan tidak bekerja.
Meskipun penyalahgunaan obat memiliki efek yang kuat, tetapi emosi pemakai dan lingkungan dimana obat diminum, secara berarti akan mempengaruhi efeknya.
Sebagai contoh, seseorang yang merasa sedih sebelum meminum alkohol dapat menjadi lebih sedih sebagai efek dari alkohol.
Orang yang sama akan menjadi ceria bila meminumnya dengan teman yang senang.Kita tidak selalu dapat memperkirakan dengan tepat, apa yang akan diakibatkan oleh obat pada orang yang sama setiap ia meminumnya.
Bagaimana terjadinya ketergantungan obat adalah rumit dan tidak jelas.Proses ini dipengaruhi oleh zat kimia yang terkandung dalam obat, efek obat, kepribadian pengguna obat dan kondisi lainnya, seperti faktor keturunan dan tekanan sosial.Perkembangan dari pemakaian coba-coba menjadi penggunaan yang sekali-sekali dan kemudian menjadi toleransi dan ketergantungan, belum begitu bisa dimengerti.
Banyak pemikiran mengenai istilah kepribadian pecandu.Orang yang kecanduan sering merasa rendah diri, tidak dewasa, mudah frustasi dan memiliki kesulitan dalam menyelesaikan masalah pribadi dan kesulitan dalam berhubungan dengan lawan jenisnya.
Para pecandu mungkin mencoba untuk lari dari kenyataan yang digambarkan sebagai ketakutan, penarikan diri dan depresi.Beberapa pecandu memiliki riwayat percobaan bunuh diri atau melukai dirinya sendiri.
Para pecandu kadang digambarkan sebagai pribadi yang tergantung, memerlukan dukungan dalam membina hubungan dan memiliki kesulitan menjaga diri mereka sendiri.
Yang lainnya memperlihatkan kegeraman yang jelas dan tidak disadari dan ekspresi seksual yang tak terkendali; mereka mungkin menggunakan obat-obatan untuk mengendalikan perilaku mereka.
Bukti yang ada menunjukkan bahwa sebagian besar dari ciri tersebut timbul sebagai akibat dari kecanduan jangka panjang dan bukan penyalahgunaan obat yang baru saja terjadi.
Kadang-kadang, anggota keluarga atau teman-teman bisa berkelakukan seakan-akan mengijinkan sang pecandu melanjutkan penyalahgunan obatnya atau alkohol; orang-orang ini disebut kodipenden (juga disebut pemberi izin).
Kodipenden bisa membela sang pecandu untuk menghentikan penggunaan obat-obatan atau alkohol namun jarang mengerjakan sesuatu yang lain untuk membantu merubah perilakunya.
Anggota keluarga atau teman yang peduli seharusnya menganjurkan sang pecandu untuk berhenti menyalahgunakan obat dan masuk ke program pengobatan.
Bila sang pecandu menolak mencari pengobatan, anggota keluarga atau temannya tersebut bahkan bisa mengancam untuk menariknya dari pergaulan.
Pendekatan ini mungkin tampaknya kejam, namun dapat disertai dengan intervensi penuntunan secara profesional.
Hal ini dapat menjadi salah satu cara untuk meyakinkan sang pecandu bahwa perubahan perilaku harus dilakukan.
Dengan adanya reaksi obat yang mampu memberikan rasa nyaman serta membantu menghilangkan stress maka hal ini menyebabkan banyak pula ibu-ibu hamil menjadi pecandu obat-obatan untuk menangani perubahn-perubahan yang terjadi pada dirinya terutama mengenai keadaan psikisnya.
Ketergantungan terhadap obat-obatan ( opiat ) pada penelitian terhadap 12 ibu hamil menurut Green dan Gossop ( 1988 ) mengakibtkan 1 lahir mati, 1 kematian neonatal, 7 perlu perawatan special care baby unit ( SCBU ) dan 3 membutuhkan pengobatan medis.
Pecandu yang hamil, akan mencemari janinnya dengan obat-obatan yang ia gunakan.Pecandu yang hamil seringkali tidak mengakui pada dokter atau perawatnya bahwa ia menggunakan alkohol dan obat-obatan.
Janin tersebut bisa mengalami ketergantungan secara fisik.Segera setelah lahir, bayi tersebut dapat mengalami gejala putus obat yang berat atau bahkan fatal, terutama jika dokter dan para perawat tidak mengetahui bahwa ibunya seorang pecandu.
Bayi yang selamat dari gejala putus obat bisa mendapat banyak masalah lainnya.

B. PERSALINAN

1. KEGELISAAN DAN KETAKUTAN MENJELANG KELAHIRAN BAYI

Pada setiap wanita, baik yang bahagia maupun yang tidak bahagia, apabila dirinya hamil pasti akan dihinggapi campuran perasaan , yaitu : rasa kuat dan berani menanggung segala cobaan, dan rasa-rasa lemah hati, takut, ngeri, rasa cinta dan benci, keragu-raguan dan kepastian kegelisahan, rasa tenang, bahagia, harapan penuh kegembiraan dan kecemasan, yang semuanya menjadi semakin intensif pada saat mendekati masa kelahiran bayinya. Adapun penyebab dari ketakutan dan kegelisahan tersebut adalah sebagai berikut:
Takut mati
Sekalipun peristiwa kelahiran itu adalah satu fenomena fisiologis yang normal, namun hal tersebut tidak lepas dari resiko-resiko dan bahaya kematian. Bahkan pada proses kelahiran yang normal sekalipun senantiasa pendarahan dan esakitan-kesakitan hebat. Peristiwa inilah yang menimbulkan ketakutan khususnya takut mati, baik kematian diri sendiri maupun anak bayi yang akan dilahirkan. Ini merupakan penyebab pertama.
Pada saat sekarang perasaan takut mati itutidak perlu ada, atau tidak perlu dilebih-lebihkan, berkat adanya metode-metode yan efektif untuk mengatasi berbagai macam bahaya pada proses kelahiran. Dan berikut adanya kemajuan ilmu kebidanan serta pembedahan untuk mengatasi anomali-anomali (kelainan) anatomis.
Trauma kelahiran
Berkaitan dengan perasaan takut mati yang ada wanita pada saat melahirjkan bayinya, adapula ketakutan-lahir (takut dilahirkan di dunia ini ) pada anak bayi, yang kita kenal sebagai “trauma kelairan”. Trauma kelahiran ini berupa ketakutan akan berpisahnya bayi dari rahim ibunya. Yaitu merupakan ketakutan ketaakutan “hipotetis” untuk dilahirkan di dunia, dan takut terpisah dari ibunya.
Ketakutan berpisah ini ada kalanya menghinggapi seorang ibu yang merasa amat takut jika bayinya akan terpisah dengan dirinya. Seolah-olah ibu tersebut menjadi tidak mampu menjamin keselamatan bayinya, setelah bayi tersebut ada di luar rahimnya. Trauma genital tadi tampak dalam bentuk ketakutan untuk melahirkan bayinya.
Analog dengan ketakutan semacam ini adalah bentuk gangguan seksual yang neurotis sifatnya, yaitu ; ketakutan kehilangan spermanya pada diri laki-laki ; atau ketakutan berpisah dengan sperma sendiri, karena ia terlalu “kikir” dan selalu mau berhemat, yang disebut sebagai gejala ejaculation tarda. Kaum pria yang menderita ejaculation tarda pada umumnya dihinggapi ketakut-takutan obsesif untuk membuang atau menghamburkan spermanya dimana-mana pun. Juga takut memboroskan setiap barang miliknya. Termasuk membuang atau kehilangan spermanya.
Perasaan bersalah/berdosa
Sebab lain yang menimbulkan ketakutan akan kematian pada proses melahirkan bayinya adalah perasaan bersalah atau berdosa terhadap ibunya.
Pada setiap fase perkembangan menuju pada feminitas sejati, yaitu sejak masa kanak-kanak, masa gadis cilik, periode pubertas sampai pada usia adolesensi, selalu ssaja gadis yang bersangkutan diliputi emosi-emosi cinta-kasih pada ibu yang kadangkala juga diiringi rasa kebencian, iri hati dan dendam, bahkan juga disertai keinginan untuk membunuh adik-adik atau saudara sekandungnya yang dianggap aebagai sainganya. Peristiwa “ingin membunuh” itu kelak kemudian hari diubah menjadi hasrat untuk “memusnahkan” janin atau bayinya sendiri sehingga berlangsung keguguran kandungannya.
Dalam semua aktivitas reproduksinya, wanita itu banyak melakukan identifikasi terhadap ibunya. Jika identifikasi ini menjadi salah bentuk, dan wanita tadi banyak mengembangkan mekanisme rasa bersalah dan rasa berdosa terhadap ibunya, maka peristiwa tadi membuat dirrinya menjadi tidak mampu berfungsi sebagai ibu yang bahaggia sebab selalu saja ia dibebani atau dikejar-kejar oleh rasa berdosa.
Perasaan berdosa terhadap ibu ini erat hubungannya dengan ketakutan akan mati pada saat wanita tersebut melahirkan bayinya. Olek karena itu kita jumpai adapt kebiasaan sejak zaman dahulu sampai masa sekarang yakni lebih suka dan merasa lebih mantap kala ibunya (nenek sang bayi) menunggui dikala ia melahirkan bayinya. Maka menjadi sangat pentinglah kehadiran ibu tersebut pada saat anaknya melahirkan bayinya.
Ketakutan rill
Pada setiap wanita hamil, ketakutan untuk melahirkan bayinya itu diperkuat oleh sebab-sebab konkret lainnya. Misalnya;
a. Takut jika bayinya akan lahir cacat, atau lahir dengan kondisi yang patologis
b. Takut kalau bayinya akan bernasib buruk disebabkan oleh dosa-dosa ibu itu sendiri dimasa silam
c. Takut kalau beban hidupnya akan menjadi semakin berat oleh lahirnya sang bayi
d. Munculnya elemen ketakutan yang sangat mendalam dan tidak disadari kalau ia akan dipasahkan dari bayinya
e. Takut kehilangan bayinya yang sering muncul sejak masa kehamilan sampai waktu melahirkan bayinya. Ketakutan ini bisa diperkuat oleh rasa berdosa atau bersalah.

Ketakutan mati yang sangat mendalam dikala melahirkan bayinya itu disebut kkekuatan primer biasanya dibarengi ketakutan superficial (buatan) lainnya yang berkaitan dengan kesulitan hidup. Ketakutan jenis kedua yaitu yang disebabkan oleh ketakutan-ketakutan hidup, disebut sebagai ketakutan sekunder.
Ketakutan primer dari wanita hamil itu biasanya menjadi semakin intensif, jika ibunya, suaminya dan semua orang yang bersimpati pada dirinya ikut-ikutan panik atau resah memikirkan nasib keadaannya. Oleh karena itu, sikap menghibur dan melindungi dari suami dan ibnya itu sangat besar artinya, karena basa memberikan support morilpada setiap konflik batin, keresahan hati dan ketakutan, baik yang sifatnya riil maupun yang irriil.
Segala macam ketakutan tadi menyebabkan timbulnya rasa pesimistis, dan beriklimkan “Hawa Kematian”. Namun dibalik semua keetakutan tersebut selalu saja terselip harapan-harapan yang menyenangkan untuk bisa dengan segera menimang dan membelai bayi kesayangan yang bakal lahir. Harapan ini menimbulkan rasa optimistis, dan beriklimkan “Hawa Kehidupan”, spirit dan gaya hidup. Perasaan positif ini biasanya dilandassi oleh pengetahuan intelektual, bahwa sebenarnya memang tidak ada bahaya-bahaya riil pada masa kehamilan dan saat melahirkan bayinya. Dan bahwa dirinya pasti selamat hidup (survive), sekalipun melalui banyak kesakitan daan dera-derita lahir dan batin. Karena itu pada calon ibu muda perlu ditempakan kesiapan mental menghadapi tugas menjadi hamil dan melahirkan bayinya tanpa konflik batin serius dan rasa ketakutan.
Banyak wanita dan anak gadis pada usia jauh ebelum saat kedewasaannya dihinggapi rasa takut mati, kalau nantinya dia melahirkan bayi. Akibatnya, fungsi dari keibuannya menjadi korban dari ketakutan-katakutan yang tidak disadari. Mereka kemudian menghindari perkawinan atau menghindari memmpunyai anak. Ada pula yang menghindari fungsi keibuannya dengan jalan melaukan sterilitas atau melakukan abortus.

Wanita lain membiarkan rasa ketakutan itu terus subur berkembamg lalu membayangkan setiap kehamilan dan kelahiran sebagai unsur kesakitan, penderitaan dan terror terhadap diri sendiri. Maka untuk menghindari semua derita ini diperlukan pengorbanan sebesar-besarnya demi kelahiran bayinya. Hanya sedikit saja jumlah wanita yang menganggap kehamilan dan kelahiran seperti proses biologis yang wajar dan sederhana, sehingga mereka bisa mengatasi rasa takut mati dengan jalan mengembangkan mekanisme peengharapan yang mengasyikkan sambil menunggu kelahiran bayi.
Proses “pembelahan” dalam psike ibu sifatnya temporer dan berlangsung secara wajar. Namun ada kalanya sifanya jadi abnormal, sehingga menimbulkan beberapa komplikasi. Proses yang wajar yakni timbul kkeinginan dan emosi yang semakin kuat, agar “si pengacau” dalam perut yang menyebabkan dirinya tidak enak makan, tidur, berdiri itu cepat-cepat keluar dan keinginan tersebut akan memperlancar serta memberikan banyak fasilitas pada proses kelahiran bayinya secara normal.
Jika “proses pembelahan” dalam psike ibu tersebut berlangsung secara tidak wajar, maka peristiwanya berproses sebagai berikut;
a. Emosi “pembelahan” itu sangat ekstrim kuat
b. Hal ini ditambah dengan perasaan ketakutan melahirkan, dan takut menjelang hari esok serta kejadian yang belum pasti. Ketakutan yang tidak disadari ini justru malah menjadi penolak bagi proses fisiologis yang wajar
c. Ketakutan tersebut lalu menimbulkan aksi-aksi konkret, yang mengubah kesakitan-kesakitan pendahuluan yaitu ketidaknyamanan badan dan kesakitan badan pada minggu terakhir masa kehamilannya.
d. Maka ketakutan untuk terpisah dengann bayinya serta ketakutan akan kelahiran bayi itu secara paradoksal justru mengakibatkan kelahiran premature. Dengan kata lain, rasa ketakutan untuk melahirkan yang berlebih-lebihan sifatnya, bisa bisa menimbuulkan bahaya konkret berupa kelahiran premature.
Pada beberapa wanita, kegelisahan dan ketidaknyamanan fisik pada minggu-minggu terakhir masa kehamilannya itu diampilkan dengan semakin meningkatnya segala aktivitas. Senantiasa dirangsang oleh dorongan-dorongan batin tertentu untuk untuk berbuat dan melakukan kegiatan khususnya dimaksudkan untuk melupakan keresahan hatinya. Sekalipun wanta tersebut tidak dihinnggapi rasa takut dan cemas, namun tetap saja ia merasa gelisah akan hal-hal yang belum menentu atau tidak pasti. Kegelisahan tadi menyebabkan wanita tersebut merasakan kontraksi pada rahimnya yang amat keras. Selanjutnya, gangguan-gangguan psikis yang subjektif pada saat minggu terakhir masa kehamilan itu bisa memberikan banyak pengaruh kepada proses kehamilan lainnya di masa-masa yang akan datang (hamil anak kedua, ketiga dan seterusnya.
2. Gangguan Bounding Attachment
Masa Bayi merupakan masa awal dalam kehidupan manusia. Perkembangan pada masa bayi sangat mempengaruhi dasar dari perilaku individu selanjutnya.Salah satu perkembangan yang dialami individu adalah perkembangan sosio-emosi. Hal tersebut muncul seiring dengan berjalannya waktu dan pengalaman-pengalaman yang dialami oleh individu.
Dalam perkembangan sosio-emosi, khususnya pada masa bayi, memiliki hubungan dengan perihal keterikatan (attachment), peran ayah sebagai pengasuh anak, tempat pengasuhan anak (day care), dan emosi
• Attachment
Keterikatan (attachment) merupakan suatu ikatan emosional yang kuat antara bayi dan pengasuhnya. Terdapat beberapa pendapat mengenai attachment, yakni sebagai berikut :
Menurut Freud, bayi akan makin dekat dengan orang atau barang yang memberikan kepuasan oral pada bayi. Namun, hal ini dibantah oleh Harlow dan Zimmerman (1959) yang melakukan penelitian menggunakan bayi monyet serta para ‘ibu’ dari kawat dan handuk. Dalam penelitian tersebut, menunjukan bahwa bayi monyet cenderung ‘terikat’ dengan ‘ibu handuk’ yang memberinya kenyamanan daripada dengan ‘ibu kawat’ yang memberinya makanan. Secara tak langsung, penelitian ini menyebutkan bahwa elemen penting dalam proses keterikatan bukanlah memberi makan, melainkan kenyamanan kontak.
Konrad Lorenz pun mengeluarkan pendapat (1965) bahwa periode awal kelahiran hingga batas waktu tertentu merupakan saat-saat terjalinnya keakraban dan keteringkatan yang sangat penting pada bayi (pada bayi angsa adalah 36 jam pertama, sedangkan pada manusia adalah setahun pertama).
Erik H. Erikson pun mendukung pernyataan Lorenz (1968) bahwa tahun pertama kehidupan manusia ialah kerangka waktu kunci bagi perkembangan keterikatan, karena pada masa itu, manusia mengembangkan tahap Trust vs Mistrust. Erikson pun yakin bahwa orang tua yang tanggap dapat membangun Trust pada bayinya.
Penekanan pentingnya keterikatan pada tahun pertama kehidupan dan juga pentingnya sikap tanggap orang tua yang mengasuh bayinya juga dijabarkan oleh psikiater Inggris, John Bowlby (1969,1989). Bowlby meyakini adanya keterikatan secara naluriah antara ibu dan bayinya. Sang bayi pun melakukan usaha-usaha untuk mempertahankan kedekatannya dengan sang ibunda.
Menurut Stayton (1973), para ibu yang menunjukan ‘keterikatan yang tidak aman’ cenderung bereaksi menurut keinginan pribadi, bukan karena isyarat dari sang bayi. Para ibu itu akan memeluk bayi yang menangis bila mereka ingin memeluk bayi itu, tapi akan mengabaikan tangisan bayi di waktu lain. Ibu yang kurang responsif, seperti itu, selama tahun pertama akan mengembangkan keterikatan yang tidak aman antara dia dan bayinya.
Clarke dan Stewart (1973) pun mendukung pendapat Stayton. Menurut mereka, para ibu yang memiliki ikatan aman dengan bayinya, lebih bersifat responsif terhadap kebutuhan sang bayi, memberi stimulus sosial yang lebih banyak dengan mengajak sang bayi bercakap-cakap atau bermain bersama. Dan para ibu tersebut pun mengungkapkan rasa sayang dengan lebih baik.
Mary Ainsworth (1979) yang juga sepaham dengan Stayton mengajukan tiga tipe keterikatan utama, yaitu tipe A (cemas-menghindar atau anxious-avoidant), tipe B (keterikatan aman), dan tipe C (cemas-menolak atau anxious-resistant).
Adapun keterikatan yang terjadi setelah kontak dini secara langsung orang tua dan bayi setelah proses persalinan, yang lebih dikenal dengan istilah Bounding Attachment.
Menurut Brazelton (1978), bounding merupakan suatu ketertarikan mutualisme pertama antar individu, misalnya antara orang tua dan anak, saat pertama kali mereka bertemu. Attachment adalah suatu perasaan menyayangi atau loyalitas yang mengikat individu dengan individu lain.
Sedangkan menurut Nelson & May (1996), attachment merupakan ikatan antara individu meliputi pencurahan perhatian serta adanya hubungan emosi dan fisik yang akrab.
Menurut Klaus, Kenell (1992), bounding attachment bersifat unik, spesifik, dan bertahan lama. Mereka juga menambahkan bahwa ikatan orangtua terhadap anaknya dapat terus berlanjut bahkan selamanya walau dipisah oleh jarak dan waktu dan tanda-tanda keberadaan secara fisik tidak terlihat. Bagian penting dari ikatan ini ialah perkenalan.
Menurut Saxton & Pelikan (1996), bounding adalah suatu langkah untuk mengunkapkan perasaan afeksi (kasih sayang) oleh ibu kepada bayinya segera setelah lahir. Sedangkan, attachment adalah interaksi antara ibu dan bayi secara spesifik sepanjang waktu.
Pra kondisi, sebelum membentuk bounding attachment, yang mempengaruhi sebuah ikatan oleh Mercer (1996), yaitu :
1. Kesehatan emosional orang tua.
2. Sistem dukungan sosial yang meliputi pasangan hidup, teman, dan keluarga.
3. Suatu tingkat keterampilan dalam berkomunikasi dan dalam memberi asuhan yang kompeten.
4. Kedekatan orang tua dengan bayi.
5. Kecocokan orang tua—bayi (termasuk keadaan, temperamen, dan jenis kelamin).
Tahap-Tahap pada Bounding Attachment :
1. Perkenalan (acquaintance), dengan melakukan kontak mata, menyentuh, berbicara, dan mengamati sang bayi segera setelah persalinan.
2. Bounding (keterikatan).
3. Attachment, perasaan sayang yang mengikat individu dengan individu lain.
Elemen-Elemen yang terdapat dalam Bounding Attachment :
1. Sentuhan
Sentuhan, atau indera peraba, dipakai secara ekstensif oleh orang tua dan pengasuh lain sebagai sarana untuk mengenali bayi yang baru lahir dengan cara mengeksplorasi tubuh bayi dengan ujung jarinya. Penelitian telah menemukan suatu pola sentuhan yang hampir sama yakni pengasuh memulai eksplorasi jari tangan ke bagian kepala dan tungkai kaki. Tidak lama kemudian pengasuh memakai telapak tangannya untuk mengelus badan bayi & akhirnya memeluk dengan tangannya (Rubin, 1963; Klaus, Kennell, 1982, Tulman, 1985). Gerakan ini dipakai untuk menenangkan bayi.
2. Kontak mata
Ketika bayi baru lahir, dia telah mampu secara fungsional mempertahankan kontak mata. Orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Beberapa ibu mengatakan, dengan melakukan kontak mata mereka merasa lebih dekat dengan bayinya (Klaus, Kennell, 1982).

3. Suara
Saling mendengar dan merespon suara antara orang tua dan sang bayi juga penting. Orang tua menunggu tangisan pertama bayinya dengan tegang. Sedangkan bayi akan menjadi tenang dan berpaling ke arah orang tua mereka saat orang tua mereka berbicara dengan suara bernada tinggi yang bahagia.
4. Aroma
Perilaku lain yang terjalin antara orang tua dan bayi ialah respon terhadap bau tubuh masing-masing. Para ibu mengetahui bahwa setiap anak memiliki aroma yang unik (Porter, Cernoch, Perry, 1983). Sedangkan bayi belajar dengan cepat untuk membedakan aroma susu ibunya (stainto, 1985).
5. Hiburan
Bayi yang baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan nada pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyang tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki, seakan sedang menari mengikuti nada suara orang tuanya. Saat anak mulai berbicara, akan muncul kesenangan tersendiri sehingga orang tua akan merasa terhibur dengan irama yang muncul saat sang anak mengeluarkan kata-kata. Irama ini berfungsi memberi umpan balik positif kepada orang tua dan menegakkan suatu pola komunikasi efektif yang positif.
6. Bioritme
Anak yang belum lahir atau baru lahir dapat dikatakan senada dengan ritme alamiah ibunya. Untuk itu, salah satu tugas bayi baru lahir ialah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu ketika bayi mulai mengembangkan perilaku yang responsif. Hal ini dapat meningkatkan interaksi sosial dan kesempatan bayi untuk belajar.
7. Kontak dini
Saat ini, belum ada bukti nyata yang menunjukkan bahwa kontak dini setelah lahir merupakan hal yang penting untuk hubungan orang tua—anak. Namun menurut Klaus, Kennel (1982), ada beberapa keuntungan fisiologis yang dapat diperoleh dari kontak dini, di antaranya :
• Kadar oksitosin dan prolaktin dalam tubuh ibu meningkat.
• Reflek menghisap pada bayi dilakukan dini.
• Pembentukkan kekebalan aktif pada bayi dimulai.
• Mempercepat proses ikatan antara orang tua dan anak.
8. Body warmth (kehangatan tubuh)
9. Waktu pemberian kasih sayang
10. Stimulasi hormonal

Dampak positif yang dapat diperoleh dari bounding attachment :
1. Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap social
2. Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi
Hambatan yang terjadi dalam Bounding Attachment :
1. Kurangnya support system
2. Ibu dengan resiko
3. Bayi dengan resiko
4. Kehadiran bayi yang tidak diinginkan

Ψ Pengasuhan oleh Ayah
Pengamatan yang diadakan Parke dan Sawin (1980) menunjukan bahwa seorang ayah mampu untuk bertindak responsif terhadap bayinya. Seorang laki-laki dewasa secara kompeten dapat mengasuh bayi dengan aktif, berinteraksi dengan baik, dan juga sabar.
Berbeda dari interaksi bayi dengan ibu yang biasanya berada dalam lingkup pengasuhan (mengganti popok dan memberi makan), interaksi bayi dengan ayah cenderung berada dalam lingkup aktivitas permainan fisik (melambungkan bayi dan menggelitik). Michael Lamb mengadakan investigasi (1977) yang membuktikan bahwa bayi, terutama yang sedang dalam keadaan stres, cenderung memperlihatkan keterikatan yang kuat dengan ibu mereka.
Ψ Day Care
Day Care atau tempat pengasuhan anak, merupakan sebuah tempat dimana bayi dan balita diasuh sementara di sebuah tempat manakala kedua orang tuanya bekerja atau tidak bisa mengasuhnya sendiri. Banyak pro—kontra atas kehadiran Day Care yang berfungsi untuk mengasuh anak sementara waktu.
Menurut Jay Belsky (1989), pada umumnya Day Care itu berkualitas buruk dan memberikan perkembangan negatif pada anak, seperti yang sering terjadi pada anak Amerika Serikat yang memiliki pengalaman yang ekstensif selama setahun pertama kehidupannya yang menunjukan adanya keterikatan yang tidak aman, meningkatnya agresi, ketidakpatuhan, dan kemungkinan penarikan diri secara sosial ketika sang anak memasuki usia pra sekolah dan awal masa sekolah.
Kesimpulan kontroversional dari Belsky menarik para peneliti lainnya seperti Andersson (1992), serta Broberg, Hwang, dan Chase (1993) untuk menetang pendapatnya yang menganggap Day Care akan berdampak buruk pada anak. Meski begitu, Belsky tetap didukung oleh studi yang dilakukan oleh Vandell dan Corasaniti (1988).
Karena adanya beragam pro—kontra yang terjadi, maka Jerome Kagan, Kearsley, dan Zelazo (1978) mengadakan program percontohan yaitu dengan membangun sebuah Day Care yang terdiri dari seorang dokter anak, seorang direktur pengelola, dan disertai setiap pengasuh yang maksimal menjaga tiga bayi, tak ketinggalan pula ada beberapa asisten pengasuh.
Edward Zigler (1987) pun memberi solusi yang berisi tentang sekolah yang bukan sekedar sebuah lembaga, melainkan tempat dimana terjadi kegiatan belajar-mengajar dan juga menjadi tempat pengasuhan dan pengawasan anak yang kompeten.
Ψ Emosi
Emosi adalah perasaan atau afeksi yang melibatkan gejolak fisiologis dan perilaku yang tampak sekaligus. Emosi pun diklasifikasi menjadi dua yaitu, afektifitas positif (antusiasme, kegembiraan, kesabaran, dan ketenangan) dan afektifitas negatif (kecemasan, kemarahan, rasa bersalah, dan kesedihan). Sedangkan, yang dinamakan dengan emosionalitas pada perangai bayi adalah kecenderungan untuk mengalami kesulitan (distressed).
Dalam perkembangan anak, emosi memiliki peranan-peranan tertentu, seperti, media untuk penyesuaian diri dan mempertahankan kelangsungan hidup (adaptation&survival). Emosi pun memiliki fungsi sebagai media pengaturan diri (regulation). Dan juga berfungsi sebagai media komunikasi.
Gejala awal perilaku emosional adalah keterangsangan umum terhadap stimulus yang kuat. Keterangsangan berlebih-lebihan tampak dalam aktivitas yang banyak pada bayi yang baru lahir. Meski begitu, reaksi emosional pada bayi yang masih dalam periode neo natal, kurang spesifik, karena hanya menampakan reaksi terhadap kesenangan dan ketidak senangan. Seiring pertambahan usianya, ekspresi emosional bayi sekitar satu tahun, telah menyerupai ekspresi yang ditampakkan oleh orang dewasa.
Biasanya, emosi pada bayi hanya ditunjukkan dengan menangis dan tersenyum, karena kedua hal itu adalah mekanisme yang terpenting untuk mengembangkan komunikasi bayi tersebut.
Menurut Wasz-Hockert dan kawan-kawan (1968), bayi memiliki tiga jenis tangisan yaitu tangisan dasar atau basic cry (ketika menunjukan rasa lapar), tangisan marah atau anger cry (variasi basic cry yang menunjukan kegusaran), dan tangisan sakit atau pain cry (tangisan merintih yang butuh upaya menarik nafas cukup lama dan menunjukan rasa sakit).
Menurut Emde, Gaensbauer, dan Harmon (1976), bayi memiliki dua tipe senyuman yaitu senyum refleksi atau reflexive smile (bukan karena rangsang luar) dan senyum sosial atau social smile (respon atas stimulus).
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan sosio-emosi pada bayi menjadi hal penting yang banyak diteliti. Karena beragam hal yang dialami pada masa bayi akan membentuk pola perilaku tertentu dengan efek psikologis tertentu. Jadi pokok bahasan yang positif mengenai attachment, pengasuhan oleh ayah, day care, dan perihal emosi dirasa penting untuk mengembangkan rasa percaya pada bayi yang nantinya mendasari kepribadiannya di masa yang akan datang.
C. NIFAS
PostPartumBloes
Melahirkan adalah karunia terbesar bagi wanita dalam hidupnya. Sayangnya tak semua menganggap seperti itu, bahkan ada juga wanita yang mengalami depresi setelah melahirkan. Depresi ini dalam bahasa kedokterannya adalah depresi postpartum atau baby blues.
Jadi Post Partum Blues merupakan problem psikis sesudah melahirkan seperti kemunculan kesedihan, kemurungan atau kecemasan, labilitas perasaan dan depresi pada ibu. Biasanya terjadi secara teori terjadi sejak kelahiran bayi atau mulai minggu ke-4 dan biasanya hanya terjadi selama 2 hari hingga 4 minggu. Adapun tanda dan gejalanya adalah :
 Cemas tanpa sebab
 Menangis
 Tidak sabar
 Tidak percaya diri
 Sensitif
 Mudah tersinggungMerasa kurang menyayangi bayinya
Faktor yang menyebabkan terjadinya post partum blues bisa terjadi dari dalam dan luar individu,, misalnya karena si Ibu belum siap menghadapi persalinan,, atau adanya perubahan hormon, payudara membengkak dan menyebabkan rasa sakit atau jahitan yang belum sembuh semua bisa menjadi faktor terjadinya POst Partum Blues.
Cara mengatasinya adalah, dengan mempersiapkan persalinan dengan lebih baik maksudnya disini, tidak hanya materi tapi yang lebih penting dari segi psikologi dan mental si ibu. Agar Ibu dapat mengatur dan beradaptasi terhadap setiap perubahan yang ada didalam dirinya maupun diluar dirinya, mulai saat kehamilan, proses persalinan dan setelah persalinan. Selain itu perhatian-suport dari suami, teman terdekat dan keluarga sangat dibutuhkan bisa juga diberikan antidepressant yang diijinkan untuk Ibu menyusui, namun yang penting dukungan dan perhatian yang extra.
Berikut ini salah satu kiat yang mungkin dapat mengurangi resiko postpartum pada Anda:
pelajari diri sendiri
Pelajari dan mencari informasi mengenai depresi postpartum, sehingga dapat sadar terhadap kondisi ini. Apabila terjadi, maka kemungkinan akan segera mendapatkan bantuan secepatnya.
Ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu
Dengan adanya rasa ikhlas dan tulus dalam mengemban tugas menjadi seorang ibu dari bayi yang dilahirkannya, maka mampu mengusik hal-hal yang dapat mempengaruhi jiwa sehingga mampu menerima dan menyayangi bayinya dengan sepenuh hati.
Tidur dan makan yang cukup
Diet nutrisi cukup penting untuk kesehatan, lakukan usaha yang terbaik dengan makan dan tidur yang cukup. Keduanya penting selama periode postpartum dan kehamilan, misalnya tidursaatbayitelahtidur.
Olahraga
Olahraga adalah kunci untuk mengurangi postpartum. Lakukan peregangan selama 15 menit dengan berjalan setiap hari, sehingga membuat merasa lebih baik dan menguasai emosi berlebihandalamdiri.
Hindari perubahan hidup sebelum atau sesudah melahirkan
Jika memungkinkan, hindari membuat keputusan besar seperti membeli rumah atau pindah kerja, sebelum atau setelah melahirkan. Tetaplah hidup secara sederhana dan menghindari stres, sehingga dapat segera dan lebih mudah menyembuhkan postpartum yang diderita.
Beritahukan perasaan Anda
Jangan takut untuk berbicara dan mengekspresikan perasaan yang Anda inginkan dan butuhkan demi kenyamanan Anda sendiri. Jika memiliki masalah dan merasa tidak nyaman terhadap sesuatu, segera beritahukan pada pasangan atau orang terdekat.
Dukungan keluarga dan orang lain diperlukan
Dukungan dari keluarga atau orang yang Anda cintai selama melahirkan, sangat diperlukan. Ceritakan pada pasangan atau orangtua Anda, atau siapa saja yang bersedia menjadi pendengar yang baik. Yakinkan diri Anda, bahwa mereka akan selalu berada di sisi Anda setiap mengalami kesulitan.
Persiapkan diri dengan baik
Persiapan sebelum melahirkan, sangat diperlukan. Ikutlah kelas senam hamil yang sangat membantu,sertabukuatauartikellainnyayangAndaperlukan.
Kelas senam hamil akan sangat membantu Anda dalam mengetahui berbagai informasi yang diperlukan, sehingga nantinya Anda tak akan terkejut setelah keluar dari kamar bersalin. Jika Anda tahu apa yang diinginkan, pengalaman traumatis saat melahirkan akan dapat dihindari.
Lakukan pekerjaan rumah tangga
Pekerjaan rumah tangga sedikitnya dapat membantu Anda melupakan golakan perasaan yang terjadi selama periode postpartum. Kondisi Anda yang belum stabil, bisa Anda curahkan dengan memasak atau membersihkan rumah. Mintalah dukungan dari keluarga dan lingkungan Anda, meski pembantu rumah tangga Anda telah melakukan segalanya.

Dukungan emosional
Dukungan emosi dari lingkungan dan juga keluarga, akan membantu Anda dalam mengatasi rasa frustasi yang menjalar. Ceritakan kepada mereka bagaimana perasaan serta perubahan kehidupan Anda, hingga Anda merasa lebih baik setelahnya.
Dukungan kelompok Depresi Postpartum
Dukungan terbaik datang dari orang-orang yang ikut mengalami dan merasakan hal yang sama.Jadi, sebetulnya ini merupakan hal yang normal dan akan hilang dengan sendirinya sekitar 10-14 hari setelah melahirkan. Jika hal ini dianggap enteng, keadaan ini bisa menjadi serius, dapat mengalami gejala yang lebih berat dan berlangsung lebih lama. Hal inilah yang dinamakan dengan postpartum depression.
Mereka akan mengalami perasaan depresi, kesulitan untuk berkonsentrasi, selera makan yang berubah (bisa lebih banyak atau berkurang sama sekali), jadi susah tidur meskipun si bayi tidur nyenyak, gampang tersinggung, timbul perasaan sedih dan bersalah. Biasanya semua keluhan ini akan terlihat sekitar 3-4 hari setelah melahirkan dan berlangsung sampai sekitar beberapa hari sesudahnya.
Postpartum depression adalah sebuah penyakit, seperti halnya diabetes atau kelainan pada jantung. Ini bisa disembuhkan melalui therapy, lingkungan yang mendukung dan obat-obatan misalnya antidepressant. Postpartum depression adalah sebuah penyakit, seperti halnya diabetes atau kelainan pada jantung. Ini bisa disembuhkan melalui therapy, lingkungan yang mendukung dan obat-obatan misalnya antidepressant.
Gejala-gejala postpartum depression adalah:
 Sering sedih
 Sering menangis
 Gelisah, mudah tersinggung dan panik
 Kurang menikmati hidup
 Kehilangan selera makan
 Jadi tidak bertenaga dan malas melakukan berbagai hal
 Difficulty sleeping, termasuk susah tidur, gampang terbangun dari tidur atau tidur lebih banyak dari biasanya
 Merasa tidak berguna, selalu khawatir dan perasaan bersalah yang berlebihan
 Mengalami penurunan atau kenaikan berat badan secara tiba-tiba
 Merasa bahwa hidup tidak ada gunanya
 Tidak terlalu bahagia dengan kehadiran si bayi
Meskipun ada sebagian wanita yang langsung merasa tertekan setelah melahirkan, ada juga yang baru akan merasakannya setelah beberapa minggu atau bulan kemudian. Perasaan depresi yang terjadi setelah 6 bulan setelah melahirkan kemungkinan besar adalah merupakan suatu postpartum depression.
Tidak jarang, ada beberapa kasus yang mengarah kepada postpartum psikosis. Ini adalah suatu penyakit yang serius karena semua gejala postpartum depression akan timbul dan tidak jarang akan berakhir dengan menyakiti diri sendiri dan bahkan sampai membahayakan nyawa sang bayi. Jadi jika Anda mempunyai salah satu gejala yang sudah disebutkan di atas, you should talk with your doctor immediately! Postpartum depression bisa terjadi jika seseorang pernah mengalami hal-hal dibawah ini:
• Previous postpartum depression
• Depressi yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan
• Premenstrual syndrome (PMS) yang berat
• Hubungan pernikahan yang tidak harmonis
• Tidak mempunyai sanak saudara atau teman yang bisa diajak curhat
• Kehidupan yang sulit selama kehamilan atau sesudah melahirkan (misalnya mengalami penyakit berat selama kehamilan, bayi premature atau proses kelahiran yang complicated)
Penyebab yang pasti tidak diketahui. Yang jelas, perubahan hormon akan terjadi selama kehamilan dan setelah melahirkan. Perubahan hormon tersebut kemungkinan besar akan memproduksi suatu senyawa kimia di dalam otak yang akhirnya akan menyebabkan depresi.
Adapun waktu berlangsungnya terjadi postpartum depression semuanya tergantung pada masing-masing individu. Ada sebagian wanita yang feel better dalam beberapa minggu, tapi ada juga yang mengalaminya sampai berbulan-bulan. Wanita yang mempunyai gejala yang lebih berat atau pernah mengalami depresi sebelumnya akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pulih. Pengobatan postpartum depression hampir mirip dengan pengobatan yang dilakukan terhadap kasus-kasus depresi pada umumnya. Support, konseling (talk therapy) dan obat-obatan akan membantu.
Dibawah ini ada beberapa tips yang mungkin bisa membantu seseorang melewati postpartum depression:
• Cari teman atau saudara yang bisa diajak curhat
• Cari orang yang bisa membantu Anda untuk merawat bayi atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Hal ini akan membantu Anda untuk bisa beristirahat.
• Luangkan waktu untuk melakukan sesuatu bagi diri Anda sendiri, meskipun itu hanya berlangsung selama 15-20 menit/hari. Misalnya baca buku, jalan-jalan sekitar kompleks perumahan, mandi spa atau memanjakan diri di salon.
• Keep a diary. Setiap hari, luapkan emosi dan perasaan Anda. Ini adalah salah satu cara untuk mengeluarkan semua perasaan dan rasa frustasi
. Jujurlah pada diri Anda sendiri seberapa banyak yang bisa Anda lakukan dan jangan pernah ragu untuk minta bantuan kepada orang lain saat Anda membutuhkannya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar